× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Hadapi Perubahan Iklim, Ilmuwan “Indiana Jones” Berjibaku Temukan Benih Baru

By Redaksi
Tanaman Bunga Matahari Terancam Kekeringan. Foto : REUTERS/Arnd Wiegmann

Gaung kampanye soal perubahan iklim mulai menyadarkan banyak pihak untuk peduli pada ancaman alam ini. Salah satunya yang dilakukan sejumlah ilmuwan dari lembaga Crop Trust, organisasi internasional yang berkiprah di bidang pangan.

Untuk mendapatkan benih khusus nun jauh di pedalaman, para ilmuwan tersebut melakukan perjalanan bak tokoh fiktif Indiana Jones. Mereka harus menempuh bahaya dan rintangan; kawanan lintah ganas penghisap darah, ancaman terkaman harimau, sampai menaiki gajah sebagai sarana transport. Sejumlah saintis itu berusaha menemukan benih tumbuhan baru untuk memperluas sumber pangan menghadapi ancaman perubahan iklim.

Seperti dikutip dari reuters, sebuah laporan yang dirilis pada Selasa (3/12/2019), menceritakan upaya para ilmuwan berjibaku mengumpulkan ribuan benih dalam kurun 6 tahun. Benih-benih ini diprediksi mampu mengatasi kebutuhan pangan di masa depan, di saat populasi manusia sudah demikian besar dan ancaman perubahan iklim yang berpengaruh pada kegagalan panen tanaman pangan.

Selama penelusuran benih, para ilmuwan berjalan kaki, bermobil, memakai kano (perahu kecil), berkuda, bahkan mengendarai gajah ke berbagai pelosok di seluruh dunia. Ada sekitar 100 ilmuwan yang berhasil mengumpulkan 4.644 contoh benih dari 371 jenis tumbuhan liar. Beberapa tumbuhan diantaranya bahkan terancam punah.

“Ekspedisi yang kami lakukan bukanlah piknik ke taman. Kami menuju kawasan liar antah berantah yang butuh daya tahan fisik dari sengatan panas, debu, cengkraman dingin, keringat, bahkan berlindung dari hewan predator buas mulai lintah sampai harimau,” kisah Hannes Dempewolf, ilmuwan senior dan pimpinan dari Crop Trust.

Daerah yang dikunjungi timnya, lanjut Hannes, seliar lokasi yang ada dalam adegan film fiktif Indiana Jones.  Proyek penelusuran benih ini merupakan hasil kerja sama antara Crop Trust dengan Royal Botanic Gardens dan Kew’s Millenium Seed Bank (MSB). Sementara dana ekspedisi didapatikan dari hibah Pemerintah Norwegia. Proyek ini dinilai paling ambisius dari kerjasama lintas negara dalam konteks mengumpulkan benih tumbuhan untuk dikelola jadi bahan pangan. Sebanyak seratus ilmuwan yang berpartisipasi berasal dari 25 negara di empat benua.

Benih ini nantinya dikembangkan untuk mensolusikan gagal panen massif akibat bencana perubahan iklim, seperti hujan badai, banjir, dan naiknya suhu ekstrim yang merusak kesuburan tanah.  Benih ini juga dipersiapkan guna menghadapi bahaya deforestasi, konflik masyarakat (perang) yang berkelanjutan, sekaligus penganekaragaman sumber makanan juga untuk keamanan sumber makanan global.

“Buah pisang adalah salah satu jenis tanaman yang terancam karena kian banyak penyakit dan gangguan pada tanaman ini,”ungkap manajer proyek, Chris Cockel. Karena itu perlu dikembangkan studi genetik yang menjadikan pisang tahan terhadap berbagai ancaman penyakit.

Menurut laporan PBB, suplai makanan dalam kondisi terancam. Hal ini terlihat dari menghilangnya dengan cepat sejumlah tanaman dan spesies hewan di tengah kebutuhan sumber makanan untuk mencukupi populasi dunia yang kian banyak. Sementara di saat bersamaan, sumber makanan kian sedikit di tengah munculnya serangan hama, penyakit dan kekeringan atau cuaca ekstrim yang ditimbulkan perubahan iklim

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]