× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Berkreasi Unik dari Limbah Kampanye

By Redaksi

Foto di atas sempat beredar viral pasca berakhirnya masa kampanye atau saat masuk pekan tenang jelang pemilu. Adalah seorang pengguna Instagram dengan user @tejyet yang menampilkan gambar tersebut sebagai upaya mendaur ulang atribut kampanye yang tak termanfaatkan. Pemilik aun bernama asli Harits Alfadri Dewanto adalah seorang visual designer. Ia berhasil menyulap spanduk kampanye menjadi jaket dengan desain modern sekaligus edgy.

Dalam keterangan fotonya, Harits mengaku idenya berangkat dari keresahan menyaksikan potensi sampah visual dari demikian banyak spanduk kampanye yang dipajang di seantero kawasan. Maka dengan kreativitasnya, Harits lantas menyulap limbah spanduk tersebut menjadi produk pakai. Karyanya mendapatkan apresiasi positif dari para netizen.

Yang cukup ramai dibicarakan juga adalah program bertajuk The Trash Bag Project. Program ini dirilis sebuah perusahaan yang bergerak dalam manajemen sampah, Parongpong, sebagai respon terhadap potensi limbah kampanye. Melalui akun Instagram @parong.pong, Parongpong mengajak masyarakat mengumpulkan spanduk dan aneka alat peraga kampanye ke sejumlah titik pengumpulan. Perusahaan yang berlokasi di Parongpong, Kabupaten Bandung ini menyediakan dua titik, yakni di Jakarta dan Bandung. Spanduk yang terkumpulkan dimanfaatkan sebagai material pembuatan wadah usaha pengelolaan sampah pada acara Happiness Festival 2019 yang dilangsungkan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada 27-28 April 2019.

Dalam poster yang diunggah di Instagram, bentuk kantong sampah itu menyerupai dry bag yang biasa digunakan para penyelam untuk melindungi isi dari air. Pendiri Parongpong Rendy Aditya Wachid menyebutkan ide penggunaan spanduk kampanye bekas sebagai tempat sampah berawal dari keinginan menghadirkan tempat pengumpul sampah selain plastik untuk acara Happiness Festival. Karena menurutnya penggunaan plastik sampah sekali pakai dalam acara itu tak sejalan dengan tema acara, yakni soal sustainability.

Kreasi produk pakai dari bahan daur ulang sebetulnya bukan hal baru. Jauh-jauh hari banyak komunitas yang telah melakukan upaya serupa. Baik sekadar hobi maupun menjadikannya lahan bisnis.

Tahun 2006, berangkat dari semangat peduli lingkungan, pemanfaatan kembali bahan bekas spanduk, poster, dan baliho menjadi tren. Plastic Works adalah salah satu nyemplung di bidang ini. Mereka memproduksi tote bag, tas laptop, koper mini, sandal, dompet, gorden kamar mandi, map folder, dan agenda. Garapan yang awalnya hanya berkembang di kalangan aktivis lingkungan dan program Corporate Social Responsibility (CSR) kemudian menyasar segmen lebih luas, bahkan kelompok yang relatif tak bersentuhan dengan isu lingkungan. Produk Plastic Works dibuat dengan kualitas premium, karena 70% produksinya untuk tujuan ekspor ke beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Australia, Singapura, dan Jerman. Saat itu, untuk pasar dalam negeri, Plastic Works mematok harga Rp 25.000 hingga Rp 350.000. Harga tersebut berlipat ganda untuk penjualan di luar negeri.

Tahun 2009 Plastic Works mendapat liputan  Televisi CNN yang memberikan dampak positif dalam penjualan, terutama permintaan dari luar negeri. Saat itu mereka menerima permintaan dari Singapura hingga 2.700 pieces, Eropa 3.000 pieces, dan Amerika Serikat 1.500 pieces.

Di Bandung ada Tarlen Handayani. Pemilik Vitarlenology ini mengombinasikan barang baru dan bekas untuk produknya. Misalnya, ia membuat padu-padan spanduk atau poster bekas dengan kain tradisional Indonesia. Desainnya warna-warni dan berkesar pop art. Jenis produknya antara lain tas laptop, dompet, dan tas belanja. Tarlen mematok harga Rp 40.000 hingga Rp 150.000. Pertimbangan harga adalah berdasarkan tingkat kesulitan pembuatannya. Dalam sebulan Tarlen hanya memproduksi sekitar 100 produk. Ia memilih membatasi produksi dan lebih mengutamakan keunikan.

Bagaimana, tertarik untuk memproduksi barang pakai dari bahan daur ulang?

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]