banner
dok.d'greetings.com
Berita

Hari Bumi, Ubah Perilaku Merusak Lingkungan

2293 views

Jakarta – MajalahCSR. Dalam memperingati Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2017, puluhan pelajar, mahasiswa, dan aktivis lingkungan berbaur di BPOL, yaitu Balai Penelitian dan Observasi Laut di Perancak, Kabupaten Jembrana, Bali, 20 April lalu. Area berteknologi tinggi ini bisa mengawasi pergerakan ikan dan kapal-kapal di permukaan bumi.

Seperti yang dilansir www.mongabay.co.id, acara ini dimulai dengan menanam mangrove di area hutan seluas lebih dari 100 hektar yang mengelilingi BPOL dengan 100 bibit mangrove yang ditanam. Areal hutan mangrove Perancak disebut mengalami perluasan dari sekitar 20 hektar, lalu 70 hektar, dan terakhir sekitar 115 hektar. Perluasan ini berasal dari lahan tambak ikan dan udang yang tak produktif kemudian ditanami mangrove.

Pembersihan dan menanam sekitar 100 mangrove di kawasan hutan mangrove Perancak, Bali, yang luasannya terus bertambah.
Foto: Luh De Suriyani (www.mongabay.co.id)

Siangnya dilanjutkan dengan sejumlah talkshow bersama unit lain Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) seperti Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL), peneliti BPOL, dan Conservation International (CI) Indonesia yang mendukung pelaksanaan kegiatan rangkaian Earth Day selama tiga hari.

Sejumlah kelompok masyarakat peduli lingkungan di Jembrana dan desa seperti  Putri Menjangan Pejarakan terlibat aktif dalam diskusi yang meliputi pengetahuan umum dan terapan. Di antaranya bagaimana sejarah Hari Bumi bisa diperingati secara global oleh Elwan Ampao dari BPOL, pengenalan jenis ikan dilindungi dan ekosistem mangrove oleh Suko Wardono Kepala BPSPL Denpasar dan Permana Yudiarso, serta Made Iwan Dewantama Manajer Program CI Indonesia di Bali.

Kepala BPOL Bali menyambut pelajar dan kelompok pelestari lingkungan dalam sesi di dalam ruangan mengenal laut dan isi serta pelestariannya dalam peringatan Hari Bumi tahun 2017.
Foto: Luh De Suriyani (www.mongabay.co.id)

Kepala Pusat Riset Kelautan Jakarta, Riyanto Basuki mengatakan bahwa BPOL merupakan satu-satunya di Asia Tenggara yang memantau realtime sumber kelautan Indonesia. “Sangat penting karena banyak pencurian ikan dan pembuangam limbah kapal tanker. Balai bisa memantau langsung kondisi laut,” ujarnya.

Peserta juga diajak mengenal sejarah hari bumi melalui video edukatif singkat. Dimulai dengan keprihatinan sejumlah pihak seperti senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada 1970 tentang masalah dan tekanan pada bumi. Dilakukan pengamatan kerusakan-kerusakan pada lingkungan dampak industrialisasi dan mendorong para pihak memberi perhatian, salah satunya melalui aksi massa pada 22 April 1970. Hingga kemudian negara-negara dan komunitas internasional ikut memperingatinya dengan sejumlah aksi-aksi serta seremonial pada 1990.

Pelajar diminta menceritakan apa hal yang bisa mengurangi kerusakan lingkungan dalam kegiatan keseharian. “Kamu bisa menjadi pahlawan dengan melakukan kegiatan kecil seperti tak buang sampah sembarangan,” papar peneliti senior BPOL, Elwan Ampao.

Suasana ruang presentasi sistem dan edukasi terkait riset kelautan dan perikanan di BPOL, Bali.
Foto: Luh De Suriyani (www.mongabay.co.id)

Kepala Balai Pengelola THR Ir. H. Djuanda, Lian Lubis dalam opininya yang dilansir dalam www.pikiran-rakyat.com mengatkan bahwa tujuan dasar dari memperingati Hari Bumi ataupun Hari Lingkunga hidup pada prinsipnya sama saja yaitu untuk membangun dan meningkatkan kepedulian manusia terhadap lingkungan hidup agar tidak terus terjadi kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan.

Namun untuk membangun dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan atau meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet bumi yang ditinggali manusia ini tentu tidaklah mudah. Ia mencontohkan yaitu persepsi terhadap sampah dan perilaku membuang sampah sembarangan. Contoh kasus nyatanya adalah sampah-sampah yang dibuang sembarangan oleh pengunjung Tahura Djuanda dan sampah atau limbah domestik yang dibuang warga sekitar Tahura Djuanda ke dalam kawasan Tahura Djuanda.

Salah seorang kepala desa yang desanya berbatasan dengan Tahura Djuanda mengatakan, warga desa sebenarnya sangat tahu membuang sampah sembarangan itu bukan tindakan yang baik dan dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan. Tapi, warga kami umumnya tidak bisa berbuat banyak kecuali dengan terpaksa menimbun sampah atau membuang sampah di pinggir-pinggir hutan Tahura Djuanda.

Pasalnya biaya pengangkutan sangat tinggi dan tidak ada juga yang bisa mengangkut sampah mereka. Persepsi bahwa sampah itu bisa menguntungkan dengan prinsip 3R (reuse, reduce, recycle) juga sudah warga desa ketahui, tapi mengubah perilaku untuk tidak membuang sampah sembarangan menurut Lian tetap saja tidak bisa dihilangkan.

Lian menyimpulkan dari cerita kepala desa tersebut, ternyata untuk menjaga dan melestarikan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan atau tidak nyampah tidak cukup hanya dengan mengubah persepsi dan mengubah perilakunya. Harus ada “perangkat” lain yang disiapkan dengan sungguh-sungguh agar perubahan persepsi dan perilaku bisa terjadi.

Banyak negara telah menerapkan aturan yang ketat dan hukuman yang berat bagi para perusak atau pencemar lingkungan yang tentu diikuti dengan penerapan teknologi dan manajeman pengelolaan lingkungan (limbah dan sampah) yang baik dan tepat. Berbeda dengan Indonesia yang barangkali masih belum beranjak dari “persepsi” bahwa untuk membangun dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan atau meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet bumi, “harus terlebih dahulu mengubah persepsi dan perilaku manusianya”. “Padahal kita saat ini butuh lebih daripada itu,”ujarnya.

 

Selamat Hari Bumi 2017.Green up! Clean up!

 

banner