× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Industri PR Perlu Angin Baru, Kolaborasi, dan Pemetaan Kebutuhan Klien

By Redaksi
Ilustrasi Agensi PR. Foto : Istimewa/bbscommunications.com.au

MajalahCSR.id – Bak bola pingpong, dampak pandemi covid-19 menghantam ke multi sektor. Selain sektor kesehatan dimana juga bagian dari fokus penyelesaian pemerintah, sektor ekonomi bisnis pun turut terpukul. Bisa dibilang nyaris semua lini bisnis terdampak, di luar kesehatan, internet of things, makanan minuman, dan industri e-games. Bisnis industri PR adalah salah satu yang juga turut terdampak.

Menanggapi kondisi yang tidak menguntungkan ini, Asosiasi Perusahaan Public Relation Indonesia (APPRI), menggelar diskusi webinar bertajuk ”Dealing with Crisis for Service Based Company”, pada Rabu (3/6/2020).

“Industri PR mengalami kerugian lebih kurang 50% (akibat pandemi),” ungkap Jojo S. Nugroho, Ketua APPRI.

Masa sulit dari disrupsi ini mau tidak mau harus dihadapi. Meskipun tidak secara langsung terdampak, karena industri PR bermodel Business to Business, artinya saat klien terimbas (pandemi) maka seterusnya industri ini turut terdampak.

“Kita berharap tidak akan ada ‘second waves’ dari (pandemi) corona ini. (Bila terjadi) Kita harus survive setidaknya satu tahun ke depan. Atau setidaknya hingga akhir tahun bila tak ada gelombang kedua,” harap Jojo.

Filosofi layang-layang

Jojo mengambil contoh filosofi layang-layang untuk menggambarkan kondisi yang harus dipahami para penggiat bisnis PR. “Sebelum terbang, layang-layang harus didesain agar kuat, menarik, dan bisa terbang. Sama halnya dengan industri PR, kita harus tahu konsep perusahaan apa, kekuatan dimana, target market siapa, aturan mainnya seperti apa, dan partner yang diajak siapa,” imbuhnya.

Filosofi yang kedua dari layang-layang adalah mengetahui teknik untuk menerbangkannya. Jojo menjelaskan, bukan masalah besarnya modal dan perusahaan, tapi yang lebih penting strategi perusahaan dalam menghadapi kondisi. Yang ketiga dari filosofi layang-layang adalah, semakin tinggi, semakin kencang anginnya. Artinya, semakin tinggi agensi PR di top level, semakin tinggi tantangannya.

Pelajaran selanjutnya yang diambil dari layang-layang adalah memainkannya tidak dengan kaku, melainkan harus tarik ulur sehingga layang-layang tetap berada di atas. Filosofi kelima adalah jangan sampai melepas tali layang-layang. Sesulit apapun kondisi, jangan sampai melepas “tali layang-layang”.

“Yang keenam, main layang-layang harus bareng. Begitu pula di agensi, kolaborasi adalah kunci. Selanjutnya, tak selamanya bermain layangan itu mulus, ada saatnya mati angin. Kita sekarang sedang mengalami ‘mati angin’ karena force major covid-19 yang tak bisa kita kontrol. Kita harus terus begerak untuk mencari angin. Terakhir, jangan lupa berdoa,” jelas pria dengan penampilan ciri khas topi ala tompi ini.   

Sementara itu Antonny Liem, pelaku bisnis PR, CEO MCM Group (Merah Cipta Media), menunjuk faktor ketidakpastian yang terjadi sekarang ini sebagai biang roda bisnis mandek, di luar industri terdampak langsung (penerbangan, hotel, restoran, dan sebagainya). Sementara bisnis lain, kondisi pandemi malah menaikkan omset mereka, seperti e-commerce. Ketidakpastian ini menjadikan pelaku bisnis lain melakukan penghematan (yang cukup besar).

“Kita harus melihat (kondisi) secara day by day, dan melakukan ‘covid adjustant revenue’. (Contohnya) Kita per bulan melakukan revisi budget, dan revisi target sales, sehingga bisa ‘refer to cash’. Jadi, harus berhati-hati,” cetus Antonny.  

Antonny juga menyarankan, kalau bisa renumerasi dari klien disepakati mingguan. Hal ini mengingat ketidakpastian kondisi, dan belajar dari apa yang sudah terjadi. Ada klien disebutkan menghentikan kerja sama di tengah jalan, dengan alasan mereka tak mampu bayar. Ada juga yang meminta potongan harga di luar kesepakatan kontrak.

Menanggapi soal filosofi mati angin, Antonny menjelaskan, setiap agensi harus punya beberapa “revenue channel” agar jika ada angina yang mati, bisa mencari angin lainnya.

Revenue channel itu bukan berarti layanan, bisa platform dan service,” ungkapnya. Antonny menegaskan, justru di saat inilah kesempatan industri PR untuk bersinar. Agensi punya peran untuk mendorong kembali brand klien (brand building), tegas Antonny. Perusahaan yang mengalami krisis internal manajemen hingga akhirnya terpaksa memberhentikan karyawan, di sini harus ada peran PR. Lalu untuk krisis eksternal, PR juga yang punya peran, imbuhnya.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]