banner
Melina M. Karamoy memaparkan materi dalam webinar Sustainability Festival 2021 yang diselenggarakan oleh Aicon Global Indonesia yang bekerja sama dengan Trisakti Sustainability Center dan SR Asia Indonesia, Jumat (17/9/2021). Foto : Istimewa
SR Asia

Butuh Keterlibatan Pimpinan dalam Praktik Keberlanjutan di Perusahaan

661 views

MajalahCSR.id – Penerapan praktik keberlanjutan di perusahaan perlu upaya dan keterlibatan dari seluruh internal stakeholder, terlebih sang pemimpin atau leader. Sebab, leader mempengaruhi kelancaran prosesnya dibandingkan leader yang berbeda pandangan soal sustainability yang membuatnya lebih sulit untuk dijalankan. Salah satu perusahaan yang sukses menerapkan strategi dan inisiatif keberlanjutan di perusahaan melalui keterlibatan pimpinannya adalah PT Kalbe Farma, Tbk.

Menurut Melina M. Karamoy, Head of Corporate Communication and Sustainability PT Kalbe Farma, Tbk., perusahaannya memiliki empat divisi besar yaitu obat resep, produk kesehatan, nutrisi, dan distribusi/ logistic, serta 40 anak perusahaan dengan dua belas fasilitas pabrik atau manufacturing.

“Untuk ‘leaders engagement in sustainability’, PT Kalbe Farma membaginya ke dalam beberapa tahapan. Yang pertama adalah memahami pimpinan (know your leaders). Lalu kenapa kita perlu melibatkan pimpinan (why we need to engage the leaders), kemudian bagaimana kita melibatkan pimpinan (how to engage the leaders) yang terdiri dari sisi ‘message’, ‘mindset’, dan ‘involvement’,” beber Melina.

Setelah melakukan langkah tersebut, maka selanjutnya terjadi inisiatif sustainability yang dilakukan PT Kalbe Farma, sehingga pada akhirnya bisa menyusun sustainability report atau laporan keberlanjutan. Untuk tahap leader, disebutkan Melina, PT Kalbe Farma adalah perusahaan besar, sehingga dalam struktur organisasinya memiliki banyak posisi pimpinan. Dimulai dari pemilik atau owner, commissioners, CEO, Board of Directors (BOD), General Managers, hingga Managers/Head (Departement/Unit/Division).

“Kita perlu tahu seperti apa karakter pimpinan, modelnya (tipikal) seperti apa, sehingga dengan begitu kita punya cara untuk melibatkan mereka dalam inisiatif keberlanjutan perusahaan,” jelasnya. PT Kalbe Farma, aku Melina cukup baru dalam menerapkan strategi keberlanjutan. “Kita memulainya di 2017 dengan memulai sustainability report kita yang pertama.”

Melina melanjutkan, dalam perusahaan besar yang begitu banyak pimpinan termasuk dalam anak perusahaan, pihaknya harus benar-benar bisa mengomunikasikan pesan keberlanjutan kepada mereka. “Kalau perusahaan multinasional (justru) lebih mudah karena kantor pusat biasanya sudah memiliki framework soal keberlanjutan sehingga sudah lebih paham,” bebernya.

Pada tahapan why we need to engage leaders, tutur Melina, alasan yang pertama pihaknya harus mendapatkan get insight atau shared vision. Hal ini karena strategi keberlanjutan harus sejalan dengan misi dan visi, termasuk strategi dan prioritas perusahaan. Alasan selanjutnya dengan melibatkan pimpinan agar pimpinan memberikan arahan (show how to) terhadap rencana keberlanjutan yang akan atau yang selanjutnya diterapkan, seperti fokus apa yang bakal dilakukan.

Selanjutnya adalah untuk mendapatkan buy in/approval atau persetujuan sehingga pimpinan bisa memberikan dukungan atau back up. “Kita juga bisa berbagi tanggung jawab (share responsibility) dengan pimpinan,” ungkap Melina tentang alasan lain keterlibatan pimpinan. Hal ini dikatakannya, sebab pimpinan juga turut bertanggung jawab atas inisiatif keberlanjutan perusahaan.

Alasan selanjutnya adalah enable others to act. “Kalau perusahaan besar (di mana juga memiliki sejumlah anak perusahaan) harus berkolaborasi dengan perusahaan lainnya. Dengan melibatkan leader, maka dia akan mendorong kolaborasi seluruh perusahaan agar terlibat,” jelasnya.

Alasan yang terakhir adalah encouragement and recognition, hal ini, menurutnya, lebih ke apresiasi dari tim yang melakukan  inisiatif sustainability di seluruh grup perusahaan. Ini merupakan penilaian terhadap individual excellent.

Bagaimana cara melibatkan pimpinan?

Melina menekankan, setiap penggerak sustainability di perusahaan harus memiliki skill komunikasi yang baik. Hal ini berguna untuk mengupayakan pimpinan agar bersedia untuk terlibat (how to engage the leaders), terkait influencing and convincing message. Hal ini dimulai dari menyampaikan pesan bahwa dengan menerapkan insiatif dan strategi keberlanjutan tersebut, Kalbe melakukan hal yang baik bukan karena aturan atau agar dilihat pihak lain, melainkan dari hati untuk melakukan yang terbaik karena perusahaan ingin melakukan yang terbaik.

Selain itu, “Karena Kalbe merupakan perusahaan terbuka, kita menyampaikan pesan dan meyakinkan pimpinan bahwa hal ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan investor, baik lokal maupun luar,” terang Melina. Biasanya investor, diakuinya, sering menanyakan soal strategi keberlanjutan yang dilakukan oleh PT Kalbe Farma. Pada konteks ini para BOD merupakan pihak yang paling sering mendapat pertanyaan tersebut.

Selanjutnya, sebagai perusahaan terbuka juga, Kalbe harus complience dengan aturan POJK 51 tahun 2017, dan alasan ini bisa mendorong para leader perusahaan untuk turut terlibat. Berikutnya adalah bawa PT Kalbe Farma harus berkontribusi pada negara dan SDGs sebagai program global yang juga telah diratifikasi oleh Indonesia. PT Kalbe Farma juga menjadi anggota dari sejumlah lembaga baik nasional maupun internasional seperti UNICEF, yang mensyaratkan adanya keberlanjutan di perusahaan. Terakhir adalah alasan untuk penguatan imej dan reputasi dari perusahaan sendiri.

Setelah influencing and convincing message, langkah selanjutnya dalam upaya melibatkan pimpinan adalah changing mindset. Motif  pertama yang dijadikan dasar untuk pelibatan terkait mengubah pola pikir adalah, bahwa perusahaan beralih dari awalnya perusahaan yang bertanggung jawab menjadi perusahaan yang berkelanjutan.  

Profit memang penting bagi perusahaan, namun dengan mengadopsi prinsip keberlanjutan, maka yang terjadi justru peningkatan terhadap profit itu sendiri. Kenapa? “Karena dalam strategi sustainability itu ada efisiensi, reduce cost, ada renewable yang menggantikan cara-cara lama, sehingga menciptakankan stakeholder trust yang pada akhirnya mengerek imej.

Komponen changing minset lain adalah cara baru versus cara lama. Biasanya, menurut Melina, perusahaan nyaman dengan cara lama karena sudah merasa mencapai profit yang diinginkan. “Tidak demikina, justru sekarang kita harus berlomba-lomba untuk menyatakan kapabilitas perusahaan yang kuat (dalam perubahan).”

Langkah selanjutnya adalah open the showcase atau kita harus memperlihatkan apa hal baik yang sudah kita lakukan dengan inisiatif dan strategi keberlanjutan serta bagaimana dampaknya. “Di dunia yang kompetitif ini open showcase perlu asal ada bukti dan faktanya yang bisa dipertanggungjawabkan.”

Lantas pada hal apa leader tersebut dilibatkan? Terdapat enam hal yang didalamnya pimpinan harus hadir. Hal pertama adalah saat sustainability workshop, yaitu edukasi, sehingga semua BOD memiliki kesepahaman yang sama. Selanjutnya dalam proses sustainability policy, atau penyusunan kebijakan keberlanjutan perusahaan, lalu sustainability strategy atau saat mengakomodasi prinsip keberlanjutan ke dalam strategi perusahaan, sustainability commitment, sutainability initiatives, sampai akhirnya sustainability report.

Hal yang harus dimiliki

Tak ketinggalan, Melina pun mengungkapkan hal yang harus dibutuhkan untuk seorang praktisi sustainability di dalam perusahaan. Hal ini berguna untuk mendorong pimpinan guna melakukan bisnis yang berkelanjutan. Poin-poin kebutuhan ini, tegasnya, tak terbatas pada divisi tertentu, melainkan siapapun yang merasa menjadi bagian pelaku sustainability di perusahaan. “Yang pertama adalah kita harus punya nyali dan berpikir positif.” Ini gunanya mendorong semangat pada upaya proses memberi pemahaman pada BOD (terutama bagi yang belum menyetujui karena mereka beluim paham).

Kebutuhan lainnya adalah kemampuan berkomunikasi terutama kala memulai upaya keberlanjutan di perusahaan. “Harus ada interpersonal relationship dengan BOD,” tegasnya.  Hal lainnya adalah kemampuan melakukan personal approach atau pendekatan personal terutama bagi pimpinan (key person/penentu kebijakan) yang kurang positif dalam memandang isu keberlanjutan. Lalu kemampuan selanjutnya adalah mampu mengirimkan pesan komunikasi yang tepat pada BOD.

Pesan komunikasi yang baik tentu berasal dari pengetahuan yang baik pula tentang apa yang dikomunikasikan. Artinya, harus juga menguasai soal ekosistem keberlanjutan. Salah satu caranya adalah berbicara dengan para ahli di bidang keberlanjutan, seperti konsultan dan sebagainya.

Melina M. Karamoy menyampaikan materi inspiratif ini pada acara Sustainability Festival 2021 di hari terakhir, Jumat (16/9/2021) bertema Leaders Engagement in Sustainability. Festival yang diselenggarakan oleh Aicon Global Indonesia bekerja sama dengan TSC Trisakti dan SR Asia Indonesia yang berlangsung mulai 13 September hingga 17 September 2021. Sustainability Festival 2021 menghadirkan pakar sustainability dari lima perusahaan terkemuka seperti Multi Bintang Indonesia, PT Bank CIMB Niaga Tbk., PT MRT Jakarta, PT Vale Indonesia Tbk., dan PT Kalbe Farma Tbk., yang sudah menerapkan prinsip bisnis keberlanjutan secara terpuji.

banner