× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Botol Plastik vs Kaleng Aluminium : Siapa Pemenang Pengemas Minuman?

By Redaksi
Perbandingan Botol Plastik vs Kaleng Minuman. Foto : Wood McKenzie

Kemasan botol minuman kini dihadapkan tantangan untuk memakai kemasan kaleng pengganti plastik yang dianggap mencemari lautan. Sepintas terkesan solusi tepat untuk lingkungan? Ternyata tak segampang yang dipikirkan juga.

Minuman kaleng mungkin bisa mengurangi sampah di lautan, tapi mereka datang dengan “ongkos lingkungan” sendiri. Produksi yang meningkat tentunya memicu karbon ke atmosfir seperti halnya botol plastik.

Grup Danone dari Perancis adalah satu perusahaan yang memutuskan “berhijrah”. Kepada Reuters mereka mengatakan akan mengganti sebagian kemasan plastik minuman mereka dengan kaleng untuk poduk yang dijual di Inggris, Polandia, dan Denmark.

Jejak Karbon Kaleng Minuman. Sumber: Reuters

Tanggal pergantiannya belum diumumkan secara resmi, namun yang jelas, rival seperti Coca Cola, Pepsi, dan Nestle juga merilis kemasan kaleng untuk menggantikan sejumlah kemasan brand minuman mereka.

Produsen minuman berpengemas plastik memang tengah disorot masyarakat dunia terkait fakta lautan yang kian tercemar sampah plastik. Sebagai jawaban, upaya penggantian kemasan ini mulai digiatkan seiring upaya mendaur-ulang kemasan plastik produk mereka. 

Namun, ini tidak sesederhana hitam dan putih. Dengan upaya meningkatkan volume daur ulang kaleng, perusahaan juga seolah mengingkari upaya mereka mereduksi jejak karbon. Untuk melebur kaleng (smelting) pasti dibutuhkan energi yang sangat besar. Pilihan yang sulit bagi mereka dalam menghadapi para investor, kampanye dan konsumen yang peduli lingkungan.

“Ini persoalan yang menjadi dilema, anda tetap harus memilih,” kata manajer pengemasan berkelanjutan di perusahaan minuman alkohol, Heineken, Ruben Griffioen. Heineken menurutnya sudah mengurangi sampah plastik dan juga emisi dalam kegiatannya.

Daur ulang plastik jauh lebih rumit. Lebih banyak timbul masalah dan potensi daur ulang yang juga lebih sulit dari aluminium. Jadi, penggunaan kaleng oleh sebagian pihak dinilai lebih hijau bagi lingkungan. Menurut badan lingkungan (Enviromental Potection Agency) di Amerika, sebanyak 68% aluminium bisa didaur ulang di Amerika. Bandingkan dengan plastik yang hanya 3%.

‘Tak Bisa Semudah Itu’

Bruce Karas, eksekutif bidang lingkungan dan keberlanjutan Coca Cola di Amerika Serikat, mengiyakan perihal pengemasan plastik vs kaleng.

Jejak Karbon Botol Plastik. Sumber: Reuters

“Saat kita melihat bahan baku yang berbeda, akan ada hal yang harus diperhatikan: jejak karbon, selera konsumen, energi, dan air,” katanya.

“Akan ada gabungan dari semuanya. Apabila dari kelimanya, satu tidak sesuai, kita harus tetap mengambil keputusan,” kata Bruce.

“Tidak akan selalu bisa mengakomodasi keempat poin tersebut.”  

Meski lebih minim sampah, aluminium memicu jejak karbon lebih besar karena proses peleburannya yang butuh banyak energi. 

“Sungguh, gambarannya sangat kompleks,” kata eksekutif Pepsi bidang pengemasan plastik, Simon Lowden. “Anda juga harus berpikir soal transport, pengemasan tambahan, durasi produk di toko, dan semua ini masuk ke dalam perhitungan.”

Karena bobot almunium sangat ringan, kaleng bisa lebih efisien ruang, lebih minim transport dibanding botol plastik dan kaca. Selain itu, dibutuhkan lebih sedikit energi lemari pendingin untuk mendinginkan minuman kaleng.  

“Ini artinya, industri almunium tidak menghasilkan gas rumah kaca yang massif,” jelas Simon.

Plastik Melawan Balik

Saat kemasan kaleng menawarkan alternatif solusi yang baik, industri kemasan plastik senilai USD 19 miliar berupaya melawan balik.

Rumus ekonomi sederhana jadi senjata; almunium lebih mahal dibanding plastik. Bahan baku botol plastik lebih murah 25 – 30 % dibanding kemasan logam, merujuk analisis Uday Patel dari biro konsultan Wood Mackenzie.

Salah Satu Kampanye Kaleng Minuman vs Botol Minuman. Foto : www.cannedwater4kids.org

Beralih ke pengemasan kaleng dari plastik juga butuh dana besar bagi perusahaan minuman. Termasuk didalamnya ongkos pabrik dan infrastruktur baru. Hal ini tentu tidak diketahui oleh konsumen, sehingga menjadikan kaleng tak mudah bersaing dengan plastik .

Hal penting lainnya adalah soal kenyamanan konsumen. Seberapa sering orang-orang minum botol minuman sekali teguk? Hal ini berbeda dengan kaleng minuman yang tetap terbuka saat tutupnya dilepas. Alhasil kurang hiegenis bila disimpan lagi. Di sini ada keunggulan bahan plastik yang lebih mudah untuk menutup kembali botol plastiknya.

Terakhir, kemasan botol plastik pun lebih mungkin punya ragam ukuran dibanding kaleng.

Di industri minuman, faktanya mereka tak benar-benar menghilangkan kemasan plastik. Saat mereka mulai mengemas minuman dalam kaleng, di sisi lain terus mengupayakan adanya botol plastik ramah lingkungan. Danone contohnya.

Kepada Reuters, mereka mengungkapkan, sekitar 400 ribu ton PET botol plastik digunakan per tahun, selagi berusaha meningkatkan upaya mendaur ulang botol tersebut. Sekitar 50 % botol plastik kemasan minuman dari Danone didaur ulang kembali untuk digunakan. Pada 2025 perusahaan ini menargetkan 100% pemakaian botol plastik hasil daur ulang untuk merek Evian.

Sementara Pepsi tengah mengujicoba pemakaian kaleng untuk brand Aquafina, sambil mengemas merek LIFEWTR dalam botol plastik hasil 100% daur ulang.  

Sumber:
https://www.reuters.com/article/us-environment-plastic-aluminium-insight/plastic-bottles-vs-aluminum-cans-wholl-win-the-global-water-fight-idUSKBN1WW0J5

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]