× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

CSR Bukan Beban, Tapi Kebutuhan Bisnis

By Redaksi
Dok. The Business News

Jakarta – MajalahCSR. Penghargaan Top CSR 2017 pada rabu (5/4) lalu merupakan kegiatan penilaian dan pemberian penghargaan tertinggi kepada perusahaan yang berhasil menjalankan program CSR, PKBL (program kemitraan bina lingkungan), Community Involvement & Development (CID), secara efektif-berkualitas di Indonesia.

Ketua Dewan Juri yang juga ketua KNKG, Mas Achmad Daniri, mengatakan bahwa melalui Top CSR 2017, diharapkan adanya pelurusan arah kebijakan dan program CSR di Indonesia. Menurutnya, kebanyakan praktek CSR di Indonesia masih menggunakan paradigma lama.

“Contohnya, manajemen perusahaan menganggap bahwa kegiatan CSR sekadar donasi kepada masyarakat, dan tidak bermanfaat langsung ke perusahaan,” ujarnya rabu (5/4).

Selain itu, praktik CSR masih dalam batas community involvement and development (CID), untuk memeroleh dukungan komunitas sekitar. Program CSR menurutnya juga terlalu beragam, kurang fokus, tidak terkait bisnis inti, dan belum menjadi bagian strategi bisnis, bahkan  belum merujuk ke ISO 26000.

CSR harus aligning dengan business strategy. Jika CSR tidak selaras dengan strategi bisnis, maka perusahaan hanya menambah/memperbesar cost atau biaya saja, dan bukan sebuah investasi yang meningkatkan nilai perusahaan.

Padahal, setiap biaya CSR yang dikeluarkan, harus dapat dipertanggungjawabkan kepada pemegang saham sebagai upaya untuk meningkatkan nilai perusahaan. Jika CSR selaras dengan strategi bisnis, maka CSR bukan lagi sebagai beban, namun justru menjadi kebutuhan perusahaan.

“ISO 26000 dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menjalankan CSR yang sesuai dengan paradigma baru tersebut.  ISO 26000 adalah guidance (panduan) pelaksanaan tanggung jawab sosial organisasi (baik perusahaan, lembaga maupun instansi), dan bukan guideline (pedoman),” jelasnya Daniri.

Sedangkan M. Lutfi Handayani selaku Ketua Penyelenggara TOP CSR 2017, menjelaskan beberapa pembeda antara Top CSR 2017, dengan penghargaan sejenis yang pernah berlangsung. Antara lain, pertama, fokus penilaian kepada pemenuhan ketentuan di ISO 26000; keselarasan CSR dengan strategi serta daya saing perusahaan.

Kedua, ada penilaian khusus berupa keterkaitan program CSR sebuah perusahaan, dengan Nawacita. Khususnya di Nawacita 5, 6, dan 7.

Ketiga, hasil penilaian GCG (good corporate governance/tata kelola perusahaan) yang baik, menjadi prasyarat awal untuk menerima penghargaan Top CSR 2017. Sebab, program CSR yang efektif, lebih mudah diterapkan jika GCG perusahaan telah bagus.

Keempat, penilaian di Top CSR 2017, tidak hanya melibatkan pakar dan konsultan CSR. Tetapi, turut melibatkan asosiasi bisnis dan konsultan. Termasuk dari pasar modal dan lembaga pembiayaan.

Lutfi menambahkan, program CSR yang efektif-berkualitas, sudah seharusnya merupakan pendekatan strategis dan inovatif untuk memerkuat daya saing dan kinerja perusahaan. Juga, merupakan upaya kolektif perusahaan untuk memerbaiki kondisi lingkungan bisnis dan sosial-ekonomi, yang memungkinkan semua pihak berkembang optimal.

Perusahaan pemenang TOP CSR, untuk ke depan, harus mengupayakan agar mereka berperan bersama memerbaiki kondisi lingkungan bisnis, sosial, dan ekonomi. Sehingga, memungkinkan semua pihak berkembang optimal sekaligus bersinergi mendukung pembangunan nasional.

“Mereka pun harus mendorong implementasi GCG. Sebab, CSR yang efektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan, baru bisa diimplementasikan ketika sebuah perusahaan telah menerapkan GCG dengan baik,” kata pemimpin redaksi Majalah BusinessNews Indonesia itu.

Secara umum, hasil penilaian TOP CSR dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, sejumlah perusahaan pemenang Top CSR 2017, sudah mengadopsi ISO 26000 dengan baik, serta memiliki sistem manajemen CSR berbasis ISO 26000 itu.

“Antara lain, mereka telah mengidentifikasi tanggung jawab sosial dengan baik, dan punya tata kelola CSR yang baik,” kata Nurdizal dari SBC Strategi Indonesia, salah satu Dewan Juri TOP CSR 2017.

Kedua, perusahaan pemenang Top CSR, memiliki KPI (key performance indicator) dan target kinerja yang tertuju ke perusahaan maupun para pemangku kepentingan. Mereka pun me-review kinerja CSR dengan melibatkan manajemen dan para pemangku kepentingan lainnya.

Ketiga, perusahaan pemenang Top CSR 2017 telah memerlihatkan pencapaian dampak program yang jelas dan nyata. Dampak tersebut berlaku untuk perusahaan atau juga pemangku kepentingan.

Proses penjurian dan penilaian terhadap perusahaan peserta Top CSR 2017, ada beberapa temuan. Antara lain, dilihat dari keselarasan strategi CSR dengan strategi bisnis, 62% termasuk kategori ‘cukup selaras’, 17%, sangat selaras dan kelompok ‘kurang selaras’ sebanyak 21%.

Selanjutnya, dalam hal tata kelola dan implementasi sistem CSR, yang termasuk ‘lengkap’, sebanyak 37%. Termasuk ‘kurang lengkap’, di 62% sedangkan yang termasuk ‘konsisten’, di angka 11%.

Sejumlah harapan ditujukan kepada perusahaan pemenang Top CSR 2017. Antara lain, mereka harus  lebih meningkatkan manfaat program CSR ke para pemangku kepentingan. Itu khususnya ke masyarakat. Dengan demikian, CSR makin berguna dalam pemecahan berbagai masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan di Indonesia.

Di samping itu, CSR harus menciptakan kondisi lingkungan ekonomi yang semakin baik bagi pertumbuhan daya saing bisnis di Indonesia. Serta daya saing perusahaan secara individual.

Di tengah carut marut kehidupan berbangsa, seni adalah penawar sisi humanisme. Kekuatan seni bahkan bisa mengubah tatanan dan kebiasaan masyarakat. Seorang novelis, dramawan, dan penyair, Oscar Wilde pernah mengatakan: “Hidup meniru seni jauh lebih banyak daripada seni meniru kehidupan”. Karena itu, seni tak mungkin lepas dari peradaban. Indonesia adalah negara yang kaya dengan seni dan […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]