× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Hikmah di Balik Pandemi, Berjalan Kaki dan Bersepeda Sehat Sekaligus Sadar Lingkungan

By Redaksi
Ilustrasi Kegiatan Bersepeda. Foto : DOK. HUMAS PEMKOT BANDUNG

MajalahCSR.id – Pandemi ternyata pula bisa mendatangkan hal positif. Hal ini setidaknya tercermin dari gaya hidup sebagian masyarakat yang kian sehat sekaligus sadar lingkungan.  

Berjalan kaki dan bersepeda kini telah menjadi tren di tengah masyarakat walau di masa pandemi. Tak hanya untuk kesehatan, aktivitas ini juga meluas menjadi aksi perubahan iklim secara kolektif.

Hal itu, salah satunya yang terjadi pada Abiyi Yahya Hakim dari Pedestrian Coalition (KoPK). Ia mengatakan pandemi ini menjadi momentum untuk dirinya memikirkan ulang penggunaan sarana mobilisasi yang paling cocok. Bukan saja menyehatkan, tapi juga hemat dan ramah lingkungan.

“Dari kecil sebenarnya kita diajarkan jalan kaki dan sepeda, tapi mobilisasi membentuk budaya berkendaraan yang ternyata bermasalah seperti polusi, gangguan kesehatan, hingga emisi karbon yang meningkat. Masalah ini, buat kita punya kesempatan memikirkan kembali ini semua,” ujar Abiyi dalam Talk Show on Walking and Cycling is the New Trend!, Kamis (5/11/2020). Talkshow ini merupakan rangkaian acara Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa.

Pengalaman yang sama juga dilakukan Narita Diyanm yang telah tiga tahun ini menggunakan sepeda untuk menunjang transportasi pekerjaannya sehari-hari. “Bagi saya awalnya menggunakan sepeda sebagai sarana olahraga, tapi karena lebih efisien dan menyehatkan akhirnya terus dilakukan,” katanya.

Dalam aktivitasnya bersepeda, Narita mengungkap, pesepeda perempuan memang saat ini masih memiliki tantangan utamanya soal keamanan. “Jadi memang traffic (situasi lalu lintas di jalan raya) itu brutal dan barbar, itu challenge-nya,” imbuhnya.

Lain lagi cerita Dehleezto LS Bendang, seorang pelajar yang menggunakan sepeda sebagai sarana bergerak. Dia mengaku menikmati aktivitas bersepeda hingga menjadikannya sebagai gaya hidup.

“Aku dari kecil sering ke CFD (Car Free Day) dari situ aku terbiasa menggunakan sepeda jarak jauh, kemudian pas SMP ini mulai naik kereta dan angkot. Tapi, lama kelamaan mulai banyak nih yang bawa sepeda lipat di commuter line, ya udah ikutan,” katanya.

Tidak hanya bersepeda, aktivitas jalan kaki juga menjadi tren yang kini juga mulai banyak diminati masyarakat. Termasuk yang dilakukan oleh Theresia Tarigan dari KPKS Semarang. Ia mengatakan berjalan kaki memang kini menjadi gaya hidup yang disukai lebih banyak orang. Dari yang sebelumnya dilakukan sendiri atau berkelompok, kini telah ada komunitas pejalan kaki.

Meski begitu, Theresia mengungkap gaya hidup jalan kaki ini masih memiliki tantangan dan dukungan. Di Semarang tempatnya tinggal misalnya, masih diperlukan keseriusan pemerintah dalam menertibkan trotoar agar lebih aman bagi pejalan kaki.

“Kenapa berjalan kaki ya karena seru. Selain itu, juga tidak menyumbang polusi udara dan emisi karbon. Ini sangat penting dalam (mendukung) isu climate change,” pungkasnya.

Avatar

Redaksi

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]