× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Ini Kapal Pesiar Norwegia yang Berbahan Bakar Limbah Ikan

By Redaksi
Kapal Pesiar Norway's Hurtigruten yang Berbahan Bakar Limbah Ikan. Foto : Intelligentliving

MajalahCSR.id – Mendesaknya kebutuhan energi terbarukan untuk mengganti energi fosil ternyata menelurkan berbagai penemuan inovatif.  Dari mulai memanfaatkan tenaga surya, angin, panas bumi, air, bahkan limbah dan biogas.

Perusahaan layanan kapal pesiar di Norwegia, Norway’s Hurtigruten baru-baru ini membuat terobosan baru di bidang bahan bakar kapal. Operator kapal pesiar besar yang melayani banyak rute seperti Antartika, Svalbard, dan Greenland ini mengumumkan menjadi perusahaan yang turut mengurangi dampak polusi dan perubahan iklim, sehingga mengklaim diri sebagai perusahaan hijau.   

“Sisa bangkai ikan dari industri perusahaan besar perikanan Norwegia akan dicampur dengan limbah organik lain untuk menghasilkan biogas cair sebagai bahan bakar dibandingkan memakai bahan bakar minyak,” kata Hurtigruten dalam sebuah pernyataan tertulis perusahaan.

Operator pelayaran ini bukanlah operator sembarangan, karena usia operasionalnya mencapai 125 tahun. Mengutip intelligentliving, kini, perusahaan mulai melakukan penyesuaian untuk tidak lagi memicu polusi. Norwegia memang dikenal sebagai salah satu negara penghasil ikan dan kekayaan hutan terbesar yang memicu  banyak limbah oganik.  Sebelumnya, negara Nordik ini sudah memanfaatkan limbah sebagai bahan bakar bus yang mengolahnya jadi biogas.

Sementara itu, Hurtigruten memanfaatkan limbah ikan busuk – sebagai campuran biogas, gas cair alami, dan tenaga batere – untuk menggerakkan mesin kapal yang jauh lebih bersih. Ada tiga kapal besar yang menggunakan tenaga listrik, di mana tenaga diesel hanya sebatas tenaga cadangan saja. Ke depannya, para penumpang kapal dilarang menggunakan plastik sekali pakai.      

Untuk mendukung perubahan ini, perusahaan sudah menyiapkan 7 miliar crown atau sekitar USD 826 miliar (Rp 11,9 triliun dengan kurs Rp 14.500) selama kurun waktu 3 tahun untuk ke 17 kapal pesiar besarnya. Target mereka sekurang-kurangnya ada 6 kapal yang sudah berbahan bakar limbah ikan pada 2021 ini. “Dengan memanfaatkan biogas sebagai bahan bakar kapal, Hurtigruten menjadi perusahaan kapal pesiar pertama tanpa bahan bakar fosil,” cetus eksekutif perusahaan, Daniel Skjeldam. Hurtigruten rupanya menginginkan operasional mereka bebas karbon pada 2050 mendatang.  

Menurut asosiasi lingkungan di Jerman, Nature and Biodiversity Coservation Union (NABU), kapal pesiar ukuran sedang biasa menghabiskan 100 ton bahan bakar per hari. Artinya, memproduksi partikel polutan yang setara dengan polusi dari satu juta mobil.

Industri pelayaran memang tengah mendapat sorotan dari peraturan internasional. Termasuk aturan untuk menekan emisi karbon dioksida setidaknya 50% pada 2050 (standard level pada 2008) dan melarang penggunaan bahan bakar yang mengandung sulfur di atas 0,5% sejak 2020 (kapal saat ini masih banyak yang menggunakan kandungan sulfur di atas 3,5%).     

Redaksi

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]