× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Bergandeng Erat Atasi Sampah yang Kian Darurat

By Redaksi
Diskusi Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi

Persoalan sampah di perkotaan kian mengkhawatirkan. Sampah domestik yang didominasi sisa makanan, plastik, terus muncul seakan tak pernah ada habisnya. Pemerintah memang mencanangkan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah. Namun belum terealisasi secara nasional. Perkara sampah ini menjadi tema utama dalam acara diskusi “From Trash to Treasure: Aksi dan Kolaborasi Mengatasi Sampah Perkotaan” yang digelar Filantropi Indonesia bekerjasama dengan Dompet Dhuafa pada Rabu (17/7/19) di Gedung Ariobimo, Kuningan, Jakarta Selatan.

Hadir sejumlah pembicara di bidangnya dalam diskursus publik ini. Diantaranya, Manager Lingkungan dan Pendanaan Mikro Syariah Dompet Dhuafa, Syamsul Ardiansyah, lalu Manager Program Kelautan Yayasan Kehati, Basuki Rahmad, Direktur Pendistribusian dan Pendayagunan BAZNAS, Irfan Syauqi Beik, dan Exernal relation Yayasan Tzu Chi, Andry Zulman. Acara diskusi ini juga menandai lahirnya Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi yang merupakan bagian dari Filantropi Indonesia.

Peluncuran Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi

Masyarakat perkotaan dan daerah penyangga menghasilkan sampah lebih besar daripada daerah lainnya. Padahal jumlah kota hanya 3 persen dari keseluruhan wilayah di Bumi. Meski demikian 75 persen emisi karbondioksida dihasilkan oleh daerah perkotaan. Selain itu sebagai negara maritim, mayoritas kota besar di Indonesia terletak di pesisir. Oleh karenanya sampah yang dihasilkan wilayah perkotaan juga turut mempengaruhi bagaimana kondisi laut Indonesia dan ekosistemnya masa sekarang.

Peliknya masalah sampah terlihat dari posisi Indonesia sebagai penghasil kedua terbesar di dunia setelah China. Pada 2019 ini Indonesia diperkirakan menghasilkan sampah sekitar 66 – 67 juta ton atau meningkat dari tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 64 juta ton. Dari total jumlah sampah yang dihasilkan setiap harinya, hanya 60% yang terbawa ke tempat pembuangan akhir (TPA). Sementara 40% sisanya adalah sampah yang dibuang sembarangan, seperti di sungai, selokan, pinggir jalan dan lain-lain.

Peluncuran Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi

Hal apa saja yang memicu pengelolaan sampah demikian pelik? Kepadatan peduduk yang berkorelasi dengan jumlah sampah. Harus ada metoda mengurangi kepadatan penduduk. Yang kedua, fasilitas yang masih minim. Sebagai gambaran, negara Jepang punya jadwal harian pengambilan jenis sampah rumah tangga. Kendaraan maupun penampung sampah pun disesuaikan dengan jenis sampah. Persoalan ketiga adalah manajemen sampah yang belum optimal. Sampah masih tercampur. Keempat adalah perilaku masyarakat yang perlu diubah. Kelima, soal penegakkan hukum dan sosialisasi peraturan.

Syamsul Ardiansyah, Manager Lingkungan dan Pendanaan Mikro Dompet Dhuafa Filantropi menyatakan bahwa Dompet Dhuafa berkomitmen dalam pengentasan masalah sampah sebagai upaya perbaikan lingkungan sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi sirkuler di masyarakat, terutama kaum dhuafa. “Dompet Dhuafa melalui program Semesta Hijau mendukung upaya perbaikan di sektor lingkungan yang mampu mengangkat kemandirian dhuafa”, ujarnya. Dompet Dhuafa memperkenalkan program “Green Ramadhan Kareem”. Program ini berupaya meminimalkan sampah sehingga ibadah puasa pun jadi berkah terhadap alam. Memakai peralatan makan yang re-used dan tak membuang makanan adalah salah satu poinnya.

Sementara BAZNAS mengungkapkan solusi lewat Bank Sampah. Bank sampah ini menampung sejumlah sampah domestik sehingga warga bisa menikmati nilai ekonomis dari sampah-sampah yang mereka kumpulkan. Salah satu lokasi percontohan Bank Sampah BAZNAS adalah di Tanjung Bira, Sulawesi Selatan. Selain terjun ke masyarakat, BAZNAS juga mengajak anak-anak sekolah untuk menjadi nasabah Bank Sampah. Sementara di Bogor, menurut penuturan Irfan Syauqi, ada program microfinance untuk warga. Para warga berupaya membuat barang berbahankan sampah, seperti keset yang terbuat dari kain perca. BAZNAS membantu warga dalam pemasaran dan juga pelatihan motif agar desainnya lebih menarik. Bahkan di Lombok pasca gempa besar beberapa waktu lalu, ada satu lokasi dimana warganya  membuat pagar memanfaatkan sampah botol plastik (eco-fence).

Di Bengkulu, yang telah dipilih menjadi Kota SDGs pertama di Indonesia. Di sana BAZNAS melakukan pemberdayaan masyarakat melalui program pengelolaan sampah menjadi biji plastik.

Yang menarik adalah paparan Basuki Rahmad dari Yayasan Kehati (keberagaman hayati). Yayasan Kehati punya solusi mengatasi smpah kantong plastik dengan cara kembali ke alam. Melalui program Back to Besek yang merupakan plesetan dari Back to Basic, yayasan ini mengkampanyekan penggunaan besek bambu sebagai wadah untuk barang bawaan. Menurut Basuki, dengan menggunakan besek yang ramah lingkungan, akan berdampak ke berbagai aspek sosial. Selain mengurangi pencemaran sampah, juga mendekatkan hubungan antara masyarakat perkotaan dengan pedesaan.

Sebagai proyek pertama, Basuki akan bekerjasama dengan pihak pengelola wisata Ancol untuk meninggalkan pemakaian kantong plastik di lokasi wisata. Kawasan wisata Ancol kelak akan membuat peraturan bagi siapapun untuk tidak menggunakan kantung plastik di kawasan mereka. Sebagai gantinya, Ancol akan meng-endorse besek bambu sebagai wadah makanan. “Untuk suplai besek berasal dari ibu-ibu perajin yang berada di sekitar Jakarta dan Bogor.” Namun Rahmad menekankan, harus ada nilai ekonomi di balik konservasi. Karena sosialisasi pemakaian besek ke pebisnis harus ada nilai ekonomis di mata mereka.

Di sisi lain, Rahmad juga menyayangkan popularitas bambu yang lebih dijargonkan ke negeri Tiongkok. Padahal di Indonesia varietas bambu lebih banyak karena ada 10 jenis. Selain jenisnya lebih banyak, tumbuhnya pun lebih cepat dibanding bambu asal Tiongkok. Ini karena Indonesia beriklim tropis yang sangat ramah bagi pertumbuhan tanaman bambu.

Terakhir,  Yayasan Tzu Chi sedang mempromosikan zero waste lifestyle bagi masyarakat perkotaan lewat prinsip hidup penuh berkah. Program pelestarian lingkungan mereka dimulai dari menggalakkan pemilahan sampah, daur ulang dan pemanfaatan limbah, dan menghargai energi. Pola konsumsi pun jadi perhatian yayasan ini. Pola konsumsi haruslah ramah lingkungan. Selain itu, mereka juga menegaskan pentingnya melestarikan sumber daya alam.  

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]