× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Cara Melukis yang Ramah Lingkungan

By Redaksi
Dok. Komunitas 22 ibu

Bali – Majalahcsr. Mengajarkan mencintai lingkungan melalui seni. Sebagai seorang yang dikenal menjadi pendidik paling awal di dalam keluarga, Komunitas 22 Ibu ini mengadakan pelatihan teknik batik dengan bubur tamarin.

Bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali, mereka melatih sekumpulan siswa SMP, SMA dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seni di Bali. Kegiatan tersebut diadakan disela-sela Pameran lukisan dan Workshop ” Melukis dengan Teknik Gutha ” pada 21 April 2017.

Teknik melukis ini jauh berbeda dengan membatik seperti pada umumnya. Namun keduanya sama-sama menggunakan perintang berupa malam.

Seperti yang dilansir oleh Pojokjabar.com, trainer Ariesa Pandanwangi menjelaskan material lilin dingin ini berasal dari tumbuhan asam jawa yang dikeringkan. Kemudian diolah menjadi semacam bubuk mirip dengan tepung.

“Bubuk asam jawa ini tambahkan sedikit lemak nabati berupa mentega atau margarin kemudian diberi air panas secukupnya aduk hingga merata. Hasilnya berupa adonan yang lekat menempel satu dengan lainnya,” katanya Minggu (22/4).

Dok. Komunitas 22 ibu

Tambahkan air dingin, aduk hingga kalis, lalu diamkan semalaman. Hasilnya, adonan bubuk asam jawa siap digunakan sebagai perintang warna sekaligus pengganti lilin malam panas dalam proses pembatikan. Untuk bisa dipergunakan, adonan tersebut dimasukkan kedalam plastik segitiga, gunting sedikit pada bagian bawah untuk jalan keluarnya adonan.

“Cara menggunankannya ujung yang diikat dipegang oleh tangan dengan digenggam dan arahkan ke bawah. Tekan perlahan, hingga adonan keluar dari lubang yang sudah di gunting. Maka adonan yang mirip dengan bubur tersebut keluar siap digunakan di atas kain yang telah dibentangkan di atas spanram. Proses pembuatan garis jangan sampai putus, karena fungsinya sebagai perintang warna,” paparnya.

Setelah selesai, objek yang sudah jadi dikeringkan di bawah sinar matahari, atau bisa juga dibantu menggunakan hair dryer. Setelah kering dilanjutkan dengan pewarnaan.

“Setelah diberi warna selanjutnya dikeringkan kemudian kain dilepas dari spanram dan disetrika untuk memunculkan warna. Setelah selesai kain di cuci untuk melorotkan adonan bubuk asam jawa yang menempel. Setelah bersih lalu jemur dan keringkan. Hasilnya sangat mirip dengan batik ada tapak guratan dan titik titik putih layaknya motif batik,” tuturnya.

Dok. Komunitas 22 ibu

Salah satu peserta, I Wayan (20) , seorang mahasiswa menyatakan keinginannya agar materi pengajaran proses membatik ramah lingkungan ini juga dapat diajarkan di kampusnya. Saat ini ia baru mengetahui ada sejenis tanaman di Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti malam panas dalam membatik yang pengolahan ataupun pemakaiannya sangat mudah.

“Kalau di kampus hal ini dapat masuk ke dalam materi pengetahuan bahan dalam seni rupa. Keren, ya, Indonesia, yang lebih keren lagi yang bisa menemukan adonan ini,” paparnya sambil tersenyum.

Adonan bubur tamarin ini ditemukan Niken Apriani dalam eksperimennya mengembangkan material batik. Ia seorang guru SMP di Cimahi, dan sedang menunggu penempatan sebagai Kepala Sekolah.

Berkat temuannya ini ia dipercaya Dinas Pendidikan memberikan pelatihan kepada guru guru di Jawa Barat. Bahkan diundang Atase Pendidikan di luar negeri untuk memberikan pelatihan berupa workshop batik dengan material yang dikembangkannya ini.

Niken berharap ke depannya temuan adonan pengganti malam panas ini dapat dipergunakan dalam proses pembelajaran seni batik dan diajarkan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia.

“Setiap daerah di Indonesia hampir selalu mempunyai keunikan motif batik yang dapat langsung diperkenalkan sejak dini. Sehingga muatan dalam pengajaran dapat memperkenalkan ilmu pengetahuan keunggulan tanaman asam jawa di Indonesia sekaligus memperkenalkan tradisi membatik dan mengenalkan motif batik pada generasi muda dengan aman dan ramah lingkungan,” tegasnya.

 

Komunitas 22

Berawal dari pameran di Galeri Kampus tanggal 21 April 2013, berlanjut ke tanggal 22 Desember 2013. Setelah kedua kegiatan tersebut disepakati bahwa tanggal 22 Desember 2013 adalah berdirinya komunitas 22 Ibu. Komunitas ini berbasis di Bandung dan sudah berdiri sektor Jakarta pada tahun 2017.

Semua anggotanya berasal dari profesi dosen, guru ataupun personal lainnya seperti desainer, pengusaha, seniman yang berkiprah dalam bidang seni. Mereka berasal dari lintas institusi, bahkan lintas angkatan.

Anggota termuda berusia 23 tahun dan tertua 70 tahun. Saat ini jumlah personalnya adalah 60 an orang.

Kegiatan dari Komunitas 22 Ibu selain pameran dan memberikan workshop batik di dalam dan luar negeri, juga penulisan buku seni rupa, pengabdian kepada masyarakat. Kerjasama yang dilandasi oleh MoU juga di lakukan dengan beberapa institusi.

Dok. Komunitas 22 ibu

Nurul Primayanti, dosen Des Produk dari Univ Podomoro Jakarta, salah satu dari komunitas 22 Ibu sektor Jakarta yang sudah bergabung sejak 2015 mengatakan bahwa dirinya dapat melakukan banyak sekaligus. Diantaranya mempublikasikan karyanya, memberikan pelatihan pelatihan kepada masyarakat melalui workshop-workshop pengembangan batik, dan menulis buku terkait dengan tema yang diusung dalam pameran.

“Bahkan saya sudah mempunyai hak cipta karya seni saya,” ujarnya.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]