× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Bottom Trawl Lebih Berkontribusi Pada Emisi Karbon Dibanding Aviasi

By Redaksi
Penangkapan Ikan dengan Trawl (Cantrang). Foto : Istimewa

MajalahCSR.id – Ancaman praktik penangkapan ikan dengan  bottom trawl (cantrang dasar laut) pada lingkungan ternyata berdampak jauh lebih berbahaya dari yang awal diperkirakan. Hal ini terungkap dari riset yang terbaru yang dipublikasikan dalam Nature. Penyebabnya, saat dipakai, pukat bottom trawl melepaskan emisi dari dasar lautan.

Riset ini bahkan dikatakan yang pertama yang memberikan hitungan paling akurat tentang emisi karbon yang disebabkan bottom trawl. Cara melakukannya adalah menebar pukat di dasar lautan untuk menangkap spesies ikan, udang, dan sejenisnya yang berhabitat di dasar laut.

Wilayah riset mencakup 50 kilometer persegi. Dimana para periset mengambil data sejauhmana wilayah tersebut memberi kontribusi pada kehidupan laut termasuk ketersediaan ikan, keberagaman hayati dan kadar garam diantara aspek lainnya.

Para pakar memperkirakan bottom trawling melepas 1 juta gigaton emisi karbon ke udara tiap tahun. Ini menunjukkan metode bottom trawling mencemari atmosfir dengan karbon lebih banyak dibandingkan dunia penerbangan pada kondisi normal sebelum pandemi. Mengutip Inhabitat dari Time, kegiatan penangkapan ikan lewat bottom trawl juga mempengaruhi kemampuan laut untuk menyerap dan menyimpan karbon. Pada akhirnya, kerusakkan habitat ikan dasar laut juga menyebabkan kerusakkan keanekaragaman hayati..

Menurut Enric Sala, pimpinan riset, ahli biologi kelautan, dan penjelajah dari National Geographic, pihaknya sedang berupaya mencari cara untuk menghentikan cara penangkapan ikan ini. Mereka mendorong pemerintah agar melarang industri perikanan menggunakan bottom trawling.

Para ahli pun sudah melakukan petisi pada pemerintah agar mengeluarkan aturan pelarangan penangkapan ikan ini karena dampak buruknya pada habitat laut. Selain merusak, dalam praktiknya bottom trawling juga berbiaya mahal. Sala juga mengungkapkan, kebanyakan operator bottom trawling bahkan meminta subsidi dari pemerintah saat mereka melaut.

Melalui riset ini diharapkan, bisa menyadarkan banyak pihak untuk berpikir dua kali sebelum melakukan penangkapan dengan bottom trawling.    

 

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]