× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Harga Kopi Bakal Melesat Seiring Perubahan Iklim

By Redaksi
Ilustrasi biji kopi. Foto : Pinterest

MajalahCSR.id – Jika dampak pencairan es di kutub bumi dan kehancuran hutan Amazon masih belum langsung terasa, maka penikmat kopi bakal merasakan efek lebih cepat dari perubahan iklim.

Pangkal masalahnya ada di Brasil sebagai produsen kopi terbesar dunia. Kondisi iklim di sana yang dihantam temperature dingin, menyebabkan kelembaban yang tinggi sehingga hawa kering muncul. Ini belum termasuk terjangan pandemi COVID-9 yang membuat rantai pasok terganggu. Sekedar diketahui, harga kopi sudah mencapai US$4,44 per kilogram yang merupakan harga tertinggi. Juli lalu, musim dingin melanda penghasil kopi arabica terbesar dunia itu dan menghancurkan sepertiga panen.

Seiring suhu beku yang sering terjadi pada musim panas di tahun ini, wilayah Minas Gerais yang termasuk produsen terkemuka menjadi korbannya. Suhu ekstrim ini disebutkan terjadi akibat perubahan yang terjadi di kutub selatan atau antartika. Perubahan iklim sepertinya sudah memicu suhu ekstrim di Brasil, juga di beberapa tempat di dunia. Petani kopi Brasil mengkhawatirkan jika kondisi musim di sana tak bisa lagi kembali normal. Negara itu memang tengah dihantui oleh kekeringan serta tidak lagi memiliki curah hujan yang normal dalam satu dekade terakhir.

“Para petani belum pernah melihat kondisi ini sebelumnya,” sebut pedagang kopi setempat, Andre Selga kepada The Guardian. “Suhu beku di wilayah ini cukup normal tapi tidak dalam intensitas dan pada tinggi dataran seperti ini. Saya mendengar para petani sudah kehilangan segalanya, mayoritas tanaman kopi mereka hancur. Mereka tengah berharap sebagian dari panen itu bisa berhasil. Mereka terancam kehilangan mata pencaharian.”  

Harga impor dari biji kopi milik Selga naik hingga 60%. Tapi dirinya mengaku lebih khawatir dengan perubahan iklim dibanding kenaikkan harga.

“Ini lebih besar dari ongkos pengapalan,ini (penyebabnya) sangat terstruktur,” ucap Selga. “Perubahan iklim, pada tahun-tahun sebelumnya hanyalah obrolan diskusi yang dilakukan para petinggi dan politisi. Tapi sekarang dampaknya sudah sampai pada level kami dan masyarakat biasa lain yang harus berurusan dengan itu.”  

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]