× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Gelombang Panas India Mencapai 123 Derajat, Terpanas Kedua Dalam 65 Tahun

By Redaksi
Gelombang Panas India - weather.com

Gelombang panas yang mematikan menyambangi  India Utara. Dengan suhu rata-rata di atas 120 derajat, disampaikan peringatan tentang kemungkinan kekurangan air dan potensi gangguan kesehatan.

Departemen Meteorologi India (IMD), seperti dilansir Times of India menyebutkan, kota gurun Rajasthan di Churu memiliki suhu tertinggi yakni 123,4 derajat Fahrenheit atau 50,8 derajat Celsius pada awal Juni lalu. Ini menjadi suhu tertinggi dibandingkan wilayah lain yang rata-rata mencapai 115 derajat dalam pekan terakhir. Tapi ini bukan yang pertama bagi Rajasthan. Tiga tahun lalu, pada 19 Mei 2016, Phalodi di Rajasthan menjadi tempat dengan suhu terpanas di India, mencapai 123,8 derajat Fahrenheit atau 51 derajat Celcius. Panas tersebut bertahan sepanjang minggu di seluruh negara bagian Rajasthan, Maharashtra, Madhya Pradesh, Punjab, Haryana, dan Uttar Pradesh.

Gelombang panas di India dilaporkan Phys.org  telah menimbulkan kematian. Peringatan juga telah disampaikan agar masyarakat bersiap. Diberitahukan gelombang panas yang parah kemungkinan akan bertahan selama lebih dari dua hari, dan jumlah total gelombang panas yang parah kemungkinan akan melebihi enam hari. Diperingatkan pula, semua kelompok umur berpotensi terserang penyakit panas dan stroke, dan disarankan menyiapkan perawatan ekstra bagi mereka  yang rentan. Sungai dan danau di wilayah tersebut mulai mengering, meningkatkan kekhawatiran akan kekurangan air di beberapa kota besar, termasuk Chennai. Dikabarkan, beberapa orang berhenti mencuci pakaian mereka untuk menghemat air selama kekurangan ini.

Kondisi panas ini diperburuk dengan musim hujan Asia Selatan tahunan, yang biasanya memulihkan persediaan air India, kali ini tampaknya datang terlambat. Times of India melaporkan, India mengalami musim pra-monsun terkering kedua sejak 1954. “Hujan sebelum musim hujan cenderung mengatasi beberapa masalah kekurangan air yang parah di suatu wilayah,” ungkap Kepala Aplikasi Iklim IMD, Pulak Guhathakurta, kepada Times. “Bahkan curah hujan pra-musim yang buruk dapat membantu mempertahankan kelembaban tanah yang diperlukan untuk pertanian.”

Penelitian telah menunjukkan, curah hujan pra-musim hujan telah menurun selama seabad terakhir di India Barat.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]