× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Cahaya Lampu Ternyata Polutan Serius

By Redaksi
Polusi Cahaya di Berbagai Tempat. Foto : pixphil22 and Xpics and shantanukashyap – all from Pixabay, and Fabrice Coffrini for AFP from Getty Images. Photo edit by Andrea Steffen

MajalahCSR.id – Siapa sangka polusi tak melulu soal asap pekat. Cahaya pun bisa disebut polusi bahkan juga membahayakan. Polusi cahaya bahkan disebut sudah berdampak pada seperempat permukaan bumi. Biaya listrik yang kian terjangkau di negara maju dan ekspansi infrastruktur adalah salah satu penyebab. Penambahan intensitas cahaya diperkirakan meningkat hingga 2% tiap tahunnya.

Sejumlah pakar biologi Unversitas Exeter bahkan mengaitkannya dengan perubahan iklim. Mereka mengatakan, cahaya buatan (seperti lampu) harus disikapi seperti halnya polutan lain karena dampak pada lingkungan yang mengakibatkan terganggunya sistem.

Sejumlah spesies hewan terganggu pola perilakunya, siklus kembang biak, level hormon, dan rentan terhadap pemangsa. Cahaya ini disebut pembawa malapetaka bagi serangga karena menurunkan populasi mereka secara drastis. Banyak serangga yang tertarik dan mendekati bola lampu yang menyala lalu mati terbakar, atau tertabrak karena mendekati sorot lampu mobil.

Burung-burung laut juga terbang mendekati cahaya, menuju lampu mercusuar hingga tanpa sadar menabraknya sampai mati. Penyu seringkali salah arah dalam menemukan daratan menganggap cahaya lampu adalah sinar bulan. Tak sedikit yang akhirnya tergilas mobil. Sejumlah pohon bertunas lebih awal saat musim semi, dan masih banyak lagi daftar dampaknya.

Para ahli biologi tersebut mengumpulkan 126 berkas penelitian tentang dampak cahaya lampu terhadap lingkungan untuk menyusun analisis. Mereka menemukan fakta bahwa spesies hewan mengalami penurunan kadar melatonin – hormon yang memicu kantuk – karena cahaya lampu yang bersinar saat malam. Pengaruhnya mendistraksi perilaku hewan. Sebagai contoh, burung menjadi lebih awal mencari pakan cacing, dan hewan pengerat menjadi lebih singkat periode mencari makannya (yang biasanya di kegelapan malam).    

Namun diantara pengaruh buruk yang terjadi, terdapat sedikit dampak baik bagi spesies tertentu. Beberapa spesies kelelawar jadi cepat berkembang biak, dan sejumlah tanaman tumbuh lebih cepat.

Kevin Gaston, penulis dan professor ahli Lingkungan dan Keberlanjutan, mengatakan, “Studi yang dilakukan selama 10 tahun terakhir menunjukkan penigkatan jumlah dan intensitas cahaya ‘buatan’ dan dampaknya makin dirasakan. Dampaknya bisa pada mikroba, invertebrata, hewan, dan tumbuhan. Kita sudah seharusnya memikirkan pengaruh cahaya sebagai polutan sama bahayanya dengan perubahan iklim.”

Gaston seperti dikutip intelligentliving melanjutkan, “Kita harus mulai berpikir untuk menggjanakan cahaya sejauh yang kita butuhkan, dimana kita butuhkan, dan bagaimana kita membutuhkannya. Kita butuh cahaya di malam hari hanya menanggulangi perasaan takut saja.”

Menangani soal polutan cahaya justru lebih mudah dari krisis iklim. Bahkan kenyataannya jauh lebih hemat ongkos. Semua orang hanya perlu memakai cahaya secukupnya, dan saat mereka melakukannya, biaya energi jauh lebih berkurang sekaligus menurunkan jejak karbon.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]