× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Demi Taklukkan COVID-19, WHO Uji 4 Obat Klinis

By Redaksi
Ilustrasi Obat COVID-19 atau Virus Corona. Foto : Shutterstock

Ganasnya pandemi virus corona (COVID-19 atau SARS-Cov2) mendorong para praktisi kesehatan di dunia memutar otak menemukan obat yang jitu. Namun, hingga saat ini masih belum ditemukan obat yang dimaksud.

Ujicoba klinis sudah dilakukan para ilmuwan sejak mulai merebaknya wabah di China, Januari – Februari lalu. Sayangnya, hingga hari ini obat yang dinilai manjur dari studi yang dilakukan belum bisa dipastikan.

“Meskipun ujicoba dengan ragam cara belum menampakkan hasil, kami tetap mencari cara agar bisa menemukan terapi sempurna untuk menyelamatkan nyawa manusia,” ujar Tedros Adhanom, direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam acara jumpa pers.

Dikutip dari The Verge, dalam upaya menemukan cara pengobatan yang tepat, WHO merangkul sejumlah ahli dari berbagai negara agar obat yang tepat cepat ditemukan. Ada sejumlah obat yang dijadikan ujicoba, mereka adalah remdesivir, obat antimalarial chloroquine, kombinasi dari obat HIV Ritonavir-Lopinavir, dan kombinasi Ritonavir – Lopinavir dengan Interferon Beta.   

Sejauh ini ada ratusan ujicoba klinis tengah dikembangkan di berbagai belahan dunia. Hanya saja WHO baru menguji secara serius terhadap 4 macam obat tersebut. Inilah obat-obat yang dimaksud:

Berikut rincian obat yang menjadi perhatian WHO dan peneliti.

1. Chloroquine Hydroxychloroquine

Di dunia medis, dua obat ini biasa digunakan pada pasien malaria. Awalnya WHO melalui proyek yang dinamakan Solidarity sempat menghentikan ujicoba klinis obat. Namun, pada 13 Maret, WHO memutuskan untuk melanjutkan, setelah di beberapa negara ada hasil yang cukup signifikan.

Salah satunya para ahli kesehatan di Perancis yang merawat 20 pasien COVID-19 lewat terapi hidroxychloroquine (hidroksiklorokuin). Obat ini sebelumnya dikenal cukup ampuh dalam melawan virus malaria.  

Caleb Skipper, ahli penyakit infeksi dari Univesitas Minnesota, Amerika adalah salah satu penguji obat ini.  “Obat ini cukup dikenal para ahli kesehatan,” ujar Caleb.

Uji coba terhadap hidroksiklorokuin ini sudah dalam proses yang benar, kata Caleb. Tapi proses uji cobanya masaih dalam tahap awal, belum sepenuhnya benar-benar terbukti secara klinis sebagai obat paling efektif,” imbuh Caleb.

Meskipun hasilnya masih terbatas, tapi beberapa figur public, mulai dari Presiden Trump sampai Elon Musk, menyatakan keyakinnya terhadap keampuhan obat ini.  

Namun uji coba ternyata sebagian menimbulkan masalah. Di Nigeria, dilaporkan 2 orang mengalami overdosis setelah Trump menyatakan mampu mengobati COVID-19. Society of Critical Care Medicine Amerika juga menyatakan, belum ada bukti valid hidroksiklorokuin bisa ampuh menghalau COVID-19. Efek sampingnya juga cukup serius di mana bisa menyebabkan gangguan jantung.

2. Lopinavir – Ritonavir

Pada Februari lalu, seorang dokter di Thailand mengatakan, pasiennya mengalami perkembangan positif usai diterapi dengan obat HIV, lopinavir – ritonavir yaitu Kaltera. WHO tengah mengetes obat ini dikombinasikan dengan obat lain, yang disebut interferon-beta. Dengan terapi ini tubuh secara alamiah menghasilkan daya untuk menangkis berbagai virus. Kombinasi ini biasa dipakai pada pasien SARS dan MERS yang juga disebabkan virus.

Namun, hasil uji coba yang dilakukan di China menunjukkan kondisi berkebalikan. Usai diberikan terapi kombinasi obat ini, pasien tetap tak memperlihatkan pemulihan yamg cepat. Berbanding lurus dengan pasien yang sama sekali tak diberikan terapi yang sama.    

3. Remdesivir

Opsi obat selanjutnya adalah remdesivir. Obat iin awalnya dikembangkan untuk menyembuhkan pasien Ebola. Riset kemudian menemukan, remdesivir pun bisa menghancurkan virus MERS dan SARS. Hasil tes lab memperlihatkan obat ini mampu menangkal virus corona dalam sel.      

Ada juga “bukti anekdotal”, remdesivir membantu penyembuhan pasien COVID-19. Tapi yang jelas,  belum ada jaminan  uji klinis menunjukkan remdisivir berdampak lebih baik. Walhasil, data yang dikumpulkan melalui uji coba WHO, uji coba adaptif, dan penelitian lain sangat penting. Dokter harus benar-benar memastikan obat yang diberikan sesuai peruntukannya sebelum diaplikasikan secara massal.

WHO memang menyebut remdesivir berpotensi untuk digunakan pada pasien. Namun, pemberian dalam dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan pada pasien.

4. Favipiravir

Meskipun bukan bagian dari uji coba resmi WHO, lembaga kesehatan resmi di China melaporkan, obat Jepang yang dipakai terapi flu burung, favipiravir melalui serangkaian tes efektif mengobati pasien COVID-19. Jepang dikabarkan berupaya mengembangkan obat ini lebih lanjut, meskipun hasilnya belum dipublikasikan. Namun jika dikaitkan dengan fungsi obat menekan virus dalam sel, dikatakan akan cukup menggembirakan jika benar-benar terbukti efektif. Hal ini mengingat obat ini tak mujarab melawan MERS. MERS dikenal memiliki kemiripan dengan virus corona.

Hal lain, sejumlah perusahaan farmasi sedang berupaya mengembangkan obat anti radang agar bisa dipakai untuk meredakan radang paru-paru yang dipicu COVID-19. Pihak lain berupaya mengindentifikasi daya tahan tubuh pasien usai terpapar virus untuk menemukan terapi yang cocok diterapkan.

Uji coba klinis memang butuh waktu untuk mendapatkan hasil maksimal. Itulah sebabnya diperkirakan sebulan atau lebih untuk mengetahui hasilnya secara pasti. Perlu kerja keras dan cepat sehingga banyak data uji coba yang dihasilkan untuk bisa mengambil satu cara pengobatan yang efektif. Bagaimanapun pengbatan yang dilakukan jangan sampai gegabah sehingga malah menimbulkan masalah lain, seperti virus yang kian kebal.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]