× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Cerita Puntung Rokok dari India

By Redaksi
Naman Gupta (kiri) dan Vishal Kanet Pendiri Code Effort. Foto : thebetterindia.com

MajalahCSR.id – Kebiasaan merokok dinilai tak baik bagi kesehatan. Secara medis, merokok bisa jadi pemicu dari ragam penyakit dan gangguan yang serius. Tak sekedar bagi perokok aktif, ironisnya non perokok atau perokok pasif pun bisa tersambar bahaya yang lebih parah.

Tak sekedar saat konsumsi, gangguan kembali muncul saat limbah atau puntung rokok dibuang seenaknya. Saat dikonsumsi, boleh jadi membahayakan tubuh, setelahnya, “kesehatan” lingkungan yang jadi taruhan. Karena ukurannya yang kecil, dan ketidakdisiplinan, puntung rokok seringkali dijumpai berserak begitu saja di mana-mana.

Setiap tahunnya tak kurang dari 4,5 triliun puntung rokok dihasilkan di dunia. Tak heran, puntung rokok disebut sebagai benda paling polutif di dunia. Dibutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun agar puntung ini terurai di alam. Meskipun tak sesulit plastik yang butuh ratusan hingga ribuan tahun, tetap saja puntung rokok mencemari lingkungan, terutama dengan potensi dari filternya yang mengandung racun.

Seorang pria asal India, Naman Gupta, mendirikan sebuah startup pro lingkungan yang bernama Code Effort Pvt.Ltd. Berbasis di kawasan bernama Noida (New Okhla Industrial Development Authority) tak jauh dari New Delhi, Gupta bersama kawannya, Vishal Kanet, mengumpulkan puntung rokok dari pengguna melalui tempat sampah  portabel.

Limbah puntung rokok dia bagi menjadi dua, yaitu bagian kertas rokok dan serat filter (rokok filter). Kertas rokok lalu diolah dan dihancurkan, kemudian dibentuk menjadi kepingan. Luar biasanya, kepingan ini bermanfaat sebagai pengusir nyamuk dengan cara membakarnya. Namun, bagian serat justru berbahaya karena mengandung racun hasil dari penyaringan asap rokok yang dibakar.

Riset Gupta dan Kanet akhirnya menemukan cara untuk menghilangkan racun tersebut. Metode penghilangan racun melalui senyawa kimia tersebut bahkan berhasil mengantongi sertifikasi aman dari laboratorium setempat. Serat ini lalu dijadikan bahan untuk membuat bantal tidur, bantal kursi, gantungan kunci karakter lucu, dan lainnya yang memberdayakan perempuan setempat.

Hingga saat ini, Code Effort mampu mengolah lebih kurang 250 juta puntung rokok. “Masih banyak ide yang kami akan wujudkan (melalui bahan limbah puntung), termasuk rencana mendesain alat penyaring udara kotor, kacamata, dan lainnya,” kata Gupta di laman facebook ini. Pria Hindi ini bahkan mengaku sedang mengembangkan cara  agar lebih efisien lagi dalam mengolah limbah puntung rokok.

“Kini kami memiliki 20 hingga 25 kontrak dengan supplier di seluruh India untuk menerima 2.500 kilogram puntung rokok setiap bulannya,” imbuhnya. Seperti yang dilansir dari livemint.com, perusahaan rokok raksasa, Marlboro pun tergerak bekerja sama untuk menyuplai rokok-rokok tak lolos uji mutu mereka di pabrik.

Upaya Gupta lewat Code Effort menjadi satu-satunya perusahaan di India yang memanfaatkan puntung rokok sekaligus menyelamatkan bumi dari limbah puntung rokok yang jadi ancaman. Gupta adalah contoh nyata dari orang-orang yang melakukan langkah kecil menjadi seorang socialpreneur di tengah kondisi bumi yang kian sakit akibat limbah yang terus mencemari.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]