× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Ela Bhatt: Bangun Self Employed Women’s Associaton untuk Kemandirian dan Jaminan Perempuan Pekerja

By Redaksi

Pada awal tahun 1970-an, tenaga kerja di India didominasi oleh para pekerja sektor informal. Dan lebih dari 90%nya adalah kaum perempuan. Mayoritas garapan mereka adalah bidang wirausaha mikro yang sifatnya mempekerjakan diri  sendiri (self-employed). Sebagai buruh lepas, mereka tak terlindungi secara hukum. Adalah seorang Ela Bhatt, yang kemudian membawa solusi bagi para perempuan pekerja lepas tersebut.

Para buruh lepas, jangankan jaminan sosial, bahkan kartu identitas pun mereka banyak yang tak memiliki. Perlakuan tak adil juga sering mereka dapatkan, seperti dibayar dengan tarif di bawah upah minimum, PHK tanpa pesangon, dan siklus pendapatan yang tak stabil. Tak heran jika banyak di antara mereka yang menyewa rumah tinggal saja tak mampu. Seperti yang terjadi di kawasan Ahmedabad, Provinsi Gujarat.

Ella Bhatt – Upsides

Para perempuan di wilayah ini banyak yang terjun sebagai pekerja tekstil, baik sebagai pedagang kain bekas atau tenaga kerja pendukung lain seperti tukang panggul dan pendorong gerobak. Ketika sudah tak tahan mengalami ketidakadilan, sekelompok buruh dan wirausaha mikro perempuan mengadukan nasib mereka ke Textile Labour Association (TLA), lewat perantaraan seorang kontraktor kerja.

TLA adalah asosiasi buruh tekstil bentukan Mahatma Gandhi pada 1917 di Ahmedabad, yang aktif melakukan advokasi untuk pemenuhan hak-hak buruh. Di sinilah para perempuan pekerja tersebut berjumpa dengan Ela Bhatt, yang saat itu sebagai pengacara spesialis tenaga kerja perempuan dan memimpin unit TLA bernama Women’s Wing.

Ela Bhatt – Wikipedia

Segera setelah melakukan perjumpaan dengan para perempuan pekerja, Ela Bhatt menuangkan hasilnya dalam bentuk artikel yang kemudian dimuat di media massa. Tulisan yang berdampak. Para pedagang kain memberikan tanggapan. Mereka mengklaim telah berlaku adil kepada para perempuan pekerja tersebut. Klaim inilah yang kemudian dijadikan Bhatt landasan melakukan manuver berupa tekanan sosial kepada para pedagang kain.

Bhatt belajar dari Gandhi tentang perlawanan damai. Ia mencetak klaim tersebut dalam bentuk kartu lalu diedarkan ke kalangan pedagang kain. Dengan memegang kartu tersebut, para pedagang bakal jengah ketika masih berlaku tak adil. Peristiwa tersebut menjadi pembicaraan masyarakat. Makin banyak perempuan pekerja yang mendapat pendampingan Women Wing-nya TLA, hingga kemudian tercetuslah ide membuat asosiasi yang dapat mewadahi aspirasi dan memfasilitasi kebutuhan mereka.

Ela Bhatt – Pinterest

Self Employed Women’s Association (SEWA) lahir pada Desember 1971. Tahun berikutnya SEWA resmi terdaftar secara hukum dengan Arvind Buch (pemimpin TLA) sebagai ketua dan Ela Bhatt sebagai Sekretaris Umum. Meski bukan sebagai ketua, Bhatt-lah yang sesungguhnya bergerak. Dengan pengalamannya sebagai pengacara hak buruh dan latar belakang pendidikannya yang sempat mendapatkan diploma di bidang tenaga kerja dan koperasi dari Afro-Asian Institute of Labor and Cooperative di Tel-Aviv, Israel, Ela Bhatt membangun dan mengembangkan SEWA sebagai sebuah organisasi berbasis gerakan dari bawah (bottom-up movement).

Bhatt memfokuskan operasional organisasi pada pemenuhan dua kebutuhan utama anggota SEWA yakni jaminan kerja dan kemandirian dengan cara yang fleksibel dan dijalankan berdasarkan prinsip Gandhi. Adapun prinsip Gandhi yang dimaksud adalah satya (kejujuran), ahimsa (tanpa kekerasan), dan brahmacharya (pengendalian diri berupa kesabaran dan kekuatan untuk bersandar pada diri sendiri, atau self reliance).

Sifat SEWA yang fleksibel ternyata menjadikan anggota tim tumbuh secara alami. Mereka belajar untuk menjadikan kesulitan sebagai tantangan, bukan dengan menghindari tapi menghadapi dan berani mengambil risiko. Bencana seperti gempa atau banjir, atau kesulitan lain dianggap sebagai kesempatan, bukan rintangan. Anggota juga tumbuh dalam motivasi tinggi, energik, dan penuh komitmen. SEWA berkembang sebagai organisasi yang fleksibel dan mampu bekerjasama dengan berbagai organisasi yang bertujuan memberdayakan para perempuan miskin produktif.

Sebagai penggagas dan pemimpin SEWA, Ela Bhatt dianggap telah berhasil mengimplementasikan model manajemen partisipasi yang efektif. Pada tingkat cabang, SEWA memiliki tiga lapis kepengurusan, yakni koordinator distrik, kepala tim, dan pengurus tingkat desa yang membantu kepala tim. Tugas utama kepala tim dan pengurus tingkat desa adalah menyosialisasikan SEWA dan merekrut anggota. Sedangkan koordinator distrik berfokus mengoordinasikan kegiatan dan hasil kerja setiap kepala tim dan pengurus tingkat desanya.

Ela Bhatt- The New York Times

Jika para penduduk di suatu desa setuju untuk bergabung, pengurus akan mengangkat salah satu di antara mereka yang secara sukarela bersedia menjadi pemimpin desa. Pemimpin desa adalah mitra dalam menyebarkan informasi lebih lanjut mengenai SEWA, manfaat bergabung, membantu para perempuan desa mengidentifikasi kebutuhan mereka, dan melakukan proses peningkatan kapasitas.

Dari masa ke masa, SEWA terus bergerak, membesar dan meluas. Di Gujarat, SEWA telah mewadahi 84 koperasi, 81 kelompok produsen di perdesaan, 6 organisasi jaminan sosial dan kelompok simpan pinjam, termasuk di dalamnya SEWA Bank dan Asuransi Kesehatan. SEWA sudah bergerak secara nasional melalui National Alliance of Street Vendors of India, SEWA Bharat, Homenet India, dan Homenet South Asia; dan untuk level internasional melalui Homenet, Streetnet, dan SEWA in Turkey.

SEWA telah berkembang ke provinsi-provinsi lain di India dengan anggota sudah hampir dua juta perempuan pekerja atau wirausaha mikro. Berkat SEWA, upah buruh lepas berhasil ditingkatkan dan  hampir semua anggotanya telah memiliki kartu identitas dan jaminan sosial. Metode SEWA juga telah direplikasi di beberapa negara, seperti Afrika Selatan, Yaman, dan Turki, dengan dukungan Bank Dunia.

Atas perjuangannya, Ela Bhatt mendapatkan berbagai penghargaan tingkat dunia, seperti Ramon Magsaysay Award (1977), Right Livelihood Award (1984), Global Fairness Initiative Award dari Hillary Clinton (2010), serta Radcliffe Medal dan Indira Gandhi Prize for Peace (2011). Kini, di usianya yang hampir 86 tahun, Ela Bhatt masih terus berkarya. Ia masih berfokus pada pemberdayaan perempuan. Bagi Ela Bhatt, merupakan sebuah kegagalan moral kita sebagai manusia jika masih menoleransi kemiskinan untuk terus ada di tengah masyarakat.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]