× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Bisakah Konsumsi Serangga Atasi Kebutuhan Protein Berkelanjutan?

By Redaksi
Ilustrasi Menu Jangkrik. Foto : inhabitat

MajalahCSRid – Pernahkah mempertimbangkan serangga sebagai altrnatif kebutuhan protein? Jika jawabannya tidak, saatnya untuk mempertimbangkan. Merujuk pada studi yang dilakukan Universitas Kopenhagen, Denmark, mengonsumsi serangga lebih “sustainable” dibandingkan sumber peternakan. Studi melibatkan lebih dari 2.000 spesies serangga yang bisa dimakan, beberapa diantaranya speseis langka.

Ternyata, dari sekian banyak spesies serangga yang ada, cukup bisa memenuhi kebutuhan protein global. Salah satu serangga yang memungkinkan terus dikonsumsi adalah jangkrik. Serangga ini sangat familiar dan aman dikonsumsi serta berkandungan gizi dan protein tinggi. Saat berkembang biak, jumlah serangga ini amat banyak sehingga dapat dipanen dengan leluasa.

Argumen Soal Konsumsi Serangga

Mengubah sumber protein dari hewan ternak ke serangga bisa mengurangi dampak emisi gas. Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, sektor peternakan selama ini memicu 14,5% emisi gas rumah kaca. Inhabitat menyebut, mengurangi konsumsi produk ternak tentu berdampak dalam penurunan emisi tersebut.

Ilustrasi Konsumsi Jangkrik . Foto : Net/Istimewa

Serangga adalah hewan yang bisa dikonsumsi dan mampu menutupi celah kebutuhan protein bila konsumsi ternak dikurangi. Sebagai contoh, jangkrik adalah sumber protein yang 20 kali lebih efisien dari sapi. Sebagai tambahan, menurut hasil studi The Balance SMB, memanen jangkrik berdampak metan 80 kali lebih kecil dibandingkan sapi. Jadi, bila serius peduli terhadap lingkungan, ini saatnya mengganti preferensi.

Alasan lain konsumsi serangga, mereka adalah materi organik dan butuh sumber pakan yang lebih kecil dibanding hewan ternak biasa. Organisasi pangan PBB (Food and Agricultural of Organization/FAO) menyebut, hanya butuh pakan dua pon atau 1 kilogram untuk menghasilkan satu pon daging serangga. Bandingkan dengan sapi yang butuh delapan pon pakan untuk satu poin daging. Namun, mengubah kebiasaan konsumsi ke daging serangga bukan perkara mudah.

PBB sendiri turun tangan untuk mengimbau industri pengolahan daging mulai memikirkan serangga sebagai olahan burger. Daging serangga dapat dengan mudah diproses sebagai pengganti tanpa mengubah cita rasa.

Kenapa jangkrik dan mengapa sekarang?

Jangkrik  keberadaannya kembali memicu kembali kosnsrvasi dengan mengonsumsinya. Menurut publikasi dari NPR, jutaan jangkrik diperkirakan muncul dari tanah tahun ini. Di Amerika saja, diperkirakan jumlahnya mencapai 1,5 juta. Termasuk jenis jangkrik yang hanya terlihat setiap 17 tahun sekali. Meskipun tak membahayakan karena tak menyerang atau menggigit, suara “krik” bisa sangat menganggu  dalam jumlah yang massif.

Bagaimana mengonsumsinya?

Menimbang bahwa jangkrik menjadi sumber pangan alternatif, ada banyak manfaat dengan mengonsumsinya. Ada banyak alasan di sini, sejumlah orang yang mulai beralih mengonsumsinya sebagai sumber protein. Jika anda belum pernah mengonsumsi jangkrik sebelumnya, mungkin terlihat absurd menyarankan anda mengonsumsinya. Tapi, memakan serangga pada dasarnya bukan hal baru dan bisa diterima.

Ilustrasi Menu Jangkrik. Foto : inhabitat

Live Science juga pernah menginformasikan, lebih dari 2 miliar orang di seluruh dunia secara teratur mengonsumsi serangga. Ini berarti lebih kurang seperempat penduduk dunia sudah biasa mengonsumsi serangga. Selain sumber protein (hewani) yang lebih murah, para ilmuwan juga menjadikannya sebagai nutrisi masa depan. Dengan fakta-fakta seperti itu, setidaknya anda bisa tertarik mulai mencobanya.  

Jika anda berniat mulai mengonsumsi, ada beberapa tips yang harus diperhatikan. Pertama, bersihkan serangga ini dengan seksama. Jangkrik adalah serangga liar yang mungkin membawa mikroorganisme berbahaya. Para ahli masak menyarankan untuk merebus jangkrik selama lima menit untuk membersihkannya dari kotoran seperti tanah. Setalah direbus, masukan ke dalam air dingin untuk melepas kaki dan sayapnya. Jika tak kebeertan, anda bisa melewatkan proses ini.

Hasil akhir

Untuk orang-orang yang tak pernah memakannya, kebiasaan ini tak sulit dilakukan. Orang-orang yang sudah lebih dulu mengonsumsinya bahkan menyebutnya bercitarasa “nutty/earthy flavor”. Cara memasaknya mirip dengan udang dan bisa dikonsumsi  sebagai tambahan menu lain, atau menu utama.

Bila mengonsumsi jangkrik bisa membantu eksistensi lingkungan, sudah saatnya bertindak. Jangkrik dengan mudah bis ditemukan dan lebih sehat dari daging hewani lain. Tak ada salahnya mencoba dengan diet konsumsi serangga untuk hal yang lebih baik.  

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]