× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

ICEF 2019 : Mensolusikan dan Mempromosikan Sirkular Ekonomi

By Redaksi
Konferensi Pers Indonesia Circular Economy Forum 2019

Sebagai salah satu negara berpopulasi besar di dunia, Indonesia dihantui banyak masalah. Salah satunya soal ancaman lingkungan oleh sampah plastik. Indonesia berada di posisi kedua di dunia sebagai negara terbanyak “pengekspor” sampah plastik ke lautan. Volumenya cukup mencengangkan  berada di angka 1,29 juta ton per tahun (CNBC Indonesia, 21 Juli 2019). Padahal, India dengan jumlah populasi yang lebih banyak dari Indonesia, hanya menempati peringkat 12 dengan total sampah plastik 0,24 juta ton per tahun. Indonesia hanya kalah dari China yang menyentuh angka 3,53 juta ton per tahun. Di sisi lain, sampah plastik yang sulit terurai sangat mengancam kehidupan biota laut.

Sudah banyak laporan yang mengungkap sejumlah hewan laut yang mati karena memakan sampah plastik.  Sampah plastik di posisi ini adalah ancaman. Namun, bila dikelola dengan baik, sampah plastik bisa menjadi komoditas ekonomi yang menjanjikan. Hal ini terungkap dari pembukaan perhelatan Indonesia Circular Economy Forum (ICEF) 2019 yang di Pullman Hotel, Jakarta, Senin (11/11/2019). Ini merupakan kali ketiga perhelatan ini diselenggarakan di Indonesia. Tema yang diambil untuk tahun ini adalah “Towards a Sustainable Future trough Circular Business Practice”.

Forum dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari pejabat tinggi pemerintah, praktisi bisnis baikswasta maupun pemerintah, lembaga non pemerintah, akademisi, praktisi professional dan pemangku kepentingan lainnya.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan tampil sebagai keynote speaker dalam ajang tahunan ini. Dalam sambutannya, Luhut menegaskan Indonesia tidak lagi bisa dianggap sebagai “banana republic”. Sejumlah upaya yang mengefisienkan semua sektor dan transparansi birokrasi, menjadikan Indonesia negara kaya. Namun demikian, Indonesia sedang berupaya menangani berbagai permasalahan, diantaranya soal sampah. “Kami berupaya mengkampanyekan bahaya sampah plastik ke berbagai daerah,” ujar Luhut.

Upaya pemerintah membersihkan sampah dari perairan pun terus dilakukan. Menggunakan perahu untuk mengambil sampah plastik di sejumlah sungai, lalu mengolah sampah tersebut ketika di darat. Namun Luhut menyadari mengubah kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai belum masih sepenuhnya selesai. Namun selain upaya peyadaran kepada masyarakat, Luhut mengingatkan bagi perusahaan yang membuang limbah atau sampahnya ke sungai, akan menghadapi konsekuensi hukum.

Pemerintah juga, sambung Luhut, sangat mendukung upaya sirkular ekonomi dan pemerintah menganggapnya penting. Salah satunya pemberdayaan soal sampah. Menghadapi persoalan sampah plastik, pemerintah mencoba beragam cara untuk mengurangi dampaknya. Salah satunya dengan pemanfaatan plastik sebagai campuran aspal untuk pembangunan jalan. “India sudah menerapkan pemanfaatan sampah pastik untuk aspal. Kenapa Indonesia tidak?” tegas Luhut.

Salah satu solusi lainnya dalam kampanye bahaya plastik adalah memasukkan materi lingkungan  ke dalam kurikulum anak sekolah. Untuk halini, menurut Luhut, pihaknya akan berkoordinasi dengan Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim.  “Penanganan sampah harus dilakukan secara simultan,” cetus menteri.

Sementara, founder Greenation Foundation, Bijaksana Junerosano menegaskan, Indonesia perlu membawa ekonomi sirkular ke arah kebijakan negara.  Untuk teknisnya bisa melalui rencana jangka panjang dan rencana jangka menengah yang juga terintegrasikan dengan kebijakan ekonomi yang mengacu kepada Sustainable Development Goals. Dilihat dari pengelolaan persampahan saja, ekonomi sirkular bisa menumbuhkan ekonomi sebesar Rp 101 trilyun atau setara 4,1% dari total APBN 2019, kata Sano, panggilan Bijaksana.

Di mata akademisi, pengertian ekonomi sirkular boleh jadi berbeda. Benny Tjahjono, Profesor Supply Chain Management dari Coventry University, Inggris, mengatakan, sirkular ekonomi bukanlah “tools”. “Ekonomi Sirkular adalah konsep yang sangat besar. Waste (sampah) hanya merupakan bagian kecil dari seluruh rangkaian sirkular ekonomi. Defisnisnya lebih ke menggunakan seminimal mungkin sumber (resources) yang hasilnya bisa digunakan selama mungkin,” papar Benny. Karenanya saat membicarakan soal sirkular ekonomi juga harus menyinggung aspek lain, seperti desain, sistem, supply chain, business model, low financing, dan lainnya sehingga merupakan satu sistem yang sangat besar.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainability Environment (PRAISE), Mignonne Maramis, mengungkapkan, pihaknya sudah menerapkan dua program. Yang pertama adalah Bali Bersih dimana pihaknya bekerjasama dengan Desa Sanur Kauh di Denpasar Bali untuk pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Termasuk didalamnya pemilahan dan pengepulan sampah. Program lainnya adalah kampanye edukasi soal sampah. Dengan menyimpan lebih dari 100 drop box di wilayah Jabodetabek.

“Kami ingin mengubah mindset soalsampah tidak berguna. Padahal sampah itu sangat berguna asal dikelola dengan baik dan bijak,” pungkas Mignonne.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]