× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

GLC 2019, Upaya Ponggok Menuju Desa Berwawasan Lingkungan

By Redaksi

Menyebut nama Ponggok, mau tak mau langsung menuntun kita pada kabar viral beberapa tahun terakhir. Desa yang berada di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini telah menjadi sumber inspirasi sebagai desa yang sukses memanfaatkan dana desa untuk kesejahteraan warganya. Kini, upaya berkelanjutan kembali digaungkan. Desa Ponggok akan terus belajar dan bergerak maju, diawali dengan momentum diselenggarakannya Green Literacy Camp (GLC) 2019, yang dibuka Kamis (05/07) kemarin.  

GLC 2019 merupakan festival literasi desa yang dikemas dengan semangat mempromosikan kehidupan berkelanjutan dan wisata ramah lingkungan. Sejumlah nama pegiat lingkungan dan literasi dihadirkan untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada warga Ponggok dan desa-desa sekitar, serta pengunjung yang meminati literasi.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Ponggok, Junaedi Mulyono menyampaikan terimakasihnya kepada semua pihak yang terlibat mendukung upaya desanya untuk terus meningkatkan kesadaran dalam menjaga alam baik tanah, air, udara, secara keberlanjutan. Hal yang sejalan dengan tema Ponggok Wani Sinau, yang artinya Ponggok berani belajar. “Semoga rencana Ponggok Makmur Lestari 2025 dapat terwujud,” harap Junaedhi sebelum memukul kenthongan sebagai penanda dibukanya acara yang berlangsung tangga 4 hingga 7 Juli 2019 tersebut.

Pada pembukaan acara, warga bersama pengunjung ambil posisi berdiri mengelilingi umbul teranyar yang baru tuntas dibangun, Umbul Besuki. Sebagian undangan dan narasumber duduk di kursi yang disediakan, dan bersama-sama berdiri saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lagu kebangsaan 3 stansa pun berkumandang di area umbul yang dinaungi dua beringin besar.

Umbul Harjo – Kompas

“Pendidikan di sekolah saja tidak cukup untuk meningkatkan literasi kita bersama. Bangga dan gembira, acara literasi seperti ini digagas. Ini bisa menjadi bukti nyata bangsa Indonesia bisa melewati prahara. Optimis untuk masa depan kita bersama,” ungkap salah satu narasumber, Santi Indira Astuti yang didaulat untuk menyampaikan sambutan mewakili narasumber. “Saya yakin, selesai acara ini pusaran energi postif akan makin meluas,” tambahnya.

Santi menjadi bagian dari 27 narasumber yang dihadirkan dari berbagai kota untuk berbagi di GLC 2019 ini. Ada 9 venue yang tersebar di beberapa titik desa, yang menjadi lokasi pemberian materi untuk 47 kelas. Diharapkan melalui momentum GLC 2019 ini warga Ponggok dan desa sekitar dapat mengembangkan kemampuan literasi sebagai landasan untuk menjaga alam yang menjadi bumi mereka.

Direktur BUMDes yang sekaligus menjadi ketua penyelenggara GLC 2019, Joko Winarno mengatakan acara ini merupakan implementasi dari visi-misi kepala desa. “Selama ini banyak yang datang untuk melakukan studi banding. Tentunya ini bukan hanya tugas pemerintah. Ke dapan masyarakat harus lebih dimampukan untuk melakukan perannya. Green di sini kan misinya untuk menjaga mata air yang penting buat warga. Ada 3 P. Profit, mendatangkan keuntungan bagi warga; people, menjadi sarana bagi warga meningkatkan skil-nya; planet, memampukan warga untuk menjaga bumi,” ungkap Joko. Menurutnya, dengan meningkatnya perekonomian Desa Ponggok, warga ada kecenderungan berada di zona nyaman, tidak mau belajar.

“Diharapkan acara ini menumbuhkan semangat dan kesadaran warga utuk belajar. Bukan hanya untuk warga Ponggok, acara ini gratis bagi warga desa sekitar Ponggok,” imbuhnya.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]