× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Donasi Digital yang Kian Menjadi Fenomenal

By Redaksi
Ilustrasi Berdonasi Secara Digital. Foto : Dok. Istimewa

MajalahCSR.id – Kultur donasi sebagai bagian dari aktivitas filantropi sudah melekat di tengah masyarakat Indonesia. Namun kultur tersebut mulai tergerus oleh zaman dan teknologi digital.

Pertanyaannya, bagaimana postur dan rupa sosial kedermawanan di saat generasi sebelumnya mulai tergantikan oleh generasi milenial yang terkoneksi digital?

Gojek Indonesia bekerja sama dengan Kopernik melakukan riset seputar donasi digital yang mulai menggantikan cara konvensional. Hasil riset ini untuk memahami psikografis donatur di era digital termasuk perilaku dan motivasi donatur serta perkembangan ekosistem donasi digital di Indonesia.

Winny Triswandhani, Head of Corporate Communications Gopay, mengatakan, Gopay terlibat dalam filantropi karena adanya “DNA social impact” yang sudah melekat pada institusi induknya, Gojek.  

“Gopay ingin membantu pengguna untuk lebih mudah membantu sesama,” jelas Winny dalam webinar yang diselenggarakan Filantropi Indonesia bertajuk “Filantropi Digital di Indonesia : Prospek dan Tantangannya”, Kamis (17/12/2020).

Sejauh ini, lanjut Winny, Gopay sudah melakukan kerja sama donasi dengan lebih dari 400 rekan donasi yang menerima Gopay melalui kode QR, yang juga membantu dalam penyaluran dana.

Riset dilakukan dengan metode survei kuantitatif terhadap lebih dari 1.300 responden seluruh Indonesia dan wawancara kualitatif pada 15 pemangku kepentingan. Dalam riset juga terungkap laporan indeks global terkait perilaku donasi, data nasional donasi, dan data nasional platform galang dana.

“Berdasarkan hasil survei, kelompok milenial yang paling sering berdonasi, namun secara nominal paling tinggi adalah gen X,” ungkap Winny. Kaum milenial disebutkan rerata berdonasi 1,5x per bulan, sementara gen x rata-rata nilai nominal donasi ada di angka Rp. 120.000,00. Masa pandemi menurut hasil riset ternyata malah menaikkan rerata jumlah donasi dari Rp 64.000,00 menjadi Rp 110.000,00 atau meningkat hingga 72%.

“Kenapa masyarakat berdonasi? Pertama karena mereka terdorong oleh nilai yang dianut. Seperti jiwa solidaritas dan merasa tersentuh ketika melihat mereka yang kesulitan (nilai sosial sebanyak 57%). Ada juga nilai agama yang dianut oleh masing-masing masyarakat (38%),” papar jebolan fakultas psikologi Universitas Indonesia (UI) ini. Selain itu juga motivasi lainnya adalah isu kesehatan, dan keadilan sosial, serta kondisi pandemi covid-19.

Selanjutnya, faktor yang mendukung perkembangan donasi digital. Pertumbuhan donasi digital per tahun menurut Lembaga Amil Zakat (dari hasil wawancara kualitatif) meningkat hingga 2 kali lipat. Di sisi lain, pertumbuhan kumulatif organisasi nirlaba di platform galang dana meningkat 13 kali sejak 4 tahun terakhir.

Para donatur mengetahui inisiatif galang dana digital terbanyak melalui media sosial (48%), sementara platform digital yang digunakan untuk berdonasi adalah aplikasi (42%) dan galang dana digital (35%). Disebutkan pula faktor utama dalam memilih berdonsai digital adalah ketersediaan metode pembayaran digital (47%) dengan kemudahan. Kemudahan dan kredibilitas tetap menjadi pilihan donatur untuk berdonasi.

Adapun manfaat donasi digital bagi ekosistem filantropi, dijelaskan Winny, “Meningkatkan potensi penerimaan galang dana dari masyarakat, mendorong akuntabilitas dan transparansi, serta memudahkan manajemen pengelolaan donasi.”  

Untuk ke depannya yang perlu dilakukan adalah memperluas alternatif pembayaran, juga optimalisasi media sosial dan aplikasi chat untuk membangun kredibilitas  dan amplifikasi inisiatif penggalangan dana. Selain itu cara berkomunikasi yang humanis dan “story telling” sangat efektif untuk menggerakkan orang dalam berdonasi.

Di pihak lain, Firman Kurniawan, doktor dan akademisi UI, menyebut bahwa dalam penelitian sebelumnya, “Penularan Pesan Melalui Interaksi Sosial Dalam Pembentukan Kepedulian Milenial Terhadap Crowdfunding” Amelia D.Meliala, 2019, disebutkan, kelompok milenial merupakan yang paling rendah kemauannya dalam berdonasi.

“Sedangkan dari penelitian yang dilakukan Gopay, justru milenial adalah kelompok yang paling sering berdonasi. Rupanya missing link diantara kedua data yang terkesan bertentangan itu adalah jika donasi dilengkapi dengan perangkat digital (yang memudahkan), maka terjadi perubahan perilaku dari kelompok yang tadinya enggan menjadi yang paling kerap berdonasi,” jelas Firman.

Firman menekankan, adanya tiga elemen yang saling terkait perihal suprastruktur donasi yaitu, “trust”, kemudahan, dan komunikasi.

Hilman Latief, Ketua Badan Pengurus Lazis Muhamaddiyah, punya opini lain yang melengkapi. “Meskipun masyarakat muda perkotaan punya kohesi sosial yang rendah secara visual, namun punya potensi dimobilisasi,” ujarnya.

Menurut professor muda ini, kelompok tersebut punya “solidaritas yang tersembunyi” (hidden solidarity) atau “solidaritas terdiam” (silent solidarity) yang diekspresikan di ruang digital.

Terakhir, Hamid Abidin, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia mengiyakan adanya pergeseran perilaku donatur dari era sebelum ke era digital. “Mekanisme yang tadinya ‘direct giving’ menjadi ‘organized giving’. Peran pun jadi berubah, yang awalnya hanya sebagai donatur, di era digital perannya bisa bertambah menjadi fundraiser (penggalang dana), dan campaigner (mengajak berdonasi),” ujar Hamid.

Yang juga tak luput dari catatan Hamid adalah perlunya menyasar kelompok komunitas (hobi dan donasi) yang juga kelompok kunci dalam ekosistem donasi digital.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]