× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Gerakan Literasi Untuk Masyakat Pro Lingkungan

By Redaksi

Dunia literasi dianggap memiliki andil dalam memberikan pemahaman terhadap upaya pelestarian lingkungan. Tak heran jika cukup banyak kegiatan yang menggabungkan kedua hal ini. Seperti diselenggarakannya Green Literacy Camp (GLC) 2019 di Ponggok yang berlangsung 4-7 Juli 2019.

“Wacana lingkungan membutuhkan literasi. Karena selama ini banyak informasi yang menyesatkan. Isu lingkungan juga sarat hoax. Perlu diluruskan oleh komunitas-komunitas dengan cara berjejaring,” ungkap salah seorang pemateri, Rinda Aunillah Sirait pada Sabtu (6/7/2019). Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran ini hadir sebagai aktivis Profauna Indonesia, lembaga swadaya masyarakat yang bergelut dalam isu perlindungan hutan dan satwa liar.

GLC 2019 merupakan sebuah upaya berkelanjutan sebagai bagian dari visi dan misi Junaedi Mulyono sebagai Kepala Desa Ponggok. Disadari percepatan pertumbuhan ekonomi dan pendidikan yang tak berjalan seimbang. Seperti dikatakan Direktur BUMDes Ponggok, Joko Winarno, ada potensi warga terlena dengan kemajuan yang terjadi di desanya. Berada di zona nyaman dan tak ada keinginan meningkatkan kemampuan. Maka digaungkan “Ponggok wani sinau” sebagai sebuah ajakan sekaligus penyemangat bagi warga Ponggok untuk terus belajar.   

“Literasi itu nantinya menjadi semacam penyambung apa yang terjadi di lingkungan untuk mendukung lingkungan menjadi ‘green’. Literasi menjadi alat atau senjata, sesuatu yang  menggugah hati orang untuk melakukan sesuatu,” ungkap Ita Siregar saat dimintai komentar. Penulis asal Jakarta ini berbagi kepada peserta GLC 2019 tentang Penulisan Esai dan Jurnalisme Warga.

Apresiasi positif juga disampaikan oleh penyair asal Yogyakarta, Joko Pinurbo. Menurutnya agenda serupa perlu disebarluaskan ke berbagai daerah. “Bagaimanapun negeri kita ini negeri agraris. Namun, dalam perkembangannya, hubungan kita dengan alam semakin renggang sehingga dalam banyak hal kita jadi kehilangan jati diri dan keseimbangan hidup,” ungkapnya. Pria yang akrab disapa Jokpin ini mengatakan, kegiatan literasi dapat membantu mengasah kepekaan dan kemampuan membaca misteri alam dan lingkungan yang kaya raya untuk mengembangkan filosofi hidup bersama yang berbasiskan kearifan lokal. “Kita perlu belajar kembali mengenai nilai-nilai kehidupan dari alam dan lingkungan kita,” tandas penyair yang baru-baru ini menerbitkan novel pertamanya.

Belum lama ini, gema kepedulian terhadap lingkungan dari kegiatan literasi juga terdengar dari ujung selatan Sulawesi. Makassar International Writers Festival (MIWF) 2019 yang berlangsung pada 26-29 Juni 2019 mengusung tema People. Seperti penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, pesta literasi yang sudah memasuki tahun ke-9 ini tak hanya mengetengahkan  persoalan puisi, buku, budaya namun juga isu lingkungan. Tahun ini MIWF mengangkat konsep A Zero Waste Festival untuk mengurangi penggunaan sampah plastik.

Salah seorang penyair yang terlibat dalam MIWF, Aan Mansyur mengatakan, ajakan untuk berkomitmen terhadap lingkungan ini ditunjukkan antara lain dengan kewajiban para relawan dan tim kerja untuk membawa botol air minum isi ulang. “Ada dibentuk juga unit kerja Zero Waste yang bertugas selama festival. Semua sampah yang dihasilkan di festival akan dipilah, lalu dijadikan kompos atau didaur ulang. Ini sudah berlangsung sejak tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Aan saat ditemui di Ponggok.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]