× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Haji Slamet dan Kegigihan Yang Menyelamatkan Lingkungan

By Redaksi

Kerja keras dan kegigihan tak akan mengkhianati hasil. Demikianlah Lalu Slamet Sahak membuktikan kalimat tersebut dalam perjuangannya untuk lingkungan. Selama empat tahun tanpa henti, tak kenal lelah, laki-laki yang akrab dipanggil Haji Slamet ini mencangkul lahan, membelah bukit, demi mendapatkan air untuk kampungnya.

Cerita diawali saat Haji Slamet menikah dengan gadis Natuna pada tahun 1982. Ia menempati lahan warisan orang tuanya di Ijo Balit, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, seluas 3 hektar. Haji Slamet yang sebelumnya berprofesi sebagai kontraktor, memutuskan meninggalkan pekerjaan lamanya. Ia sempat bekerja sebagai penambang bahan galian seperti batu apung, kerikil, dan pasir untuk bahan bangunan. Hasilnya ia gunakan untuk menambah luas tanah garapannya. Dari situlah ia mulai berpikir untuk menggarap lebih serius lahannya.

Sayangnya keinginan Haji Slamet menanami lahannya dengan aneka pohon produktif terganjal oleh kondisi alam yang gersang dan minim sumber air. Desa Ijo Balit dengan penduduk 1000 jiwa memilki luas 1200 hektar. Wilayah ini tak terjangkau air untuk lahan pertanian. Tanahnya hanya bisa ditanami umbi-umbian.

Haji Slamet melakukan pengamatan kecil-kecilan ke area sekitar. Hasilnya, ia menjumpai sebuah sungai yang jaraknya 4 kilometer dari perkampungannya. Namanya Sungai Parako. Ia mengajak warga untuk membendung sungai dengan karung-karung berisi tanah, lalu menggali parit sedalam 2-3 meter untuk mengalirkan air sungai . Sayangnya upaya ini tak membuahkan hasil optimal karena kecilnya debit air.

Haji Slamet tak putus asa, mencoba mencari sumber lain. Kemudian ditemukanlah Sungai Sordang. Sungai ini mengalirkan air dengan deras dari Gunung Rinjani ke lautan. Masalahnya sungai tersebut berada di balik bukit setinggi 14 meter.  Terlalu tinggi untuk digali. Warga menolak untuk terlibat dan menganggap rencana Haji Slamet tak masuk akal. Pemerintah Desa yang pernah membuat ide serupa saja tak pernah terealisasi, apalagi warga yang hanya memiliki alat sekadarnya.

Ia tak mundur. Berbekal tekad, Haji Slamet mulai penggalian seorang diri. Tahun 1991, ia mengawali cangkulan pertamanya. Tak peduli hujan-panas, Haji Slamet terus menggali tiap hari. Minggu demi minggu, bulan demi bulan, bukit mulai terlubangi. Warga mulai bersimpati dan turun memberikan bantuan.

“Misalnya, kalau kita mengajak masyarakat mencangkul, maka kita harus member contoh lebih dahulu. Makanya saya selalu mencangkul saat pagi gelap. Contoh lain, kalau kita menyuruh orang mengangkut pasir, orang mengangkut satu karung, maka kita harus mengangkut tiga karung. Nah, seperti itulah pelaksanaan Tut Wuri Handayani,” kata Haji Slamet seperti dikutip Ziatuwel.com.

Dibutuhkan empat tahun untuk mendapatkan hasil yang diinginkan yakni terbukanya akses air menuju Desa Ijo Balit. Bersama-sama, warga membuat parit untuk mengalirkan air sungai ke area pertanian desa. Warga mencatat tahun 1995 sebagai tahun bersejarah, yakni mengalirnya air jernih Sungai Sordang membelah bukit dan membasahi bumi Ijo Balit yang turun temurun dikenal sebagai wilayah gersang.

Munculnya aliran sungai mengubah total desa. Sebagian besar warga yang awalnya hanya mencari nafkah dengan menambang pasir dan batu alam, mulai semangat menanami tanahnya dengan aneka tanaman seperti palawija, buah, dan pepohonan kayu. Tanah-tanah gersang seolah disulap menjadi daerah hijau yang subur dan makmur. Lahan pertanian yang sebelumnya hanya seluas 25 hektar karena hanya mengandalkan air hujan, kini meluas hingga lebih dari 80 hektar.

Sukses sebagai pahlawan kekeringan, Haji Slamet tak berhenti berpikir mencari upaya menyejahterakan warga dari sisi kesehatan. Cita-citanya adalah membangun rumah sakit gratis.  Terlebih setelah peristiwa kematian salah seorang warga karena tak punya biaya berobat. Keinginannya mulai menemukan jalan keluar ketika salah satu anaknya berhasil meraih gelar dokter. “Beruntung anak saya, Baiq Nurlatifah memiliki intelektual yang bagus. Lulus dari fakultas kedokteran di sebuah perguruan tinggi di Yogya, anak saya bekerja di rumah sakit di Selong, sekaligus membuka praktik di rumah,” tutur sosok yang dikenal sederhana ini.

Dengan dukungan banyak pihak, akhirnya terealisasi cita-cita Haji Slamet untuk mendirikan pusat pengobatan gratis untuk warga. Meski digratiskan, warga tetap berusaha membayar seikhlasnya.

“Sesungguhnya ini adalah ‘tangan Tuhan’ yang bekerja. Saya bersyukur sekali. Saya tida akan takut melakukan sepanjang Tuhan menyertai langkah saya. Ini keyakinan saya,” pungkas Haji Slamet yang kini berusia 58 tahun.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]