× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Cara Tanam Padi Unggulan Tingkatkan Produksi 40%

By Redaksi
PT Bumi Suksesindo (BSI) bekerjasama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan Yayasan Dewi Nusa Bakti (YDNB) melaksanakan penanaman perdana program Padi SRI (System of Rice Intensification) di desa Kandangan, kecamatan Pesanggaran pada Senin (17/4). Setelah memperkenalkan program Padi SRI di tahun 2015, kini BSI memperluas jangkauan program CSR pemberdayaan ekonomi di desa Kandangan dan Sarongan menjangkau sekitar 90 petani dari 5 kelompok tani setempat.

Banyuwangi – MajalahCSR. Untuk membantu meningkatkan pendapatan petani di daerah operasional perusahaan, PT Bumi Suksesindo (BSI) bekerja sama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan Yayasan Dewi Nusa Bakti (YDNB) melaksanakan penanaman perdana program Padi SRI (System of Rice Intensification) di desa Kandangan, kecamatan Pesanggaran. Sebelumnya, BSI telah memperkenalkan program Padi SRI di tahun 2015. Dilanjutkan saat ini di desa Kandangan dan Sarongan menjangkau sekitar 90 petani dari 5 kelompok tani setempat.

“Program ini merupakan wujud kepedulian kami dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat sekaligus mendukung program pemerintah dalam bidang ketahanan pangan,” ujar General Manager PT BSI James Francis dalam keterangan resminya senin (17/4).

Koordinator BPP wilayah Kecamatan Pesanggaran AA’ Ruhaeman SP mengatakan inisitiaf ini tentu akan menghemat biaya produksi, hemat tenaga kerja, hemat air dan sudah dipastikan marjin keuntungan bagi kelompok petani akan meningkat. Menurutnya, produktivitas padi akan naik 35-40% dibandingkan dengan padi metode konvensional.

“Pengetahuan yang didapat metode penanaman padi SRI dapat diaplikasikan ke tanaman lain seperti buah naga, jeruk dan sayuran,” jelas Roehaiman.

Bagian dari program Padi SRI dilaksanakan Sekolah Lapang dalam meningkatkan pengetahuan, informasi dan ketrampilan petani berlandaskan pertanian berkelanjutan dan prinsip ramah lingkungan. Menurut Direktur YDNB Djuwito, kelompok tani akan mengikuti sekolah lapang sebanyak 10 kali pertemuan dengan materi teori dan praktek.

“Mereka akan menerima materi tentang ekologi tanah, pembuatan pupuk organik cair dan padat, dan pestisida organik dengan memanfaatkan bahan-bahan sekitar mereka seperti daun-daunan, ponggol pisang, dan serbuk gergaji,” tutur Djuwito.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]