× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Florian Wegenast mendesain furnitur yang menciptakan “taman sementara” di ruang-ruang kecil

By Redaksi
Dok. Inhabitat.com

Belanda – Majalahcsr. Desain lulusan Florian Wegenast telah menciptakan berbagai furnitur untuk penggemar tanaman, sebagai cara memaksimalkan ruang hijau di lingkungan perkotaan yang sempit. Wegenast memulai rangkaian Open Garden-nya saat belajar di Central Saint Martins di London, namun mempresentasikan perkembangan terakhir proyek ini selama Pekan Desain Belanda tahun ini.

Rangkaian furnitur yang diciptakan mencakup bangku, bangku dan meja yang masing-masing memungkinkan pengguna untuk menyimpan tanaman, bagi penggemar berkebun yang tinggal di ruang yang terbatas.

“Banyak dari kita tidak memiliki kemewahan memiliki taman di luar rumah, tujuan saya dengan rangkaian furnitur pabrik desain terbuka ini adalah untuk mendorong orang untuk mulai menggunakan desain ini sebagai alat, dan menciptakan interaksi baru antara manusia, tumbuhan dan rumah.” kata Wegenast kepada Dezeen.

Menurutnya, meskipun orang mungkin tidak memiliki ruang untuk berkebun di dalam rumah setiap saat, rangkaian ini memungkinkan adanya pengalaman berkebun sementara, namun tetap ada ruang bagi lipatan meja makan atau tempat tidur lipat.

Dua potongan terbaru dalam koleksi tersebut dibuat dari terrazzo dan triplek, kombinasi Wegenast yang dibuat untuk membuat furnitur lebih tahan air.

Dudukan kursi tanpa sandaran dibuat dari dua lapis plywood dan diatasnya diberi alas terrazzo. Didalamnya, diberi pot berbahan terrazzo yang bagian bawahnya telah dipotong sehingga bisa dipasang di dalam kursi.

Kursi ini sepaket dengan dua kursi panjang. Satu kursi didesain memiliki kompartemen-kompartemen kecil yang bisa diisi tanaman di salah satu sisinya, kursi kedua memiliki ruang untuk dipasangi terrazzo bagian bawah dan rangkanya. Semua karya Wegenast dipasang tanpa menggunakan paku, lem, atau alat-alat perekat lainnya.

Dok. Inhabitat.com

Dok. Inhabitat.com

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]