× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Gunakan Energi Terbarukan Demi Kualitas Udara

By Redaksi
Dok. CERA

Jakarta – Majalahcsr. Energi tidak bisa digunakan hanya dari satu macam sumber saja, contohnya Denmark yang sejak tahun 1970an sudah melakukan pergeseran dari energi fosil  ke energi terbarukan. Untungnya Negara Denmark melakukan hal tersebut, karena pada tahun 1973 di Denmark terjadi krisis energi.

Semua berawal dari krisis global pertama minyak bumi sekitar tahun 1973-1974 yang kemudian membuat Denmark sadar bahwa negerinya akan bangkrut jika terus bergantung pada impor minyak bumi. Chaos masalah energi berawal dari pecahnya perang Timur Tengah pada 6 Oktober 1973.

Seperti yang dikutip dari Kompas.com, krisis minyak global pertama terjadi karena negara-negara Arab menggunakan minyak sebagai senjata untuk menekan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat yang berpihak kepada Israel. Pada awal November, negara-negara Arab mengurangi produksi minyaknya hingga 25 persen. Denmark bersama Jepang pun kelimpungan.

Meskipun hal ini sulit dan perlu waktu berpuluh tahun untuk mendapatkan model energinya, tapi usaha ini berbuah manis. Denmark yang kaya akan angin mendapatkan energinya dari tenaga angin.

Perwakilan Kedutaan Besar Denmark, Kurt Jensen mengatakan, selain mengubah secara teknis energi fosil ke energi terbarukan, perlu juga mengedukasi konsumen agar berperilaku hemat energi dan mensosialisasikan bahwa energi terbarukan lebih murah. Setelah beberapa persiapan dilakukan, Denmark pun bisa menggunakan energi dari tenaga angin sebesar 40% pada 2015, 2020 80% dan menargetkan penggunaan energi terbarukan 100% pada 2050.

“Itu tidak bisa terjadi jika tidak ada pengajaran mengenai hemat energi,” ujar Jensen saat media briefing yang bertajuk “Mengubah Kebijakan Energi Demi Mengatasi Masalah Polusi Udara dan Kesehatan” rabu (18/10).

Perwakilan Kedubes Swedia, Paul Westin mengatakan penggunaan energi masing-masing Negara tentu hak masing-masing Negara. Tapi jika masyarakatnya tergantung ke penggunaan energi fosil, namun ada sumber energi yang lebih baik, kenapa tidak?

Pernah Swedia dilanda krisis lingkungan dan kesehatan karena penggunaan energi fosil yang mengakibatkan rusaknya hutan yang diakibatkan tingginya kandungan sulfur. Hal ini pun membuat Swedia mengubah penggunaan energinya menjadi energi terbarukan.

Kualitas udara Indonesia pada 20-30 tahun lagi berpotensi setara dengan Cina yang terkenal akan kualitas udaranya yang buruk. Sebuah analisis terbaru dari International Energy Agency (IEA), pada tahun 2016 memperkirakan polusi udara bertanggung jawab atas kematian dini sekitar 60.000 orang di Indonesia.

Swedia memiliki penduduk 10 juta jiwa, Denmark setengahnya yaitu juta jiwa dan Indonesia 25 kali lipat dari Swedia. Apakah Indonesia bisa langsung mengubah penggunaan energinya menjadi energi terbarukan? Tentu tidak, Indonesia masih bisa menggunakan energi fosil tetapi harus juga melihat energi terbarukan.

Pencemaran udara khususnya partikel PM 2,5 dan PM 10 akibat pemanfaatan batubara sebagai sumber tenaga listrik akan menjadi semakin parah dengan kebijakan pemerintah yang terus mengutamakan PLTU Batubara sebagai energi utama.

Pakar dari International Institute for Sustainability Development (IISD), Philips Gass, menjelaskan bahwa batubara bukanlah sumber energi yang murah. Anggapan batubara lebih murah semata-mata karena biaya pemanfaatan batubara tidak mencakup biaya sosial ekonomi, lingkungan hidup, dan pencemaran lingkungan yang saat ini ditanggung oleh masyarakat dan negara.

“Mengenai biaya batubara, selain subsidi, ada juga emisi gas rumah kaca dan polusi udara. Hal ini yang membuatnya mahal,” ujar Gass.

Dalam penelitian IISD yang berjudul “Dukungan Finansial bagi Batubara dan Energi Terbarukan di Indonesia” memperlihatkan bahwa subsidi yang diterima oleh batubara jauh lebih tinggi dibandingkan energi terbarukan. Terdapat 15 tipe subsidi yang diterima batubara dengan estimasi jumlah total sebesar Rp8,5 triliun pada tahun 2015 dan ini belum termasuk beberapa bentuk keringanan fiskal yang tidak dapat dikuantifikasi.

Dok. IISD

Apabila subsidi tersebut dihilangkan ditambah lagi dengan biaya eksternalitas dari dampak negatif sosial ekonomi dan lingkungan hidup, maka energi batubara menjadi energi mahal dengan biaya yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan energi terbarukan,” jelasnya.
Sesungguhnya biasa produsi listrik pada awalnya sebesar 4 sen per kwh, tapi setelah ditambah biaya lain seperti biaya polusi dan lainnya menjadi 11 sen per kwh. Sehingga dengan informasi yang memadai ini indonesia diharapkan bisa beralih ke energi terbarukan.

Namun, Jensen mengingatkan bahwa untuk menggolkan kebijakan prosesnya luar biasa. LSM juga berperan serta dalam menjalankan perannya untuk menggolkan suatu kebijakan. Pemerintah juga harus mendukung misalnya untuk pajak diberikan green tax untuk semuanya terutama yang berkaitan dengan lingkungan.

 

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]