× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Jamie Oliver dan Wirausaha Sosial

By Redaksi

Nama lengkapnya James Trevor Oliver, lebih dikenal dengan Jamie Oliver. Jamie lahir dan dibesarkan oleh keluarga pemilik restoran The Cricketter. Tak heran kalau sedari kecil ia telah familiar dengan urusan memasak, bahkan menjadikannya sebagai cita-cita: menjadi chef handal.

Perjalanan hidup Jamie tak mulus, meski ia berangkat dari keluarga yang sejahtera dan sangat mendukung pilihan karirnya. Jamie kecil adalah penderita disleksia. Ia berjuang untuk tabah menghadapi cemoohan teman-teman sebayanya, dan sebaliknya memicu diri lebih semangat untuk mewujudkan cita-citanya. Ia berhasil melewati masa sekolahnya lalu melanjutkan pendidikan bidang kuliner di Westminster Catering College yang kini berubah nama menjadi Westminster Kingsway College. Di sisi lain, tumbuh empati Jamie terhadap orang-orang yang kurang beruntung seperti dirinya dan orang lain yang memiliki aneka keterbatasan. Dari situlah jiwa wirausaha sosial Jamie tumbuh. Ia ingin memberdayakan para pemuda marginal melalui usaha kuliner.

adalah seorang wirausaha sosial sekaligus celebrity chef, youtuber, dan pengusaha restoran terkenal yang dilahirkan di Desa Clavering wilayah barat laut Essex, Inggris, pada tanggal 27 Mei 1975.

Keinginan Jamie untuk berwirausaha sosial bidang kuliner sesungguhnya sudah muncul sejak tahun 1990. Namun betul-betul terealisasi satu dekade berikutnya. Awalnya Jamie hanya membuka bisnis kuliner dan terjun ke dunia hiburan yang berelasi dengan dunia kuliner. Ia berhasil menjadi entertainer yang sukses. Pada tahun 2002, barulah Jamie mewujudkan ide wirausaha sosialnya sebagai ungkapan trimakasihnya kepada masyarakat. Pria kelahiran Clavering, wilayah barat laut Essex, Inggris, pada tanggal 27 Mei 1975 ini membuka restoran bernama Fifteen. Berdiri di Kota London, resto ini lebih menekankan pada keuntungan sosial dibandingkan keuntungan finansial. Dan semua keuntungan resto dikembalikan ke Fifteen Restaurant untuk mendanai program magang.

Jamie membawa program magang Fifteen Restaurant ke sebuah reality show yang ditayangkan melalui Channel 4, Inggris. Para peserta ditantang untuk unjuk kemampuan dan kemotmen untuk berwirausaha. Pemenangnya akan dibantu mendirikan restoran mereka sendiri melalui dana pinjaman yang dari Fifteen Foundation. Program magang di Fifteen Restaurant diawali dengan proses seleksi. Peserta magang dipilih berdasarkan proses seleksi. Mereka adalah para orang muda yang kurang beruntung, dengan usia 18 hingga 25 tahun, dan bersedia mengikuti program magang selama 16 bulan.

Biasanya para peserta ini pengangguran yang tak bisa membiayai hidupnya sendiri. Sebagian di antara mereka memiliki berbagai masalah pribadi seperti korban kekerasan domestik, masalah mental, kecanduan narkoba, dan masalah sosial. Dalam program ini Jamie tak hanya memposisikan diri sebagai pendidik tapi juga sebagai orangtua. Para peserta bukan hanya diajari ilmu memasak, namun juga dibekali program pengembangan kepribadian untuk meningkatkan rasa percaya diri dan dilengkapi sesi psikoterapi dan anger management. Tak sedikit peserta yang gugur, tak sanggup melanjutkan program dan mengundurkan diri. Yang tersisa kemudian adalah para peserta yang benar-benar bisa terlepas dari masalah pribadi dan sosialnya, lalu berkarier sebagai chef andal di berbagai restoran.

Visi untuk berwirausaha sosial melalui bidang kuliner sebenarnya telah muncul sejak tahun 1990. Akan tetapi, hal tersebut baru dapat diwujudkannya satu dekade kemudian. Setelah sukses di bisnis kuliner Jamie terkenal sebagai koki dan juga penghibur (entertainer) pada tahun 2002 Jamie mewujudkan ide wirausaha sosialnya sebagai wujud balas jasanya kepada masyarakat. Ia mendirikan sebuah restoran bernama Fifteen di wilayah Westland Place, London. Restoran tersebut dibangun dengan lebih menekankan pada keuntungan sosial (social gain) dibandingkan dengan keuntungan finansial (financial gain). Semua keuntungan dari restoran akan dikembalikan ke Fifteen Restaurant dan digunakan untuk mendanai program magang yang dilaksanakan oleh restoran tersebut.

Pemenang program magang Fifteen Restaurant akan dibantu untuk mendirikan restoran mereka sendiri melalui dana pinjaman yang diperoleh dari Fifteen Foundation. Program magang di Fifteen Restaurant tersebut didokumentasikan ke dalam sebuah reality show yang ditayangkan melalui Channel 4, Inggris. Komitmen sosial Fifteen Restaurant tidak hanya terlihat pada alokasi profit yang diperolehnya, tetapi juga pada proses produksi yang selalu berusaha menghidupkan perekonomian lokal. Menu di Restoran Fifteen terkadang berubah dua kali dalam sehari, bergantung pada ketersediaan bahan mentah di pasar lokal.

Tidak jarang Restoran Fifteen menyediakan menu baru pada sore hari yang dibuat dari sayur atau buah-buahan yang baru dipetik di perkebunan lokal pada pagi harinya. Memastikan makanan yang disajikan dapat memuaskan lidah para pelanggan restoran, sekaligus melaksanakan program magang bagi para pemuda kurang beruntung, tentu tidak mudah. Namun, komitmen untuk memberdayakan para pemuda yang kurang beruntung serta kemauan pemilik dan para trainer di Fifteen Restaurant untuk berlelah-lelah memberikan pendampingan yang berkelanjutan, mampu membawa program magang Fifteen Restaurant meraih keberhasilan.

Para pemuda yang diberdayakan akhirnya memiliki kondisi kehidupan yang jauh lebih baik. Selain itu, sebagai acara televisi program magang Fifteen Restaurant meraih rating yang sangat bagus. Acara tersebut juga disiarkan ke berbagai penjuru dunia dan ditonton oleh lebih dari lima juta orang. Fifteen Restaurant menjadi sangat terkenal dan melejit sebagai restoran yang paling banyak dibicarakan di kota London. Pada tahun 2004 Jamie membuka restoran sejenis di kota Amsterdam. Dua tahun kemudian, ia pun membuka cabang Fifteen Restaurant di kota Cornwall dan Melbourne. Sistem magang dan penggalangan dana yang sama digunakan oleh Jamie Oliver untuk menolong para pemuda yang kurang beruntung agar dapat hidup secara mandiri melalui bisnis kuliner.

Program magang di Fifteen Restaurant diawali dengan proses seleksi. Pemuda kurang beruntung yang akan diberdayakan haruslah berusia 18 hingga 25 tahun dan bersedia mengikuti program magang selama 16 bulan. Para pemuda yang terpilih biasanya benar-benar tidak memiliki pekerjaan sehingga sulit membiayai kehidupan sehari-hari. Mereka juga memiliki berbagai masalah pribadi lainnya seperti kecanduan narkoba, masalah mental, korban kekerasan domestik, dan berbagai masalah sosial. Oleh karena itu, Jamie merasa perannya dalam program magang tersebut tidak hanya sebagai pendidik tetapi  juga sebagai orangtua.

Dalam program magang tersebut, para pemuda diajari ilmu memasak melalui metode on the job training dan college based work. Mereka juga dibina melalui program pengembangan kepribadian untuk meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu, Oliver juga menyelenggarakan sesi psikoterapi dan anger management (mengelola rasa marah). Dengan berbagai masalah sosial yang dimiliki para peserta magang, biasanya sekitar sepertiga dari mereka mengundurkan diri dari program tersebut. Para pemuda yang mengikuti program magang hingga selesai akhirnya benar-benar bisa terlepas dari masalah sosial yang mereka alami dan berhasil berkarier sebagai koki andal di berbagai restoran ternama.

Perubahan sosial yang dilakukan oleh Jamie Oliver tidak berhenti pada pendirian Fifteen Restaurant semata. Pada tahun 2005 Jamie mulai melakukan kampanye formal untuk memperbaiki kualitas makanan yang dikonsumsi oleh para siswa di sekolah-sekolah di Inggris. Kampanye untuk mengonsumsi makanan sehat tersebut diabadikan Jamie melalui acara televisi bertajuk “Jamie’s School Dinners”. Acara ini menunjukkan kepada publik bahwa anak-anak dapat mengonsumsi makanan sehat dan ekonomis, namun tetap dengan rasa yang mereka sukai.

Pada tahun 2008 Jamie meluncurkan kampanye Ministry of Food sekaligus membuka Ministry of Food Centre, tempat anak-anak berusia 12 tahun ke atas belajar memasak dalam lingkungan yang nyaman, menyenangkan, dan suportif. Tempat tersebut juga menawarkan kelas memasak yang mengajarkan cara memasak makanan sehat yang mudah dan murah. Untuk mewujudkan perubahan sosial tersebut, Jamie bekerja sama dengan perusahaan ritel The Good Guys untuk melaksanakan kegiatan di Ministry of Food Centres, serta melalui mobil-mobil Ministry of Food ke berbagai kota di Inggris.

Kampanye mengenai makanan sehat dan bergizi yang dilakukannya berhasil menjadikan isu tersebut sebagai perhatian para politisi Inggris di tingkat nasional. Kampanye tersebut akhirnya membawa perubahan radikal pada sistem penyediaan makanan di sekolah-sekolah di Inggris, bahkan meluas ke negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Australia.

Atas berbagai jasanya, tidak heran jika Jamie Oliver berhasil meraih berbagai penghargaan seperti:

1)  Member of the Most Excellent Order of the British Empire (MBE) atas prestasi dan usahanya untuk memajukan para pemuda yang kurang beruntung. 2)  Honorary Fellowship dari Royal College of General Practicioners.

3)  Healthy Cup Award dari Harvard School of Public Health dan atas usahanya untuk melakukan revolusi kuliner atau food revolution untuk memerangi obesitas pada anak-anak di Inggris dan Amerika.

Bagi Jamie, kuliner bukan sekadar proses mengolah dan menyajikan makanan, melainkan juga merupakan proses peningkatan taraf kehidupan melalui gizi yang baik. Seperti yang ia sering ucapkan, “Nourish, to me, is nourishing food, nourishing your family, nourishing your life.”

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]