× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Ironis, Paus Sperma Mati dengan 100 Kilogram Sampah Plastik di Perut

By Redaksi
Seekor Paus Sperma Mati di Perairan Inggris dengan 100 kg Sampah Plastik di Perut. Foto : Scottish Marine Animal Strandings Scheme

Masifnya sampah plastik di lautan kembali menelan korban. Jaring plastik penangkap ikan, kantong plastik, tali dan gelas plastik, sarung tangan plastik, dan jenis sampah lain ditemukan di dalam perut ikan paus sperma yang mati di perairan Isle of Harris, Skotlandia. Seperti dilansir dari independent.co.uk, volume total sampah plastiknya mencapai 100 kilogram.

Ahli dari kelompok perlindungan hewan Skotlandia yang juga menyelidiki kematian paus ini mengatakan, belum ada bukti jika gumpalan sampah plastik itu menyebabkan sumbatan pada usus paus. Namun, volume sampah yang luar biasa itu dikatakan amat mengerikan dan organ pencernaan paus malang itu berupaya kuat “berkompromi” dengan limbah plastik yang tertelan tersebut.

“Volume plastik dalam perut paus sperma ini memperlihatkan, begitu parahnya sampah yang ada di lautan yang salah satunya berasal dari aktivitas penangkapan ikan (sampah jaring penangkap ikan),” terang pernyataan dari kelompok perlindungan hewan itu.

Gumpalan sampah dari limbah darat dan limbah aktivitas penangkapan ikan dikonsumsi paus sperma di kawasan Norwegia hingga mendekati perairan Portugal karena mengira makanan. Sementara itu jumlah ikan paus yang yang tersebar di kawasan pantai Inggris diketahui meningkat. Pada 2017 saja diperkirakan ada sekitar 1.000 paus dan jenis lumba-lumba, menampakkan diri di perairan tersebut sepanjang tahun.

Di lain pihak, data dari Program Investigasi Paus di Inggris, mengungkap ada 4.896 hewan atau biota laut mati di pantai antara 2011 dan 2017. Jumlah ini meningkat 15 persen dibanding 7 tahun sebelumnya. Pada Jumat (29/11/2019), paus jenis minke ditemukan di Sungai Thames di bawah jembatan Battersea Bridge. Ini merupakan kali kedua seekor paus ditemukan mati dalam 2 bulan terakhir, setelah penemuan bangkai paus bungkuk di area Greenhithe Oktober lalu.

Ancaman Sampah Plastik

Sampah plastik sudah dalam taraf mengancam biota laut secara global, termasuk di wilayah Indonesia. Indonesia bahkan menempati urutan kedua penghasil limbah plastik. Ini belum termasuk masalah impor sampah yang didalamnya mengandung plastik.

Di lain pihak, data World Bank (2018) menyebut 87 kota pesisir di Indonesia turut menyuplai sampah plastik ke laut sebanyak 1,27 juta ton per tahun.  Plastik biasanya sulit terurai dan mengancam biota laut karena mahluk hidup di laut menggangap limbah tersebut sumber makanan. Di pihak lain, jenis plastik yang mudah terurai pun bukan tanpa masalah, karena hasilnya menjadi mikroplastik berukuran 0,3 – 0,5 milimeter yang disinyalir bisa menimbulkan masalah kesehatan bila terserap tubuh. Mikroplastik di laut akan termakan hewan laut yang selanjutnya dikonsumsi oleh manusia.

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia mendapat limpahan sampah plastik dari negara-negara yang sebelumnya mengekspor ke China. Hal itu mengakibatkan volume impor sampah plastik Indonesia pada tahun 2018 mencapai 320 ribu ton atau naik hingga 150% dari tahun sebelumnya (CNBC Indonesia, 29/07/2019). Masih di artikel sama disebutkan, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai pencemar lautan dari limbah plastik yang mencapai 1,29 juta ton per tahun.

Menurut LIPI, konsumsi plastik di Indonesia per kapita sudah mencapai 17 kilogram per tahun dengan pertumbuhan konsumsi mencapai 6-7 persen per tahun. Adanya sampah plastik berujung pada ancaman lain yaitu mikroplastik. Meskipun WHO pernah merilis pernyataan, mikroplastik dalam botol minuman tidak berbahaya bagi manusia. Namun dari bukti di lapangan, berdampak negatif pada sejumlah hewan. Dilaporkan ada hewan laut mengidap tumor karena menelan mikroplastik.

Namun demikian, selain mengurangi konsumsi dan berinovasi produk substitusi plastik, penyempurnaan pengelolaan sampah plastik pun perlu disempurnakan. Alhasil, plastik menjdi sampah yang tak lagi mengancam biota laut ataupun darat karena pemakaian yang bertanggungjawab.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]