× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Faisal Basri Tekankan Pentingnya Semua Pihak Kawal Pemerintah

By Redaksi
Faisal Basri ekonom asal Universitas Indonesia Foto: Dok. Institut Harkat Negeri

Pemerintahan baru sedang menuju konsolidasi. Sesuai dengan pidato kenegaraan usai pelantikan, Minggu (20/10), Presiden RI terpilih, Joko Widodo (Jokowi), berupaya menyusun sekaligus menyempurnakan program yang sudah berlangsung di era sebelum. Dalam salah satu isi pidatonya, Presiden juga mencanangkan Indonesia Emas. Masyarakat menaruh harapan besar  pada Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai nakhoda negara untuk kedua kalinya dalam memperbaiki bangsa. Banyak ragam masalah yang  harus diselesaikan, salah satunya adalah ekonomi.

Bersamaan dengan itu, Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, menyampaikan kegelisahannya, perlunya semua pihak untuk mengawal kepemimpinan Jokowi – Amin Ma’ruf sebagai presiden dan wakil presiden. Komentar Faisal disampaikan pada acara launching dan bedah bukunya yang berjudul: “Menuju Indonesia Emas: Menggapai Negara Maju Berkeadilan” di Museum Nasional Jakarta, Senin (21/10/2019). Buku ini ditulisnya bersama Sekjen Kementerian Perindustrian, Haris Munandar.

Menurut Faisal, Indonesia perlu diwaspadai karena sudah mulai memasuki kuadran power of the state, yang membiaskan demorasi. Kondisi yang tidak lagi ada oposisi. “Semua (termasuk oposisi) menyemut ke dalam kekuasaan,” ujar Faisal.  Pada akhirnya hal ini cenderung mengarah ke wilayah yang Faisal sebut “Despotic Leviathan”.  Yaitu raksasa lalim dalam kekuasaan.

Faisal lalu mencontohkan, “Teman-teman Fakultas Ekonomi seluruh Indonesia mengirim surat terbuka untuk meminta Presiden mengeluarkan Perppu (menggantikan UU revisi KPK),” kata Faisal. Yang terjadi para akademisi ini mendapat teror. Padahal, menurut Faisal, semua akademisi itu sangat pro Jokowi. Ruang terbuka untuk menyampaikan sesuatu menjadi hilang, kata ekonom dan pendiri INDEF ini.

“Pidato kemarin saya cukup yakin tidak dibuat oleh istana. Tidak oleh KSP (kantor staff presiden), staff khusus presiden bidang ekonomi, tidak oleh menteri keuangan, atau Bappenas,”sebut Faisal. Isi pidato tersebut dinilai Faisal sangat menafikan sejumlah keberhasilan pemerintahanan Jokowi sebelumnya. Pembuat teks pidato seolah-olah menempatkan Jokowi belum pernah menjadi presiden. Padahal selama 5 tahun ini ada program pemerintah yang dinilai Faisal cukup berhasil, tapi tidak terungkap di isi pidato.

“Buku ini menunjukkan keberhasilan-keberhasilan yang dilakukan Jokowi,” ungkap Faisal. Keberhasilan yang menurut Faisal tidak disinggung dalam pidato pertama presiden sesaat usai pelantikan.

Kebebasan berpendapat pun mendapat sorotan dari Faisal. Menurutnya, kini ASN sangat dibatasi hak pendapatnya. Bahkan sekedar memberikan “like” dalam medsos pun tak diperkenankan dan diperkarakan penegak hukum.  Kalau semua pihak mendiamkan, dikhawatirkan, pemerintah akan terjebak ke dalam pemerintahan yang represif dan otoriter. Sehingga, Faisal menggarisbawahi, perlu diharapkan semua (stake holder) untuk mengawal pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]