× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Berdonasi Kekinian Pada Seni Lewat Royo-Royo

By Redaksi
Pentas Wayang Bocor Persembahan Kelola di Dia.Lo.Gue Artspace Kemang Jakarta

Dua puluh tahun Kelola mendampingi seniman Indonesia dalam berkarya. Untuk memperingatinya, Kelola meluncurkan program baru bertajuk Royo-Royo. Program ini untuk mengajak masyarakat menjadi bagian dari ekosistem seni budaya.

Menurut Direktur Kelola, Gita Hastarika, masih banyak masyarakat yang keliru terhadap seni. “Sebenarnya salah jika berpikir publik seni budaya hanya terbatas pada seniman dan pekerja seni. Kita semua masyarakat adalah publik seni dan budaya. Seni dan budaya tidak akan ada tanpa masyarakat,” jelas Gita. Masih menurut Gita, dengan menonton sebuah pertunjukan seni, siapapun sudah berdonasi untuk satu kelompok seni yang terdiri dari 10 orang atau lebih.

Wayang Bocor

Dalam pelaksanaan program Royo-Royo, Kelola bekerjasama dengan Dia.Lo.Gue Artspace. Tujuannya menggalang dana untuk kemajuan seni dan budaya Indonesia. Terdapat beberapa kegiatan, diantaranya pertunjukkan seni, workshop, pameran dan diskusi mulai 24 Oktober sampai 10 November. Kegiatan itu dilakukan di ruang seni Dia.Lo.Gue Artspace Kemang, Jakarta dan Kantor Kelola, Jakarta. Sejumlah seniman yang tampil merupakan jebolan Hibah Seni yang diprakarsai Kelola.

Pada awal kegiatan, Program Royo-Royo menampilkan Wayang Bocor Eko Nugroho asal Jogjakarta yang juga peraih Hibah Seni Kelola pada 2008 silam. Pada Kamis (24/10/2019) di Dia.Lo.Gue Artspace, seniman nyentrik ini menampilkan pentasnya yang diberi judul Permata di Ujung Tanduk.

Pentas Wayang Bocor merupakan hasil gabungan dari beberapa cabang seni. Mulai dari wayang kulit, teater, seni tari, ketoprak, bahkan disisipi musik modern. Alhasil, pentas yang disajikan sedikit berbeda dengan pakem seni konservatif dan terlihat kekinian serta fresh. Menceritakan seorang perempuan hamil yang lantas ditinggalkan pasangan hidupnya.  Seperti halnya pertunjukkan wayang, ada adegan yang juga menampilkan para punakawan. Disinilah terjadi sentilan-sentilan menggelitik yang menyitir berbagai kejadian sosial masyarakat. Mulai isu seputar perpindahan ibu kota sampai korupsi.

Pentas Wayang Bocor ini akan berlanjut sampai dengan Minggu (27/10/2019) di Dia.Lo.Gue Artspace. “Wayang Bocor lahir berkat dukungan Kelola. Sekarang kami ingin mendukung Kelola dan seniman baru yang mengembangkan karirnya,” kata sang pionir Wayang Bocor, Eko Nugroho.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]