× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Dunia Anak Dalam Bisnis Perkebunan Kelapa Sawit

By Redaksi
Dok. Cargill

Jakarta – Majalahcsr. Isu tentang keterlibatan anak dalam bisnis terus menjadi sorotan berbagai pihak. Apalagi anak, yang masih harus menikmati dunianya (bukan sebagai pencari nafkah), sering dieksploitasi sebagai tenaga kerja murah.

UNICEF Indonesia melakukan kajian yang melingkupi antara lain tujuh bidang mengenai “Kelapa Sawit dan Anak di Indonesia”. Industri kelapa sawit merupakan salah satu penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar dan membawa dampak langsung dan tidak langsung, baik positif dan negatif terhadap anak. Isu anak dalam dunia usaha bukan hanya pekerja anak tapi juga hal-hal lainnya seperti yang dapat dilihat dalam kajian UNICEF tersebut.

Bidang studi fokus UNICEF yang pertama dari tujuh adalah Hak-hak Ibu Hamil dan Menyusui.  Menurut Partnership (CSR) Officer – Childrens’s Right and Business Principles UNICEF Indonesia, Sagita Adesywi, anak-anak yang tidak mendapatkan ASI (air susu ibu) 14 kali lebih rentan meninggal dunia dari pada yang diberikan ASI.

Gita menuturkan, salah satu tantangan pekerja perempuan di perkebunan kelapa sawit adalah kesempatan untuk menyusui anaknya. “Banyak pekerja perempuan menjadi buruh harian yang harus bekerja setiap hari, jika mereka tidak bekerja berarti tidak mendapatkan penghasilan,” kata Gita.

Salah satu jenis pekerjaan di perkebunan yang banyak dilakukan oleh pekerja perempuan adalah pekerjaan sebagai penyemprot pestisida. Jenis pekerjaan ini sangat berbahaya untuk perempuan hamil dan janin yang dikandung. Walaupun perusahaan sudah memiliki kebijakan tentang melarang wanita hamil bekerja sebagai penyemprot pestisida, namun beberapa pekerja perempuan ada yang menyembunyikan kehamilannya agar bisa tetap bekerja dan mendapat penghasilan.

Kedua Tempat Penitipan Anak (Child Care). Beberapa perusahaan menyediakan tempat penitipan anak dan tenaga pengasuh di perkebunan-perkebunan mereka. Tantangannya adalah selain tidak semua perusahaan menyediakan fasilitas ini juga kendala kualitas layanan tersebut.

“Salah satu tantangan yang ada adalah kurangnya pengetahuan tentang kebersihan dan kesehatan, seperti misalnya ada tempat penitipan anak yang menggunakan satu handuk untuk semua anak, sehingga penularan penyakit menjadi rentan,” terang Gita lagi.

Dok. Istimewa

Ketersediaan TPA di perkebunan juga bisa membantu para ibu untuk menyusui anaknya di tengah-tengah jam kerja dan memberikan rasa tenang bagi mereka karena tahu anak-anak aman dan terawasi.

Fokus ketiga Kesehatan dan Nutrisi. Anak yang tidak tercukupi kebutuhan gizinya cenderung  rentan terhadap risiko malnutrisi. Baik pertumbuhan fisik maupun otaknya akan kurang dari kebanyakan anak sebaya. Wilayah permukiman pekerja biasanya berada jauh di dalam area perkebunan. Tantangan yang dihadapi terkait pemenuhan gizi di daerah terpencil atau pedalaman ini adalah tidak selalu adanya tukang sayur sebagai salah satu sumber andalan membeli sayur atau ikan guna memenuhi kebutuhan gizi anak. Kendala lainnya adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi yang baik, sehingga ada juga persepsi yang menganggap bahwa makanan instan baik bagi anak.

“Di beberapa perkebunan, terdapat perusahaan-perusahaan yang menyediakan lahan dan juga perlengkapan bagi para pekerjanya untuk menanam sayuran. Hal ini tentunya membantu upaya pemenuhan gizi anak,” tambah Gita.

Lanjut fokus keempat yaitu Air, Sanitasi dan Kebersihan (Water, Sanitation and Hygiene). UNICEF menyoroti bahwa tantangan dalam mendapatkan air bersih juga bisa merambat pada kesehatan anak, salah satunya rentan terkena diare.

Gita menjelaskan, 58% dari semua kasus diare disebabkan oleh akses yang sulit atas air bersih, sanitasi dan higienis. “Indonesia juga menjadi negara nomor dua tertinggi di dunia yang masih buang air besar sembarangan,” paparnya.

Kelima mengenai Pendidikan. Banyak perusahaan yang mengisi kesenjangan yang ada dalam hal pendidikan dengan membangun sekolah dan juga menyediakan tenaga pengajar. Namun, tantangannya adalah kualitas dari pendidikan tersebut. Menurut Gita, karena daerah yang terpencil, para pengajar biasanya tidak bermukim di daerah setempat sehingga terdapat kendala di beberapa sekolah yang kekurangan tenaga pengajar.

Fokus keenam mengenai Perlindungan Anak. Lokasi pemukiman yang seringkali berada jauh di dalam perkebunan biasanya menjadikan salah satu kendala sulitnya mengurus surat tanda lahir atau akta kelahiran. Padahal setiap anak berhak atas identitas dirinya dan akta lahir ini penting antara lain saat anak akan bersekolah ataupun mengakses rumah sakit.

Ketiadaan akta lahir ini juga menempatkan anak-anak rentan terhadap risiko perdagangan anak dan bahaya eksploitasi lainnya.

Fokus terakhir UNICEF adalah Pekerja Anak dan Pekerja Muda. Banyak perusahaan yang saat ini sudah tidak lagi mempekerjakan anak atau pekerja di bawah umur, dan juga sudah memiliki kebijakan yang mendukung untuk pencegahan terjadinya pekerja anak. Namun, kebiasaan membantu orang tua dalam bekerja seringkali dilakukan. Biasanya para anak membantu orang tuanya usai mereka bersekolah.

Avatar

Redaksi

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]