× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Bila Perusahaan Tak Terapkan Sustainability Bisa Picu Potensi Kerugian US$ 24 Triliun

By Redaksi
Ilustrasi Sustainable Finance atau Pembiayaan Berkelanjutan. Foto : constructionplusasia.com

MajalahCSR.id – Pemerintah melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 51/POJK.03/2017 Tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik, mendorong unit bisnis termasuk perusahaan jasa  keuangan untuk menerapkan prinsip keberlanjutan dalam kegiatan mereka.

Meski demikian, tak banyak yang tahu bagaimana sebenarnya penerapan keuangan berkelanjutan di perusahaan, terutama di sektor pembiayaan. Menurut Leo Mualim, Vice President Sustainability PT Bank CIMB Niaga Tbk., sustainability atau keberlanjutan sudah ada sejak 15 tahun lalu, namun mulai marak sejak 2 hingga 3 tahun terakhir.

“Para investor atau penanam modal mulai fokus berinvestasi pada perusahaan yang memiliki visi dan misi sustainability serta mengadopsi praktik ESG (environmental, social, corporate governance).  Lalu dari sisi kustomer, di CIMB Niaga sendiri, dari hasil survei, customer kita yang meminta dan mengharapkan untuk memasukkan praktik sustainability ke dalam kegiatan perbankan kami,” ungkapnya.

Secara prinsip, papar Leo, ketika memasukkan unsur sustainability atau keberlanjutan (ke dalam  perusahaan), itu dapat meningkatkan value sebuah perusahaan. “(Sebaliknya) Ketika kita tidak memasukkan (prinsip) keberlanjutan atau sustainability ke dalam kerangka, misalnya, risk management, sebuah perusahaan, maka di masa depan akan ada potensi kehilangan hampir USD 24 triliun, akibat tidak mempertimbangkan, misalnya, masalah iklim, sustainability, dan sebagainya.”

Lalu dari sisi employee atau pekerja, lanjut Leo, generasi sekarang mencari perusahaan yang memberikan value atau impact terhadap lingkungan atau sosialnya. “Berdasarkan hasil studi 2016, tujuh puluh persen generasi milenial lebih senang bekerja dengan ‘salary yang biasa’ di perusahaan yang memiliki sustainability yang bagus.”

Kontribusi atau dampak dari sebuah perusahaan terhadap sustainability disebutkan Leo sangat penting. “Terdapat sebuah data (yang menyebutkan) bahwa potensi dari green financing secara global ada di angka USD 5,7 triliun,” cetus pria yang menyandang gelar PhD dari Institut Pertanian Bogor ini.

Mengapa CIMB Niaga memilih mempraktikkan sustainability? “Karena secara sederhananya, itu baik dan benar untuk dilakukan pada saat ini, karena memikirkan juga generasi yang akan datang,” tegas Leo.  CIMB Niaga memiliki lima pilar untuk sustainability, yaitu sustainability action, sustainability business, CSR, stakeholder engagement and advocacy, dan governance and risk.

“Untuk sustainability action lebih terkait pada operasional perbankan, seperti aksi atau inisiatif apa yang dapat dilakukan, misalnya untuk mereduksi carbon footprint dari kegiatan perbankan.” Selanjutnya mengenai sustainability business, adalah bagaimana CIMB Niaga berkontribusi positif terhadap nasabah atau debitur perusahaan. Pada pilar ketiga tentang CSR, yaitu bagaimana dampak perusahaan pada kegiatan CSR yang dilakukan.

Pilar selanjutnya, stakeholder engagement, adalah bagaimana CIMB Niaga mengkomunikasikan apa yang sudah dilakukan oleh CIMB Niaga kepada eksternal stakeholder (investor) dan internal stakeholder. “Menurut saya yang paling penting itu ada di pilar governance and risk. Hal ini karena governance and risk menaungi keempat pilar lainnya di CIMB Niaga,” jelasnya.

Menjelaskan pilar governance and risk, Leo mengungkapkan bagaimana CIMB Niaga memandang sustainability atau sustainable finance dalam implementasinya. “Salah satu fokus utama bank (perbankan) adalah bagaimana caranya kita bisa memitigasi suatu risiko. Sustainability juga salah satu risiko yang perlu dikelola dalam perbankan. Ketika berbicara soal sustainability risk maka menjadi sangat luas kerangkanya,” papar Leo.

Pihaknya menyederhanakan risiko tersebut menjadi tiga, yaitu empowerment risk, economic risk, dan social risk. Lalu secara internal dibagi lagi menjadi 3, terdiri dari governance, risk assessment, dan reporting and communication. Untuk governance, disebutkan Leo, CIMB Niaga punya badan tata kelolanya sendiri seperti “overstek” dari BOD (Dewan Direktur) dan BOC (Dewan Komisaris), serta ada unit khusus yang menangani sustainability.

Terkait risk assassment, Leo menyebut seperti kebanyakan bank lain, ada prosedur screening yang cukup menyeluruh terhadap segala risiko dan potensi risiko termasuk untuk soal sustainability. Sementara di bagian reporting and communication, CIMB Niaga memiliki sustainability report atau laporan keberlanjutan.  Leo mengaku selama 3 tahun terakhir, CIMB Niaga terus melakukan perbaikan atau improvement yang pada akhirnya bertujuan untuk menyeimbangkan people, planet, dan profit (3P/triple bottom line).

Pada tataran praktis operasional perusahaan, semisal pada praktik kredit, menurut Leo, setiap nasabah akan dianalisis menurut sektor, di mana di setiap sektor CIMB Niaga sudah memiliki aturan “do dan don’t” untuk nasabah yang bersangkutan. “Di CIMB Niaga kita sudah memiliki ‘guidance’ terkait sektor spesifik terutama yang sudah diimplementasikan adalah di sektor AFOLU atau agricultural, forestry, and other land use atau di istilah perbankan lebih dikenal sebagai high sustainability risk sector,” kata Leo.

Pada guidance terkait do dan don’t, adalah apa yang diharapkan bank dari debiturnya. Menurut Leo, bank bisa menolak pengajuan pembiayaan nasabah karena sesuai guidance (dalam konteks sustainability) yang sudah ditetapkan.   “Sebagai bagian dari stakeholder engagement, kita melakukan advokasi keluar, di dalam sektor guidance, kita mencantumkan yang namanya encourage yang selalu dikomunikasikan kepada debitur atau nasabah, bahwa CIMB sudah menerapkan sustainability, maka diharapkan bisa berkontribusi bersama mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan yang juga berlandaskan pada 3P.”

Leo melanjutkan, demi mewujudkan hal itu, CIMB Niaga sudah menerapkan praktik mendorong sustainable finance baik untuk individu maupun bisnis. Salah satu contoh unutk individu adalah program Electric Motor Xtra yang memberikan pembiayaan khusus bagi individu yang melakukan kredit pembelian produk motor listrik. Kemudian ada Sustainability-linked Waqf Savings, serta program Green Mortgage yaitu pembiayaan pada bangunan yang sudah tersertifikasi sebagai bangunan hijau atau green building. Sementara untuk kategori nasabah bisnis terdapat oprogram Sustainability-Linked Loans dan Sustainable Finance Program.

Leo Mualim menyampaikan materi inspiratif ini pada acara Sustainability Festival 2021 di hari kedua, Selasa (14/9/2021) bertajuk Managing Strategic Sustainable Finance. Festival yang diselenggarakan oleh Aicon bekerja sama dengan TSC Trisakti dan SR Asia Indonesia yang berlangsung mulai 13 September hingga 17 September 2021 di waktu jam makan siang. Sustainability Festival 2021 menghadirkan pakar sustainability dari lima perusahaan terkemuka seperti Multi Bintang Indonesia, PT Bank CIMB Niaga Tbk., PT MRT Jakarta, PT Vale Indonesia Tbk., dan PT Kalbe Farma Tbk., yang sudah menerapkan prinsip bisnis keberlanjutan secara terpuji. Acara diskusi terbuka bagi siapa saja tanpa biaya apapun.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]