× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Filantropi Lintas Iman untuk Perkuat Kerukunan dan Keberagaman.

By Redaksi
Filantropi Lintas Agama Dok : Rukmi Hapsari

Jakarta – Majalahcsr. Afrida salah satu member Mari Berbagi yang beragama Nasrani saat melakukan perjalanan terpaksa menginap. Saat itu tempat menginap berupa sebuah pesantren. Afrida yang mempunyai pengalaman kurang menyenangkan karena sering menjadi bahan olok-olok saat pelajaran agama Islam ketika dirinya duduk di bangku sekolah merasa kurang setuju. Namun Afrida berpikir keras untuk mengalahkan rasa kurang enaknya akibat perlakuan yang pernah diterima dulu karena tidak ada pilihan lain. Namun akhirnya Afrida pun mau menginap bersama teman-temannya.

Apa yang terjadi? Istri ustad memperlakukan Afrida berbeda. Istri ustad menyambut Afrida dengan lemah lembut dan tidak membeda-bedakan dengan temannya yang beragama muslim. Afrida terhenyak, apa yang dipikirkannya selama ini ternyata tidak benar. Pemuka agama yang selama ini ditakutinya, malah menjadi teman baru yang membantunya disaat kesulitan.Kisah ini diceritakan oleh Ketua Seknas Gerakan Mari Berbagi / GMB, Muhammad Nuzul dalam Peran dan kontribusi filantropi lintas iman dalam memperkuat kerukunan dan keberagaman di Indonesia, Philantropy Learning Forum ke -17, selasa (6/6) di @america Jakarta.

Seharusnya hal ini yang harusnya dilakukan dikalangan masyarakat. Pasalnya, masyarakat saat ini banyak yang telah mengkotak-kotakkan diri dengan membatasi agama tertentu untuk menyumbang pemeluk keyakinan tertentu. Filantropi Indonesia (FI) menganggap bahwa filantropi lintas iman bisa memperkuat kerukunan dan keberagaman di Indonesia, karena dilatih dan didorong untuk peduli dan membantu sesama tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras dan golongan.

Anggota Badan Pengarah Filantropi Indonesia, Dr. Haidar Bagir berpendapat, saat ini sikap-sikap untuk membenci di kalangan luar agama sendiri dalam titik yang sangat buruk. Bahkan antar agama Islam sendiri juga sangat buruk. “Curiga kepada sesama muslim yang berbeda pandangan dan aliran,” ujarnya.

Andre dari Budha tzu chi menuturkan bahwa lembaga kemanusiaan Budha Tzu Chi tidak membeda-bedakan ras, agama, suku dan warna kulit dalam menolong sesame yang sedang tertimpa musibah ataupun bagi yang membutuhkan. Ia mencontohkan, Budha tzu chi yang ada di Turki dipimpin oleh seorang muslim. Bahkan di tempat lain ada yang dipimpin oleh seorang Nasrani.

Filatropi dimaknai sebagai kegiatan kedermawanan atau berbagi sumber daya yang didasarkan cinta kasih kepada sesama manusia dengan tujuan mengatasi persoalan sosial dan memajukan kepentingan umum. Salah satu kegiatan filantropi yang saat ini berkembang pesat adalah religious based Philantropy atau filantropi yang didorong dan dilandasi ajaran keagamaan. Dalam memberikan bantuan dan sumbangan dilakukan tanpa membeda-bedakan suku, agama atau ras tertentu.

Dalam sebuah masyarakat yang bercorak pluralistic seperti Indonesia, memang diperlukan lembaga-lembaga filantropi yang bernuansa lintas iman, lintas agama bahkan lintas kepercayaan. Fungsi lembaga-lembaga ini akan menjembatani persoalan-persoalan kemanusiaan secara lebih luas sehingga dapat bersama-sama membangun bangsa dan Negara ke arah yang lebih baik.

 

Avatar

Redaksi

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]