× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Jalan Panjang Bangun Dunia Berkelanjutan

By Redaksi

Achim Steiner

Administrator, United Nations Development Programme (UNDP)

“Taman Eden kini sudah punah.” Ucapan keprihatinan ini disuarakan Sir David Attenborough – seorang pewarta Inggris populer dan ahli sejarah alam –  kepada World Economic Forum  Davos 2019. Ucapan ini sebagai penilaiannya terhadap rusaknya rasa kemanusiaan yang berdampak ke lingkungan. Namun, Sir David pun mencatat harapannya, manusia adalah mahluk pencari solusi, dan menegaskan manusia dalam fase menanggulangi bahaya perubahan iklim.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres merefleksikan kekhawatiran ini sebagian bagian masalah dunia. Trend besar seperti perubahan iklim sangat menghubungkan antar pihak, namun responnya sayangnya terpecah-pecah. Guterres mengingatkan situasi ini bukan solusi, tapi “resep yang mengundang bencana”.

Sebagian dari kita harus diingatkan agar tetap mengangkat pentingnya isu perubahan iklim. Yang penting bagaimana hal ini masuk ke dalam topik perbincangan terkait perkembangan keberlanjutan di Davos. Dan perlu soal lain lagi yang harus diperbincangkan mulai ketidaksetaraan, punahnya ragam hayati, menanggulangi dunia otomasi, pemerintahan global, cyber security, sistem pangan, sistem finansial masa depan, dan lain-lain.

Cara Baru Pahami Tujuan Pembangunan Bekelanjutan 

Teknologi dan finansial, adalah dua hal kunci dalam Sustainable Development Goals (SDGs) dalam beberapa hal ke depan. Bahkan teknologi yang selama ini jadi perbincangan adalah potensi kecerdasan buatan, data massif, dan teknologi pengawasan duit digital (cryptocurrency) yang disebut blockchain untuk dunia yang lebih baik. Beragam ide ini mengundang mata dan mulut untuk berdialog. Mulai dari soal perlindungan lapangan udara, infrastruktur dari ancaman kejahatan cyber, lalu mendorong pihak pebisnis menjadi bagian kampanye aksi SDGs dengan memadukannya ke dalam visi dan misi bisnis.

Tentu saja, teknologi yang salah kaprah, bukanlah solusi mencapai SDGs, dan menimbulkan resiko, seperti halnya manfaatnya. Tapi revolusi industri keempat bisa membantu mempercepat kemajuan SDGs. Di Badan PBB untuk Program Pengembangan (UNDP), semua bekerja untuk memastikan ekonomi di dunia berkembang bisa memanfaatkan inovasi untuk menghapus kemiskinan dan mendorong kemakmuran.

Dalam konteks nyata, kami  meluncurkan Accelarator Labs di 60 negara berkembang guna mengidentifikasi dan menghubungkan pihak-pihak berkompeten di seluruh dunia. Mereka bisa menggunakan jaringan lokal atau sumber data berbeda, dari media sosial sampai komunikasi via satelit. Kami mendukung para innovator seperti Dana Lewis, yang mendesain sebuah sistem open source sebagai sarana informasi seputar diabetes Type 1, para pengusaha yang bisa mendesain ladang mengapung untuk mengakali bencana banjir di Bangladesh.

Accelarator Labs ini akan terintegrasi dengan tim dan infrastruktur UNDP di berbagai belahan dunia. Mereka menghubungkan UNDP dengan jaringan global dan para ahli pembangunan tersebar di 170 negara.  Tentunya dengan kapasitas inovasi yang lebih luas, mendukung pembangunan negara mereka masing-masing terkait SDGs.

Innovasi Finansial

Tema keuangan biasanya jarang terlewatkan dalam dialog perwakilan pemerintah dan pemimpin perusahaan. Topik pembicaraan “Inovasi Finansial” biasanya mendominasi pertemuan untuk mendukung kaum migran dan pengungsi dengan memunculkan  istilah initial coin offerings atau memperkenalkan penggalangan dana melalui mata uang digital yang fenomenal, crypto currency.

Kami terus mengeksplorasi cara untuk mengundang pendanaan SDGs. Hal ini sejalan dengan upaya mengidentifikasi perusahaan atau sektor privat agar ekonomi, sosial, serta tata kelola yang sejalan SDG sudah menjadi bagian DNA mereka. Jadi perubahan kecil ini yang bakal mempengaruhi investasi perusahaan, sehingga pada akhirnya kebijakan manajemen perusahaan mereka beraliansi dengan SDGs.

Mengaitkan titik antara teknologi dan finansial, gugus tugas Sekretaris Jenderal PBB dalam digitalisasi finansial untuk SDGs menggelar pertemuan untuk pertama kali. Merujuk pada gugus tugas, dimana saya berdampingan dengan Maria Ramos, seorang CEO dari Absa Group di Afrika Selatan, merekomendasikan untuk memanfaatkan potensi dari teknologi finansial dalam mendukung SDGs.

Kami berdiskusi soal kebutuhan penggunaan digital finansial agar wanita lebih jauh terlibat dalam perekonomian nyata sekaligus mempromosikan inovasi. Tak sekedar itu, diskusi juga mampu menularkan pemikiran SDGs soal “no one is left behind”.  Dalam semangat ini, sungguh mengagumkan   bila melihat bahwa 75 – 80 % dari aplikasi finansial yang dikembangkan di Amerika atau Eropa ternyata tidak dikaitkan dengan unsur kelokalan. Padahal aplikasi finansial ini bisa dilakukan dimanapun. Hal ini menjadi sebuah fakta bahwa finansial digital sudah menciptakan model bisnis baru.

Masa Depan

Pertemuan Davos 2019 menanam benih yang dibutuhkan dari kombinasi pendekatan bisnis, pemerintahan, dan masyarakat sipil yang lebih luas. Semuanya untuk menjawab permasalahan yang sedang dihadapi oleh dunia. UNDP bekerjasama lebih jauh dengan World Economic Forum, untuk lebih memperhatikan bagaimana otomatisasi dan penggerak yang terkait, dapat membentuk kembali rantai nilai global (global value chains).

Amat penting untuk memahami bagaimana perubahan ini berdampak pada negara berkembang. Sejatinya bergantung pada rantai nilai global untuk menopang strategi ekspor yang mendorong pertumbuhan. Melihat ke depan, buah dari kerja sama ini membantu UNDP – sebagai unit PBB – dalam mendukung upaya pemerintah dan sektor bisnis untuk berkembang di tatanan politis dan praktis.

Menjadi seorang partisipan sekaligus pengamat di Davos 2019, saya mendapat pengalaman langsung dari kepemimpinan, ide inovatif, semangat kerja sama, dan semangat murni dari banyaknya isu-isu membangun yang dibawa ke atas meja. Pertemuan tahunan ini membawa perubahan untuk mengkitisi aksi sekaligus berkontribusi secara konkrit pentingnya SDGs.  Hanya tersisa  kurang lebih 12 tahunan untuk mencapai tujuan SDGs tersebut.

(Sumber: https://www.weforum.org)

(Foto: REUTERS/Yannis Behrakis)

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]