× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Harpic Kampanyekan Sanitasi Toilet di Indonesia

By Redaksi
Peluncuran Kampanye Harpic Aksi Bersih Toilet di Jakarta. Foto : majalahcsr

Kebutuhan toilet dan sanitasi yang bersih dan layak masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa ini. Di Jawa saja, masih ada masyarakat yang tidak punya kakus di rumahnya, sehingga aktivitas buang air nya dilakukan di sungai. Walhasil, kebiasaan yang tak bersih ini memicu timbulnya berbagai penyakit, seperti diare dan lain-lain.

Penyakit diare – salah satu penyebab kematian anak – karena lingkungan kurang bersih, masih terjadi di Indonesia. Pulau Jawa sebagai pulau paling pesat modernisasinya pun ternyata belum sepenuhnya bebas dari perilaku warga yang buang air sembarangan.  Kurang optimalnya sarana sanitasi yang bersih (terkait kesejahteraan) ditambah kesadaran sejumlah warga terhadap budaya bersih merupakan pemicu utama perilaku buang air sembarangan.

Untuk itu, Reckitt Benckinser sebagai pemegang merek pembersih toilet “Harpic” menginisiasi kampanye “Aksi Toilet Bersih”. Bekerjasama dengan sejumlah lembaga, diantaranya water.org, SATO, dan Koperasi Mitra Dhuafa (KOMIDA), kampanye mulai dilaksanakan pada 2020 secara berkelanjutan. Hal ini mengingat, selain membantu dalam produk, dilakukan pula kampanye edukasi pada masyarakat soal pentingnya perilaku hidup bersih.

Dalam acara konferensi pers yang digelar di Hotel Four Seasons, Jakarta, Jumat (31/1/2020), Luis Ramirez, Marketing Director Reckitt Benckiser Hygiene Home Indonesia, mengapresiasi dukungan dari berbagai pihak terhadap kampanye yang dilakukan.

“Kampanye kami mendukung target pemerintah (Indonesia) untuk menjadikan pulau Jawa terbebas dari perilaku sanitasi buruk (BAB sembarangan) pada 2025,” kata Luis dalam acara peluncuran kampanye tersebut. Untuk mensukseskan kampanye, Luis membutuhkan banyak dukungan sehingga berdampak pada masyarakat untuk lebih peduli dan terfasilitasi sanitasinya.

Sementara dalam diskusi acara, Don Johnson, Operational Director water.org Indonesia, mengungkapkan, di Indonesia masih ada lebih dari 20 juta orang yang tak punya akses sanitasi bersih. “Alasan paling utama dari akses sanitasi bersih adalah keuangan,”cetus Don. Hal ini kembali lagi pada kesejahteraan masyarakat yang masih belum mampu membangun toilet bersih di rumah. Dengan kata lain, akses pada modal pun turut dibutuhkan.  

Reckitt Benckiser bermitra dengan Koperasi Mitra Dhuafa (KOMIDA) untuk akses finansial masyarakat dalam membangun sanitasi bersih. KOMIDA adalah koperasi simpan pinjam, yang juga memiliki fitur pinjaman untuk nasabahnya dalam membangun toilet.

 Sugeng Priyono, Direktur Operasional KOMIDA, menyatakan, sejak berdiri pada 2004, KOMIDA berupaya meningkatkan kualitas hidup warga miskin, terutama perempuan. Sehingga anggota KOMIDA di seluruh Indonesia yang berumlah 750 ribu adalah perempuan.

“Menurut data BPS 2019, masih ada 9,41% atau 25,14 juta warga miskin di Indonesia,”papar Sugeng. KOMIDA menyentuh 3 aspek, yaitu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Masih dari data BPS 2019, lanjut Sugeng, hanya 55,47% rumah tangga di Indonesia yang punya akses pada sanitasi bersih. Sementara sisanya 44,53% dalam kondisi sebaliknya.

“Setiap anggota yang bergabung atau mengakses simpan pinjam selalu disampaikan 1 pertanyaan sesuai kategorinya; yang sudah memiliki toilet, yang sudah memiliki toilet tanpa septic tank, dan yang belum punya toilet,”ungkap Sugeng. Walhasil, KOMIDA memiliki data terkait sanitasi para anggotanya yang seluruhnya warga miskin.

Dari 750 ribu anggota, sekitar 730 ribu diantaranya masih belum punya akses yang sehat terhadap sanitasi. “Sehingga dalam 5 tahun terakhir, KOMIDA punya program simpan pinjam yang dinamakan SARITA atau sarana air dan sanitasi,” kata Sugeng.

Program SARITA memungkinkan para anggota meminjam modal untuk pembangunan toilet bersih dan layak di rumahnya. Sampai saat ini, tambah Sugeng, ada sekitar 40 ribu anggota KOMIDA yang sudah punya akses pada sanitasi bersih. Namun demikian, masih ada sekitar 28% dari anggota KOMIDA yang belum memiliki fasilitas sanitasi. Sehingga masih banyak yang perlu disampaikan pada anggota terutama soal edukasi.

Tak bisa dipungkiri, tak mudah untuk menyadarkan warga meminjam modal pembangunan sanitasi dibanding bantuan modal usaha atau beli barang. Dari total anggota yang meminjam, lanjut Sugeng, 70% diantaranya untuk sanitasi, dan 30% untuk kepentingan sarana air.

Hadir dalam acara tersebut artis dan influencer Ibukota, Darius Sinathrya yang juga brand ambassador dari produk Harpic.  Acara pelucuran kampanye juga ditandai penyerahan bantuan 3.545 botol pembersih toilet Harpic dari Reckitt Benckiser untuk disalurkan pada warga yang membutuhkan melalui KOMIDA.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]