× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

IAE : Wabah Virus Corona Picu Penurunan Terbesar Konsumsi Energi Dunia

By Redaksi
Ilustrasi Pusat Pembangkit Energi. Foto : Istimewa

MajalahCSR.id – Wabah COVID-19 mendorong pemberlakuan lockdown ekonomi di sejumlah negara. Lockdown ekonomi dengan tidak beroperasinya sebagian besar industri memicu penurunan konsumsi energi yang teramat besar. Implikasinya, emisi karbon pun turun secara drastis. Hal ini diungkapkan International Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional, Kamis (30/4/2020).

Konsumsi energi secara global turun 6% di awal tahun ini, merujuk pada kebijakan larangan keluar rumah dan pembatasan aktivitas industri. Situasi ini berdampak signifikan pada pengurangan emisi karbon dioksida sebanyak 8%, atau enam kali lebih besar (400 juta ton) dibanding pada 2009 silam saat krisis ekonomi global terjadi.  

“Sejumlah negara mungkin masih memberlakukan lockdown karena situasi yang belum membaik atau ada gelombang kedua dari COVID-19 membuat kita optimis di satu sisi (terhadap perbaikan iklim),” ungkap Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol kepada Reuters.

Grafis – Korelasi Energi Global Terhadap Emisi CO2

Aktivitas bisnis sudah banyak yang tertunda di mana-mana, menghantam ekonomi dunia dan memperkuat ramalan ekonomi yang menyebut dunia kembali mengalami masa resesi.

Industri batubara mengalami pukulan telak di masa pandemi ini. Disebutkan, permintaan energi fosil ini di triwulan pertama dan diproyeksikan di 2020 ini menurun sebesar 8% dibading periode sama tahun lalu.

Sementara itu permintaan gas alam juga diperkirakan jatuh sebesar 5% pada 2020, termasuk konsumsi listrik yang juga melorot hingga 2,6% di triwulan awal tahun ini. Di sisi lain, pemanfaatan sumber pembangkit energi terbarukan malah meningkat  mencapai 3% dengan tenaga angin dan surya menjadi primadona proyek.

“Situasi yang juga menimbulkan banyak angka kematian, trauma di seluruh dunia. Peristiwa sejarah ini seakan menjadikan penurunan emisi ini tak perlu dirayakan,” sesal Fatih, sambil mendorong pemerintah di banyak negara beralih ke infrastruktur energi hijau.

Energi terbarukan mendapat porsi penyuplai listrik nyaris 28% pada kuartal satu 2020, naik pada periode sama tahun sebelumnya yang hanya 26% dan diharapkan menyentuh angka 30% di akhir tahun nanti.

Graphic – Rate of change in global primary oil demand: here

Minyak yang Turut Terhempas

Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya menimpa negara produsen minyak. Mereka terpaksi mengontrol ketat produksi untuk menyeimbangkan permintaan yang lesu. Usaha ini tampaknya tak akan berhasil, seperti diingatkan IEA. Pasalnya, tempat penampungan minyak sementara kian tak mencukupi menampung kelebihna produksi minyak.

Permintaan minyak jatuh sebanyak 5% di triwulan awal dan diprediksikan terburuk di 2020, di mana total permintaan anjlok sebesar 9%.

“Pada pergerakan pasar minyak, kita baru bisa melihat pertengahan Juni di mana kapasitas penyimpanan minyak dunia sudah teramat penuh,” ungkap Fatih, sambil mencatat bahwa kondisi terburuk terjadi di Amerika Utara.

Permintaan minyak global diperkirakan terpangkas 9,3 juta barel per hari pada 2020. Hal ini menyebabkan negara anggota OPEC dan produsen minyak dunia lain seperti Rusia menyetujui memangkas produki nyari 10 juta barel per hari, atau setara dengan 10% total produksi global, dimulai 1 Mei.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]