× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Do dan Don’t untuk CSR Perusahaan saat Berlangsung Wabah Virus Corona

By Redaksi
Ilustrasi Logo McDonald's di Brasil yang Memperlihatkan Garis M yang Terpisah sebagai Dukungan Terhadap Social Distancing yang Disarankan Ahli Kesehatan untuk Antisipasi Penyebaran COVID-19. Foto : Advertising Age

Apakah perusahaan yang kini gencar kampanye berantas COVID-19 benar-benar tulus menolong? Ataukah memakai pandemi ini sebagai strategi marketing? Bagaimana “Do” dan “Don’t” untuk komunikasi perusahaan saat darurat Corona?  

Pandemi corona sudah mengubah wajah bisnis secara global melalui sebuah pertanyaan yang menggelitik: apa strategi CSR perusahaan dalam menghadapi COVID-19? Bagaimana kita bisa menghindarkan diri untuk memanfaatkan krisis yang kini sedang terjadi?

Bisnis dari berbagai sektor, dari e-commerce sampai industri pulp dan kertas, akhir-akhir ini sering diberitakan berbagai media dalam konteks keterlibatan penanganan virus corona. Sampai berita ini diturunkan seperti yang dilansir dari eco-business.com, sudah lebih dari 42 ribu orang di seluruh dunia menjadi korban keganasan virus ini.

E-commerce raksasa asal China adalah perusahaan pertama yang melakukan kontribusi terhadap penanganan virus corona. Alibaba, perusahaan milik Jack Ma (yang juga memberikan bantuan masker dan APD kepada Pemerintah Indonesia) menawarkan membebaskan uang servis dan bahkan menawarkan pinjaman modal pada merchant website-nya. Bahkan melalui aplikasi yang disebut Meituan setiap petugas medis mendapatkan makanan dan jemputan gratis.

Lalu perusahaan-perusahaan lain ramai-ramai produksi barang yang tak biasanya. Pabrik mobil BYD, memproduksi disinfektan. Pembuat ponsel iPhone, Foxconn “melintir”jadi memproduksi masker wajah secara masal.  

Seperti halnya virus yang terus menyebar, demikian juga kepedulian perusahaan.

Brand alas kaki terkemuka, Crocs, mendonasikan sepatunya untuk para pekerja medis. Burger Kings menggratiskan menunya untuk para perawat. Unilever memberikan sabunnya cuma-cuma. Produsen vacuum cleaner, kipas, dan pemanas, Dyson, membuat desain ventilator. Produsen menu siap saji KFC, bahkan memberikan satu juta potong ayam untuk mereka yang membutuhkan. Asia Pulp and Paper, produsen kertas raksasa asal Indonesia, daripada memberikan kertas tisu toilet yang habis diborong konsumen panik, memberikan hand sanitizer gratis. 

Curahan kepedulian korporasi ini membuktikan di tengah iklim bisnis yang kapitalis, pelaku bisnis masih punya hati dan peduli yang terus dibagi. Namun masih ada beberapa kecerobohan soal CSR ini yang seolah mengingatkan: upaya perusahaan-perusahaan dinilai lebih ke soal strategi marketing daripada bantuan yang tulus. Jadi marilah membahas hal ini, dengan substansi yang sederhana.

McDonald berhasil “turut” berkontribusi dengan cara unik. Dia berhasil melakukan kampanye melalui media sosial dengan memisahkan logo M-nya yang fenomenal sehingga terbagi dua. Hal ini merupakan dukungan gerai ini terhadap kampanye social distancing di Brasil dalam menyikapi penyebaran wabah corona. Namun, langkah McDonald’s ini menuai kritikan dari politikus Partai Demokrat, Bernie Sanders. Menurut Bernie lewat twitter pribadinya, McDonald’s lebih baik tetap membayar pekerjanya yang cuti sakit daripada berkampanye logo tersebut. Tak lama, McDonals’s lantas menghapus logo tersebut dari media sosialnya.

Ini bukan lagi soal perusahaan global yang berusaha terlibat dalam diskusi virus corona. Contohnya lembaga pelindung hewan (People for the Ethical Treatment of Animals/PETA) puya pendapat sendiri soal COVID-19 ini. Dalam media sosial, mereka menulis, Coronavirus adalah anagram dari carnivorous. “Kebetulan? Kami pikir tidak,” kata tweet mereka, seolah menunjuk kebiasaan menyantap daging hewan liar sebagai penyebab wabah ini.  

Post tweet dari PETA ini lantas menuai banyak komentar. Pro dan kontra. Bahkan ada beberapa yang menyebut PETA pun merupakan kependekkan dari “People Eat Tasty Animals” (Orang yang hanya Memakan Daging Lezat) atau juga di-anagram-kan menjadi pâté atau menu makanan yang mengandung hati binatang.   

Jadi bagaimana sebaiknya perusahaan berbuat sesuatu di saat wabah virus ini terjadi? Bagaimana idealnya mereka mengomunikasikan upaya CSR? Charles Lankester, Pimpinan Eksekutif di Perusahaan Manajemen Resiko, dan Public Relations Ruder Finn, mengatakan kepada Eco-Business, perusahaan harus lebih dulu memikirkan bagaimana cara terbaik dalam menyampaikan semuanya.     

“99 persen dari apa yang butuh disampaikan, sampaikanlah. Kami tahu anda ‘peduli’, kami tahy anda juga ‘berkomitmen’, dan anda semua juga ada di pihak kami. Carilah sudut pandang yang berbeda,” tegas Charles.

Perusahaan perlu memastikan ada nilai tambah dalam komunikasi yang mereka lakukan terkait corona. “Jika perusahaan menawarkan saran, mereka perlu bertanya apa yang membuat perbedaan,” cetus Charles. Ia mencontohkan Pangeran Harry dan istrinya, Megan Markle. Mereka berdua mengekspresikan apresiasinya di Instagram pada upaya Inggris menangani corona dengan emoji tepuk tangan. Ini adalah contoh yang buruk.

Charles Lankester mencoba berbagai tips untuk perusahaan bagaimana sebaiknya perusahaan “do” dan “don’t” dalam berkomunikasi CSR terkait saat wabah ini berlangsung.

Do:

  • Tanyakan pada diri anda kenapa kita harus melakukan ini? Motivasi apa yang ada di baliknya? Jika anda sudah menemukan jawaban dari “mengapa”, anda bisa melakukannya tanpa perlu melakukan kesalahan yang fatal.
  • Identifikasi hal-hal yang penting untuk kebutuhan anda – lalu sediakanlah untuk mereka. Melakukan hal yang praktis merupakan sumbangsih nyata untuk memperbaiki kehidupan orang.
  • Pastikan karyawan anda telah di-briefing sehingga bisa menjelaskan dan memahami secara detail inisiatif yang dipilih.

Don’t:

  • Berpikir soal penjualan sebagai tujuan dari apa yang anda tawarkan. Ini bukan waktunya. Jika anda mendapatkan imbal baik penjualan yang positif, itu hal bagus, tapi kontribusi anda harus lebih dari itu.   
  • Tak mempedulikan kesalahan yang dilakukan perusahaan lain. Lakukan riset, dan bantuan dan pastikan ide anda bisa diawasi dengan tepat.  
  • Melupakan skenario rencana. Jika kita melakukan sesuatu apa konsekuensi positif sekaligus negatifnya? Bagaimana jika hal buruk kemungkinan terjadi. Hal-hal ini harus dipikirkan sejak awal.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]