× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Integritas dalam Genggam Perempuan Indonesia

By Redaksi

Bekerjasama dengan Chevening Alumi Indonesia, British Embassy dan Gojek, Perempuan Indonesia Anti Korupsi (PIA) menggelar diskusi publik. Diskusi yang bertajuk “Peran Perempuan dalam Membangun Integritas di Lingkungan Kerja,” yang dihadiri beragam latar belakang peserta mulai dari pengusaha, birokrat, pendidik hingga penggiat gerakan sosial.

Di beberapa tempat peran perempuan masih saja termarjinalkan. Sehingga perlu pembuktian bahwa perempuan bisa sama bahkan lebih berintegritas dibanding kaum laki-laki. Dalam diskusi yang bertempat di auditorium kantor pusat Gojek, bilangan Blok M Jumat (22/03/19), hadir beberapa narasumber yang didominasi kaum perempuan.

Salah satu cerita muncul dari pemimpin muda perusahaan digital. Menurut penuturan Priskilla Samanta, Chief Director Digima Asia, integritas sudah menjadi bagian dari budaya perusahaannya. Perusahaan tengah mengembangkan kultur yang mengacu pada karakter yang kuat termasuk soal integritas dan tentunya konsistensi. Dan delapan puluh persen dari total karyawan adalah milenial yang juga butuh role model untuk karier mereka ke depan. Meskipun karyawan perempuan baru 30%, mereka diupayakan punya karakter yang kuat dan bisa membuktikan tidak kalah berprestasi dari lawan jenisnya

Sementara Yanti Triwadiantini, Direktur Eksekutif Indonesia Business Link, menyampaikan, integritas merupakan prinsip yang terkait dengan etika. “Indonesia Business Link terlahir dari masa krisis ekonomi 1998,” kata Yanti. Di era itu, kisah Yanti, etika bisnis sudah carut marut. Jika bisnis ingin lancar, segalanya harus pakai cara “under table”. Namun ada beberapa perusahaan, termasuk perusahaan multinasional saat itu yang masih teguh memegang prinsip. Mereka tidak tergoda untuk menerobos etika. Namun konsekuensinya, mereka sulit bergerak.

“Komisi Pemberantasan Korupsi baru hadir di tahun 2004. Jadi betapa ‘lonely’-nya perusahaan-perusahaan itu berjuang sendirian,”kenang Yanti. Perusahaan-perusahan ini menyadari haruslah bergerak bersama melawan sistem korup. Bila sendirian, perusahaan niscaya mati sendiri karena tak kompetitif. Maka, berkumpullah para pemimpin bisnis yang masih menjunjung etika. Tak lamakemudian, lahirlah Indonesia Business Link sebagai buah dari “collective action” tersebut.

Prinsip bahwa say no to corruption ini yang coba terus ditularkan Yanti ke perusahaan-perusahaan lain. Untuk kampanye ini, Yanti mengaku mengajak pihak lain seperti KADIN dan APINDO dalam bersinergi. Meskipun berat untuk berbisnis secara etis, pihaknya yakin suatu saat dunia bisnis di Indonesia lebih mengedepankan integritas dan kapabilitas untuk besar dan berkembang.

“Penting juga untuk mendidik kader-kader, terutama pekerja-pekerja yang baru masuk,”pesan Yanti. Sejak berfungsinya KPK, Yanti pun menyasar kampanye integritas ke anak-anak remaja di wilayah pantai utara. Sebagian besar masyarakat di sana berprofesi sebagai nelayan dan tenaga kerja wanita. Profesi ini menyebabkan anak-anak mereka terutama yang remaja tidak terdidik dengan semestinya. Tumbuh tidak dalam pengawasan orang tua, mereka menjadi anak-anak muda beretika minus dengan nilai-nilai hidup yang menyedihkan.

“Mereka hanya mengenal pola hidup instan,” lanjut Yanti. Yang remaja laki-laki gemar memalak, sementara remaja perempuan bahkan bersedia “dijual”. Indonesia Business Link bergerak masuk  ke dalam komunitas mereka.  Memberikan pelatihan soft skill dengan menekankan sisi attitude. Pihaknya juga mengajak perusahaan-perusahaan besar di sekitarnya agar turut berperan. “Caranya dengan menampung para remaja tersebut setelah usai pelatihan,” papar Yanti.

“Alhamdulillah, dari informasi yang sampai, perusahaan-perusahaan tersebut mengaku puas, karena para remaja itu lebih ulet, berintegritas, jujur, dan disiplin,”puji Yanti.

Sementara itu, Tenaga Ahli Madya, Kantor Staf Presiden, Enda Ginting menyampaikan, yang kontra dengan transparansi dan keteguhan integritas ternyata tidak sedikit. Mereka melakukan movement, berafilisiasi, dan celakanya, sesal Enda, mereka juga sangat cerdas. “Namun Presiden Jokowi mengingatkan, apapun upaya penegakkan integritas jika dilakukan sendiri akan gagal,”cetus Enda. Karena itu, presiden menegaskan pentingnya jejaring untuk melawan orang-orang tersebut.

Di sisi lain, Humas Komisi Pemberantasan Korupsi Indonesia (KPK), Yuyu Andriyati, memaparkan, kini KPK tak hanya melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) saja. Tapi yang lebih penting bagaimana mencegah perilaku koruptif dan mendorong budaya integritas. Menurut Yuyu, di tahun ini pihaknya berharap informasi pencegahan yang lebih muncul kepada masyarakat. Tidak hanya informasi penangkapan saja, melainkan apa hal lain yang sudah dilakukan KPK. Contohnya, bagaimana pihaknya memperbaiki layanan publik. Selain itu ada manajemen keuangan daerah yang disupervisi oleh KPK.

Sejumlah nama yang hadir dalam acara ini diantaranya Ketua Umum APINDO, Haryadi Sukamdani, lalu Natalia Soebagjo, panitia seleksi KPK, Maria Kresentia yang merupakan Direktur Organisasi Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK), dan lainnya.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]