× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Ilmuwan Membuat Hujan Buatan dengan Aliran Listrik

By Redaksi
Ilustrasi Pesawat Memancing Hujan Buatan. Foto : The National

MajalahCSR.id – Sebagian besar wilayah Indonesia kini mulai  memasuki musim pancaroba. Musim kemarau memang sudah di depan mata, dan di beberapa kawasan tertentu, ancaman kekeringan sering terjadi. Selama ini pemerintah melalui Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika mengatasi ancaman kelangkaan air karena kemarau dengan hujan buatan. Cara lazimnya adalah menabur garam ke awan.

Namun cara tersebut boleh jadi nanti ditinggalkan. Sejumlah pakar menemukan teknologi baru untuk rekayasa hujan buatan. Teknologi ini diharapkan ampuh mengatasi kekeringan di wilayah yang bercurah hujan sangat rendah. Uni Emirat Arab (UEA) menjadi negara ketiga yang mencoba teknologi ini. Metodenya adalah mengirim pesawat tanpa awak ke angkasa untuk menyetrum awan dengan muatan listrik. Riset ini pun sidah dipublikasikan dalam Journal of Atmospheric and Oceanic Technology.

Dalam rangka mencari alternatif sumber air tawar, UEA mendanai sejumlah ilmuwan dari berbagai negara untuk memancing hujan turun. Ide untuk menyetrum awan ini adalah hasil penelitian yang dilakukan Universitas Reading, Inggris, pada 2017 lalu. Sejauh ini metode tersebut sudah dua kali dilakukan, yaitu di Inggris dan Finlandia.

Lazimnya negara yang mayoritasnya kawasan gurun pasir, air tawar sangat langka di UEA. Tak heran negara tersebut mencari-cari metode yang tepat demi mengatasi masalahnya itu. Keri Nicoll, salah satu pakar yang terlibat dalam proyek ini mengungkapkan, menguji teknologi ini di UEA akan membawa hasil yang jelas, terkait keefektifan dampaknya.

Nicoll dan rekan rekannya melihat bahwa ketika awan dialiri listrik, titik air akan berkumpul menjadi butiran yang lebih besar dan menghasilkan hujan. Namun, masalahnya UEA adalah kawasan yang bersuhu tinggi, sehingga dikhawatirkan titik air akan menguap kembali sebelum menyentuh tanah.

“Apa yang kami lakukan adalah mencoba menghasilkan titik air dalam awan yang berukuran cukup besar, sehingga hujan yang turun pun bisa sampai ke permukaan tanah,” terang Nicoll, seperti dilansir CNN.

The UAE Program for Rain Enhancement Science, adalah program inisiatif pemerintah yang dilakukan oleh badan pusat nasional meteorologi negara tersebut. Teknologi ini terpilih untuk mengatasi kelangkaan air dengan nilai dana hibah mencapai USD 1,5 juta atau lebih dari Rp 21,7 miliar.

Dalam beberapa tahun terakhir muncul sejumlah inisiatif untuk menemukan teknologi terkini yang bisa merekayasa cuaca. Upaya ini sebagai antisipasi dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang diantaranya adalah ancaman bencana kekeringan. World Wildlife Fund (WWF) memperkirakan, dua pertiga populasi dunia akan menghadapi kelangkaan air pada 2025 mendatang.

Redaksi

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]