banner
Ilustrasi penyemprotan tanaman memakai pestisida. Foto : abcnews.go.com/STOCK PHOTO/Getty Images
Liputan

Bumi di Batas Bahaya untuk Produk Kimia Buatan

227 views

MajalahCSR.id – Dari air, tanah, sampai udara, ekosistem bumi sudah terkontaminasi oleh material sintetis. Sejumlah pakar mengingatkan bahwa bumi kini benar-benar berada di ambang batas toleransi terhadap kontaminasi tersebut.

Seperti dikutip dari Science Alert, Kamis (20/1/2021), saat ini, ada lebih dari 350.000 senyawa kimia buatan manusia di tengah kita, termasuk plastik, pestisida, kimia industri, kimia kosmetik, antibiotik, dan obat-obatan. Apalagi jumlahnya terus bertambah dengan rata-rata kenaikan yang mengkhawatirkan.

“Rerata timbulan polutan di alam kini jauh melebihi kemampuan pemerintah dunia dalam penanganan termasuk risiko masing-masing wilayah. Jadi, mari kita juga terlibat untuk mengontrol hal ini,” ajak pakar ekotoksilogi, Bethanie Carney Almroth dari Universitas Gothenburgh, Swedia.

Bila pun kita bisa memperlambat produksi kimia buatan di masa depan, namun apa yang sudah kita lakukan sebelumnya sudah mengontaminasi atmosfer, hidrosfer, kriosfer, geosfer, dan biosfer. Oleh karena senyawa kimia ini dapat tinggal selamanya di alam, segala dampak ancamannya ini hendaknya jadi dasar penyelesaian masalah di masa mendatang.

Mengacuhkan masalah adalah kekeliruan, namun kebanyakan manusia melakukannya

Pada 2009, sebuah tim riset internasional bekerja sama menyusun daftar perihal 9 batasan yang menjadikan planet ini tetap layak sebagai hunian manusia. Faktor-faktor itu termasuk emisi gas rumah kaca, lapizan ozon, hutan, dana air bersih. Enam tahun kemudian, pada 2015, mereka menyimpulkan bahwa, aktivitas manusia sudah melampaui 4 batasan: perubahan iklim, emisi gas rumah kaca, perubahan sistem tanah, dan tingkat kepunahan.

Sampai saat ini, polusi kimia, atau “novel entities”, ternyata belum pernah diukur. Seperti halnya alat pemadam pada gas rumah kaca, para ahli mendesak negara-negara di dunia agar membatasi maraknya produksi  kimia sintetis, di samping melakukan pencegahan lain.

Seperti dikutip dari Science Alert, Kamis (20/1/2021), lebih kurang 10.000 senyawa kimia sintetis yang ada di pasaran belum teruji. Bahkan yang sudah teruji sekalipun secara kesehatan dan keamanan masih menyimpan potensi risiko laten. 

Sejumlah zat kimia dalam tabir surya, misalnya, bisa menjadi toksik bagi koral di laut. Beberapa tahun terakhir, senyawa antidepresan juga ditemukan terakumulasi di sumber air, mempengaruhi bagaimana cara ikan mencari makanannya.

Menghindari kesalahan yang sama di masa depan akan sulit, bila kita tidak melakukan upaya dramatis memperlambat produksi senyawa kimia sintetis yang berdampak pada alam.

“Mengubah cara dengan mengadopsi ekonomi sirkular sangat penting sebagai solusi,” kata Sarah Cornell, periset keberlanjutan di Stockholm Resilience Centre, Swedia. “Ini berarti mengubah material dan produk sehingga mereka bisa kembali digunakan, mendesain senyawa kimia dan produk yang bisa didaur ulang, dan pemeriksaan yang lebih ketat pada keamanan bahan kimia dan potensi risiko keberlanjutannya menyangkut dampak pada sistem lingkungan bumi.”

Ini adalah tugas yang maha besar, demikian juga konsekuensinya jika tidak dilakukan.

banner