banner
Ilustrasi Medali Olimpiade. Foto : Shutterstock
Wawasan

Cerita yang Tersisa dari Olimpiade Tokyo 2020 Soal Keberlanjutan

1251 views

MajalahCSR.id – Perhelatan olimpiade musim panas Tokyo 2020 baru saja berakhir pada Minggu (8/8/2021). Banyak cerita suka dan duka dalam ajang tanding olahraga sejagat tersebut. Tak hanya melulu soal sengitnya persaingan menjadi olahragawan terbaik, melainkan ada sejumlah catatan penting yang juga tak kalah menarik. Mulai dari suhu yang panas sehingga menganggu pertandingan voli pantai, sampai kemunculan kerang (rogue oysters) yang juga menganggu jalannya acara.

Selain itu, gelaran olimpiade ke 32 ini mencatat sejumlah inovasi dalam konteks keberlanjutan. Beberapa inovasi itu seperti ranjang atlet yang terbuat dari kardus. Ranjang kardus yang disiapkan mencapai 18 ribu buah yang tersebar di perkampungan atlet.  Airweave, sang pembuat, adalah pihak di balik tersedianya ranjang yang mampu menahan bobot hingga 180 kilogram tersebut.

Mengutip Greenbiz, panitia olimpiade menargetkan untuk mendaur ulang hingga 99 persen dari produk yang dipakai selama acara berlangsung, dan 65 persen dari sampah yang dihasilkan. Terdapat beberapa hal lain yang masih ada keterkaitan dengan inovasi keberlanjutan.

Medali dari limbah elektronik

Seratus persen dari lebih kurang medali yang diberikan pada olimpiade 2020 adalah emas, perak, dan perunggu yang berasal dari limbah elektronik warga Jepang. Untuk menangani hal ini, panitia menggalang donasi limbah elektronik bekerja sama dengan 1.300 institusi pendidikan dan 2.100 retail elektronik demi mengampanyekan pengumpulan. Hasilnya, terkumpul 78.985 ton elektronik bekas, yang berasal dari 6,2 juta ponsel, kamera digital, perangkat permainan portabel, dan laptop. Melalui limbah itu, panitia mengekstrak emas, perak, dan perunggu yang lalu meleburnya menjadi medali.   

Podium juara dari daur ulang plastik

Sekitar seratus podium yang menjadi lokasi serah terima medali para atlet ternyata berbahan plastik daur ulang. Sama halnya dengan kampanye limbah elektronik untuk medali, panitia bermitra dengan pihak lain. Terdapat 113 sekolah, dua ribu lokasi pengecer, serta sejumlah organisasi dan lembaga lain sehingga terkumpul 24,5 ton sampah botol dan wadah plastik (di luar PET) antara Juni 2019 hingga Maret 2020. Usai, perhelatan, menurut laporan komite Sustainability Pre-Games panitia bakal kembali  mendaur ulang podium menjadi produk pengemas   

Menuju upaya pemanfaatan kembali

Penyelenggara kegiatan menerapkan menerapkan strategi yang sangat menonjol terkait keberlanjutan. Contohnya soal inisiatif pelibatan masyarakat dalam misi. Hasilnya, medali dan podium yang seluruhnya berbahan daur ulang dan merupakan dampak nyata dari aksi yang melibatkan warga.

Tak hanya itu, Pemerintah Metropolitan Tokyo pun turut andil. Panitia menggaet pemerintah unutk membuat sistem pembelian kembali barang-barang yang yang sudah digunakan dalam ajang tersebut. Mereka membangun sistem data untuk memperlihatkan pembeli potensial yang bersedia mengambil alih barang-barang bekas digunakan tadi.      

Sebuah laporan menyebut, hal-hal tersebut di atas didukung oleh konsep budaya orang-orang Jepang yang memiliki semboyan “mottainai” (sebuah prinsip hidup untuk menghindari sampah). Ini tergambar dari keseharian warga Jepang yang selalu melakukan aksi bersih-bersih pantai, memanfaatkan limbah elektronik, dan program inisiatif Juli bebas plastik. Semua ini memudahkan dan menguntungkan dalam manajemen strategi Komite Olimpiade Tokyo dalam kampanye keberlanjutan.  Tentu saja, inisiatif ekonomi sirkular ini akan berdampak pada lingkungan. Bahkan, untuk perhelatan semacam olimpiade aksi ini bisa berdampak lebih besar lagi.  

banner