× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Desa Ponggok, Alam Untuk Kesejahteraan Warga

By Redaksi

Alam akan memberi hasil yang melimpah, jika kita menjaganya dengan baik. Barangkali inilah yang sedang terjadi di Desa Ponggok, Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Pengelolaan alam yang baik telah menjadikan desa yang dulunya tertinggal ini menjadi desa yang kaya dan maju.

Pada 18 tahun yang lalu, Ponggok masuk ke dalam golongan Infrastruktur Desa Tertinggal (IDT). Andalan penghasilan desa adalah dari pertanian yang notabene harus menunggu 4 bulan untuk mendapatkan hasil panen. Pendapatan per tahun sebesar Rp 80 juta. Adalah Kepala Desa Ponggok, Junaedhi Mulyono, yang lantas mengubah desa tertinggal ini menjadi salah satu desa terkaya di Indonesia.

Junaedhi melihat potensi desa berupa mata air yang melimpah di desanya. Ia lantas mengajak kerjasama kalangan akademisi dan ahli untuk melihat lebih detil potensi desa dan menjadikannya sumber penghasilan utama. Maka demikianlah, sumber air desa yang awalnya hanya berfungsi sebagai tempat mandi dan cuci, disulap menjadi area wisata air. Berfoto di bawah air yang digagas Junaedhi, yang kemudian di zaman serba media sosial seperti sekarang ini, menjadi viral dan sangat terkenal dan merupakan andil besar bagi nama Ponggok. Kini wisata bawah air ponggok telah memberikan penghasilan desa hampir mencapai Rp16 milyar/tahunnya dan menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Klaten.

Ada 4 sumber mata air di Desa Ponggok yakni, mata air Ponggok, Sigedang, Kapilaler, dan Besuki. Umbul Ponggok dimodifikasi sedemikian rupa untuk menarik wisatawan, tapi tidak demikian untuk umbul lainnya. Umbul Kapilaler misalnya, dibiarkan alami seperti apa adanya, dan cukup ramai juga dikunjungi wisatawan. Mereka dapat mandi dan bersnorkling di Umbul Kapilaler dalam nuansa alami, ditemani ikan-ikan yang memang sengaja dipelihara.

Direktur Bumdes (badan usaha milik desa) Ponggok, Joko Winarno, seperti dikutip Mongabay, menyebutkan rata-rata pengunjung ekowisata Umbul Ponggok adalah 30.000 pengunjung per bulannya dengan penghasilan Rp9 milyar/tahunnya. Sebesar 65 % penghasilan desa memang datang dari sektor pariwisata. Keberhasilan ini menurut Joko tak lepas dari upaya pengelola desa dalam memajukan desa mereka. Karang taruna, ibu-ibu PKK, kelompok sadar wisata (Pokdarwis) ikut berperan aktif. Selain pengelolaan sampah, warga Desa Ponggok juga berusaha menanam pohon di hulu atau lereng merapi sebagai upaya menjaga kelestarian sejak dari hulu.

Dalam pembangunan berkelanjutan dikenal istilah 3P, yakni people, profit, dan planet. Dalam hal ini menurut Joko, pihaknya baru berhasil mewujudkan 2P yang pertama, dan telah mengangkat warga desa ke kehidupan yang lebih sejahtera, melalui mata airnya. Tinggal satu P yang sekarang memang sedang dilakukan dan digalakkan pada penduduk desa, yaitu planet,  atau alam desa Ponggok, sehingga bisa dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya. Berbondong-bondongnya masyarakat yang berkunjung ke Ponggok, tidak hanya membawa rupiah, tetapi juga membawa sampah. Hal ini menjadi PR pagi para pengelola desa untuk lebih memikirkan masalah keberlangsungan dan kelestarian alam Ponggok. Ditambah lagi warga desa yang masih bandel membuang sampah ke sungai.

Beberapa peraturan tentang kelestarian alam telah digodok di desa, di antaranya peraturan desa tentang pembangunan rumah yang harus menyisakan halaman tanah sebagai serapan air. Desa juga membentuk tim water defender. Tim ini bertugas mengingatkan warga desa yang masih bandel membuang sampah ke sungai. Ada larangan juga untuk menyetrum ikan dan perburuan liar terutama burung. Selain penanaman ikan di sungai-sungai desa, warga juga didorong memiliki empang melalui program ‘satu rumah satu empang/ kolam ikan’, yang diharapkan menjadi tambahan penghasilan warga. Hal ini sudah terbukti. Dalam seminggu, Desa Ponggok berhasil memanen satu ton lebih ikan. Selain dijual mentah, warga juga memproduksi bentuk olahan seperti abon ikan.

Penghasilan yang tinggi ini disalurkan desa untuk berbagai kesejahteraan masyarakatnya, termasuk jaminan kesehatan dan pendidikan, di antaranya melalui program ‘satu rumah satu sarjana’. Ponggok telah menjadi salah satu sumber inspirasi untuk perkembangan desa-desa lain di tanah air.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]