× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Dari Lalat Menjemput Manfaat

By Redaksi

Lalat bagi hampir semua orang adalah serangga yang perlu dibasmi. Selain suara dengungannya mengganggu, lalat pun jadi sumber penyakit karena kebiasaannya berkotor-kotor. Namun ternyata tidak semua orang beranggapan sama. Lalat bahkan oleh warga di sebuah desa di kota Banyumas, Jawa Tengah ini dipelihara. Lalu apa untungnya pelihara serangga menjijikkan ini?

Bagi masyarakat di Grumbul Larangan, Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, lalat adalah sumber rejeki. Kok bisa? Mereka membudidaya lalat tentara hitam atau nama populernya black soldier fly (BSF). Sebanyak 200 kepala keluarga (KK) merintis budidaya tak biasa ini, sehingga namanya menjadi Kampung Lalat.

Seperti dikutip dari laman kompas.com, sejumlah kandang kecil terlihat di setiap rumah. Sementara ada dua kandang besar yang merupakan wadah lalat berkembang biak sekaligus simbol rintisan usaha bersama warga kampung. Seluruh kandang sederhana tersebut  terbuat dari kayu. Ratusan ekor lalat tampak menghinggapi kotak-kotak tersebut. Lalat yang bernama latin hermetia illucens ini ternyata bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomis.

Awal mula warga tertarik membudidayakan lalat ternyata buah dari persoalan lingkungan. Warga berinisatif turut serta dalam memberikan solusi persoalan sampah di Banyumas. Penggagas Kampung Lalat Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Adib Wong Alas mengungkapkan,”Satu kilogram maggot (larva) bisa mengonsumsi 1 kg sampah organik. Saya bayangkan ketika diterapkan setiap rumah, pemilahan sampah organik dan anorganik selesai di rumah tangga. Sampah organik akan diurai menjadi kompos,” urai Adib, Sabtu (13/4/19).

Ternyata yang jadi nilai ekonomis dari pelihara lalat ini adalah maggot alias larva. Maggot ini dapat menjadi pakan alternatif untuk ternak dan ikan yang lebih efisien dibanding menggunakan tepung ikan. Budi daya lalat ini ternyata langsung berdampak. “Kita kembangkan mulai akhir 2018 oleh anak-anak Sekolah Kader Desa Brilian, dengan pengembangan ini kita bisa memberi beasiswa lebih banyak lagi. Tahun ini ada 3 anak mendapat beasiswa untuk kuliah, sebelumnya ada 30 anak mendapat beasiswa,”ungkap Adib bangga.

Adib berharap, ke depan budidaya lalat tentara hitam ini bisa dilakukan seluruh warga. Hasil dari budi daya sebagian bisa digunakan untuk membayar iuran jaminan sosial ketenagakerjaan di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. “Ini bagian gerakan untuk memberikan jaminan sosial bagi pekerja, terutama buruh di sekitar hutan, harapannya warga bisa membayar iuran dari menjual maggot. Tidak usah banyak-banyak, kalau setiap rumah bisa menghasilkan maggot 1 kilogram per hari, dalam sebulan bisa dapat Rp 90.000, itu sudah lebih dari cukup untuk membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan,” jelas Adib.

Sementara Ketua Pengurus Kampung Lalat Sarbumusi Sutarno mengatakan, selain dua kandang besar, saat ini baru sekitar 23 KK yang sudah melakukan budi daya. Dalam waktu dekat, jumlahnya akan terus bertambah dan ditargetkan seluruh KK yang berjumlah lebih dari 200 melakukan hal yang sama. “Belum budi daya semua, sedang disiapkan kandang dengan nampan atas dan bawah yang dibentuk silinder menggunakan kelambu sebagai penutup, setiap rumah ukurannya 150 cm x 60 cm. Kalau kandang besar yang sudah ada ukurannya 2,5 meter x 2 meter.”

Selain maggot, harga telur lalat rupanya cukup menggiurkan. Dia mengatakan 1 gram telur dijual dengan harga Rp 10.000. Uang hasil penjualan 50 persen untuk warga, 20 persen disisihkan untuk beasiswa sekolah dan 30 persen lainnya untuk pendamping. Aksin (40), warga setempat yang membudidayakan lalat tentara hitam mengatakan, baru satu bulan melakukan budi daya dengan kandang berukuran 150 cm x 60 cm. Ia mengaku baru dua kali memanen telur lalat. “Saya baru dua kali memanen telurnya, masing-masing 1 gram. Selain dapat menghasilkan uang tambahan, ini sangat membantu untuk mengurai sampah organik. Maggotnya juga dapat diolah menjadi pakan ternak ikan dan ayam, di sini banyak sekali yang ternak ikan,” tutur dia.

Sementara itu, pendamping Kampung Lalat Sarbusmi, Akbar mengatakan, dari hasil penelitian para ilmuwan terdapat lebih dari 800 jenis lalat. Dari berbagai jenis lalat itu, sebagian besar mengandung patogen, kecuali lalat tentara hitam. “Lalat ini berbeda dengan jenis lalat yang lain. Lalat lain kalau ada kotoran langsung hinggap, kalau ini tidak hinggap, hanya mengelilingi kemudian hinggap di tempat yang kering, gelap dan sempit di sekitar kotoran, makanya tidak mengandung patogen,” kata Akbar.

Lalat tentara hitam, menurut dia, dapat menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi. Telur lalat mempunyai harga jual yang tinggi. Selain itu, maggot dapat diolah menjadi maggot beku, maggot kering, tepung ikan dan lainnya sebagai pakan alternatif berprotein tinggi. “Satu ekor lalat dapat menghasilkan 500-700 butir telur, untuk menghasilkan 1 gram telur butuh 14 hingga 13 ekor lalat, tergantung besar kecilnya. Sampah organik yang dimakan maggot otomatis menjadi kompos,” pungkas Akbar.

(Foto: kompas.com)

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]