× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Bitcoin yang Ternyata Sangat Boros Energi

By Redaksi
Ilustrasi Mata Uang Kripto dan Elektronik, Bitcoin. Foto : Twenty/20

MajalahCSR.id – Bitcoin ternyata rakus soal konsumsi energi. Konsumsi Ini diperparah oleh perusahaan teknologi Tesla yang belum lama ini mengumumkan “membeli” bitcoin senilai US$ 1,5 miliar. Kelak perusahaan ini bisa menerima mata uang crypto sebagai pembayaran produk mobil listriknya. Kebijakan ini hanya makin menambah beban kebutuhan energi.

Inhabitat melaporkan, Bitcoin membutuhkan energi yang besar sejak 2018. Pada saat itu, terungkap pemakaian energi Bitcoin melampaui Austria merujuk data di akhir tahun. Pada awal 2021 ini, Bitcoin sudah mengejutkan Argentina karena energi yang dibutuhkan demikian boros melebihi kebutuhan konsumsi negara sepakbola itu. Fakta ini diungkap oleh riset yang dilakukan Universitas Cambridge, Inggris. Agar bisa mendapat gambaran, jumlah penduduk Austria lebih kurang 9 juta jiwa sementara Argentina 45 juta warga.  

Sejak keputusan Tesla yang membeli Bitcoin tersebut, mata uang crypto ini mencatat rekor nilai tertinggi. Semakin tinggi nilai berarti kian banyak energi yang digunakan untuk menjalankan perangkat komputer sebagai mesin Bitcoin. ”Kondisi ini terjadi akibat desain Bitcoin yang butuh energi listrik yang tinggi,” kata Michel Rauchs, periset dari The Cambridge Centre for Alternative Finance, kepada BBC’s Tech Tent podcast. “Situasi ini tidak bakal berubah sampai nilai Bitcoin mengalami kejatuhan nilai yang signifikan.”

Rauch membuat skema perangkat online untuk memperkirakan konsumsi energi Bitcoin. Dengan angka 121,36 Tera-watt jam (TWh) per tahun, perangkat tersebut menunjukkan konsumsi energi Bitcoin melampaui Belanda, Uni Emirat Arab, bahkan Argentina, dan nyaris melewati konsumsi energi Norwegia. Untuk lebih kontekstual, angka tadi cukup untuk mengaliri listrik seluruh ketel atau pemanas air di Inggris selama 27 tahun.   

“Elon Musk sudah mencoreng promosi transisi energi yang sangat baik dilakukan Tesla,” kata David Gerard, penulis buku “Attack of the 50 Foot Blockchain” seperti dilaporkan BBC. “Ini buruk  sekali, saya tidak tahu bagaimana bisa dia melakukan hal ini,” keluh Gerard. Gerard menyarankan perlu adanya pajak karbon pada cryptocurrency yang mungkin bisa berdampak mencegah komputer raksasa terus menyala selama 24 jam 7 hari untuk transaksi Bitcoin di seluruh dunia.

 

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]