× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Inilah Alasan di Balik Rencana Cukai Kantong Plastik

By Redaksi
Kantung Plastik - detik.com

Kantong plastik bukan satu-satunya produk berbahan dasar plastik. Ada banyak barang yang dikonsumsi masyarakat terbuat dari plastik, namun pemerintah membidik kantong plastik untuk dikenakan cukai.

Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Nirwala Dwi Heryanto mengatakan, 16% sampah yang ada di Indonesia adalah sampah plastik, dan mayoritas atau sekitar 62% di antaranya adalah kantong plastik. 

Kenyataan Itulah yang melatarbelakangi kantong plastik perlu dikenakan cukai.

“62% sampah plastik di Indonesia adalah kantong plastik,” kata dia dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Pengembangan Industri Plastik dengan Berorientasi Pada Lingkungan” di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Dia menegaskan, melalui cukai, pemerintah bukan melarang penggunaan kantong plastik tapi mengendalikannya agar penggunaannya tidak berlebihan.

“Dengan pertimbangan itu di sini kantong plastik perlu dikendalikan bukan dilarang, dikendalikan, gimana caranya? bisa dengan regulasi dan fiskal,” ujarnya.

Instrumen fiskal yang digunakan ini berupa pengenaan cukai. Sama halnya cukai rokok, cukai pada kantong plastik akan diterapkan karena ada dampak negatif yang ditimbulkan kantong plastik.

“Cukai adalah alat instrumen fiskal bagi negara mengendalikan konsumsi barang-barang yang punya ekstenalitas negatif. Eksternalitas, jadi saya melakukan kegiatan menimbulkan dampak bagi lingkungan saya,” jelasnya.

Secara keseluruhan, Nirwala menjelaskan sampah plastik secara umum mengalami kenaikan. Pada 2014 persentasenya sebesar 14%, kemudian menjadi 16% pada 2016.

“Tren persentase komposisi sampah plastik 3 tahun mengalami kenaikan 3%. 2014 adalah 14%, 2016 adalah 16%,” tambahnya. 

Sumber :
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4616752/ternyata-ini-alasan-di-balik-rencana-cukai-kantong-plastik

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]