× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Jangan Biarkan Virus Corona Menunda Aksi Mencegah Perubahan Iklim!

By Redaksi
Ilustrasi Perubahan Iklim. Foto : youmatter.world

Pemerintah di dunia jangan pernah membiarkan pandemi virus corona alasan untuk menunda aksi terhadap perubahan iklim.  Hal ini dikatakan Laurence Tubiana, Rabu (18/3/2020) pekan lalu. Tubiana seorang diplomat asal Perancis, merupakan salah satu pemrakarsa perjanjian Paris Agreement pada pertemuan tingkat tinggi iklim, 12 Desember 2015 di Paris, Perancis.

Seperti disampaikan reuters.com, Paris Agreeement merupakan kesepakatan para pemimpin dunia untuk serius menanggulangi bahaya perubahan iklim.  Tubiana merasa khawatir, jika pandemi corona bisa melupakan aksi global terhadap ancaman lingkungan akibat pemanasan global.

“Ada kesamaan yang bisa menjadi pelajaran: serangan virus tidak mengenal batas negara, (dampak) perubahan iklim pun demikian,” tegas Tubiana yang terus menyuarakan pentingnya kepedulian semua pihak atas ancaman lingkungan ini. “Jika kita tak menaruh perhatian dan aksi serius terhadap perubahan iklim, dampak yang muncul sama bahaya (dengan wabah corona),” tambahnya.  

Tubiana berbicara di tengah kekhawatiran terjadinya bencana ekonomi akibat virus corona mendorong pemerintah dunia melambatkan upaya mereduksi emisi karbon. Pengurangan emisi karbon dibutuhkan agar sistem iklim yang terganggu kembali menjadi stabil.

Seorang pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, pihaknya masih berupaya untuk menggelar pertemuan soal iklim di Glasgow Skotlandia, November nanti.

“Saya pikir terlalu awal kalau memutuskan menunda pertemuan tersebut,”kata seorang juru bicara United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) PBB.  

Hampir 200 negara berjanji untuk mengendalikan/mengurangi kadar emisi karbon negaranya di bawah persetujuan Paris. Dalam merealisasikannya, mereka perlu memperkuat rencana dan aksi untuk meredam peningkatan suhu yang pada akhirnya bumi menjadi tak layak huni.  

“Krisis iklim belum berlalu,” jelas Tubiana. Tubiana yang juga Kepala Yayasan Perubahan Iklim Eropa (European Climate Foundation), menambahkan, kasus wabah virus corona mengajari kita bahwa ternyata sistem internasional begitu rentan, jika terjadi situasi bahaya global yang meluas.   

Tubian yang juga penggiat kampanye iklim, mendukung pertemuan iklim tingkat tinggi Uni Eropa (UE) – China yang sedianya berlangsung di Jerman pada September. Ia menekankan pentingnya korrdinasi antara semua pihak untuk aksi penurunan emisi.  

Persiapan pertemuan pendahuluan UE- China yang awalnya direncanakan di Beijing akhir Maret ini ditunda, mengingat masih terjadi pandemi virus corona secara global.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]