× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Berbagi Sehat Lewat Donasi dan Wakaf

By Redaksi

Meskipun masih berstatus “development country”, Indonesia sangat maju dalam bidang filantropi. Lihat saja ketika ada bencana menimpa, masyarakat berduyun-duyun turut menyumbang. Selain tenaga, mereka juga menggalang dana. Tak main-main, Indonesia adalah negara berperingkat pertama sebagai negara terdermawan di dunia.

World Giving Index yang dirilis Charity Aid Foundation (CAF) menasbihkan Indonesia di peringkat pertama. Indonesia mendapat skor rata-rata tertinggi yaitu 59% dari tiga indikator, yakni menolong orang asing sebesar 46%, donasi uang sebesar 78%, dan aktif dalam kegiatan kerelawanan 53%. Menyusul di peringkat kedua dan ketiga ada Australia dengan skor 59% dan Selandia Baru 58% (Media Indonesia, 15/11/18).

Seiring perkembangan teknologi, terutama teknologi digital, masyarakat kian mudah untuk membantu sesama. Penggalangan dana kini tak lagi secara fisik, namun bisa pakai jari tangan lewat ponsel anda. Mungkin sudah banyak yang familiar dengan kitabisa.com, act.id, pedulisehat.id, dan sejenisnya. Kedermawanan masyarakat Indonesia nyatanya tak melulu disalurkan untuk korban bencana. Ada bermacam peruntukannya. Salah satunya di bidang kesehatan.

Ajang diskusi bertajuk “Prospek Filantropi Sebagai Sumber Alternatif Pendanaan Kesehatan di Era JKN”belum lama ini digelar di Jakarta. Diskusi  yang diprakarsai oleh Yayasan Tahija tersebut menghadirkan 3 narasumber yang beraktivitas di dunia filantropi kesehatan. Dari diskusi tersebut terungkap bahwa filantropi kesehatan kini mulai merambah masyarakat Indonesia.

Fenomena Crowdfunding

Salah satu pemateri diskusi, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, Ketua Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Universitas Gajah Mada, berpendapat, “Dana untuk kegiatan medis selama ini kurang. Jaminan pengobatan dari BPJS belum menutupi semuanya.”

Laksono meneliti sejumlah prospek dan aplikasi filantropi untuk pendanaan kesehatan. Dari data yang diperolehnya mulai tahun 2010 – 2016, data belanja kesehatan pemerintah, belum ada yang merujuk pada dana filantropisme kesehatan. Kondisi dana kesehatan di negara ini menurut Laksono perlu mendapat bantuan dari filantropisme.

Untuk produk domestik bruto (PDB) di bidang kesehatan, Indonesia masih kalah dibanding Thailand. PDB Indonesia untuk kesehatan tercatat sebesar 3,7%, sementara Thailand ada di angka 4,6%. Ada selisih sekitar 0,9% atau setara dengan Rp 120 T. 

“Rumah sakit milik yayasan dan pemerintah punya jejak sejarah sebagai lembaga yang selalu disumbang,”ungkap Laksono. Namun, tradisi ini sayangnya makin menipis. Perlu kembali dipicu dengan berbagai cara seperti crowdfunding. Crowdfunding adalah praktik penggalangan dana dari sejumlah orang dimana masing-masing menyumbang jumlah yang relatif kecil untuk membantu atau suatu kegiatan atau usaha dan umumnya dilakukan melalui medium digital (oxforddictionaries.com). 

Laksono meneruskan, salah satu contoh crowdfunding sukses adalah kitabisa.com. Pada tahun 2018 kemarin, terkumpul dana sebesar Rp. 472 miliar hasil dari 1,2 juta pengguna. Dari jumlah tersebut, sekitar 7.500 galang dana kategori medis yang dibuat di kitabisa.com mengumpulkan donasi sebesar Rp. 34.163.928.466. Fakta ini menegaskan, saat ini crowdfunding adalah cara yang efektif dalam soal penggalangan dana. Dengan didukung laporan penyaluran secara transparan, crowdfunding akan berdampak luar biasa bagi kehidupan sosial dan saling berbagi di Indonesia.

Kisah doctorSHARE Perjuangan Dokter di Daerah Tertinggal, Terluar, dan Terdepan

Minimnya tenaga dokter di wilayah 3T (tertinggal, terluar, dan terdepan) membuat pelayanan medis di sana terkendala. Padahal, sebagai warga negara Indonesia, semua berhak mendapatkan akses kesehatan termasuk pengobatan. Rasio antara dokter dan warga, terutama di Indonesia bagian timur amat tak imbang. Sebagai perbandingan, jumlah penduduk Jakarta mencapai 9,6 juta orang. Sementara data cacah dokternya 27.721 orang. Bandingkan dengan Papua dan Maluku yang penduduknya bila digabung sebanyak 6,5 juta yang didampingi 1.796 dokter (sumber data: pemakalah).

“Hal ini yang mendorong lahirnya doctorshare,”ujar dr. Risa Praptono, Public Outreach Coordinator doctorSHARE. doctorSHARE yang diprakarsai oleh dr. Lie Dharmawan hadir untuk menjadi mitra Pemerintah Indonesia.

“Misinya adalah memperbaiki derajat kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di Indonesia Timur melalui penyediaan akses pelayanan kesehatan holistik dan program inovatif berkesinambungan berbasis semangat ke-relawan-an,”sambung Risa. Sejumlah program telah disiapkan oleh tim doctorSHARE antara lain, rumah sakit apung, dokter terbang, pemberdayaan masyarakat, pendidikan kesehatan dan bantuan kemanusiaan dalam kondisi tak terduga, serta panto rawat gizi – kei.

Program dokter terbang sudah dilakukan sejak tahun 2015. Menggunakan pesawat perintis, empat dokter, satu koordinator, dan 2 videographer terbang ke wilayah pegunungan terpencil Papua melayani kesehatan dan pengobatan serta mengedukasi warga terpencil. Untuk rumah sakit apung, doctorSHARE sudah memiliki 3 kapal yaitu Rumah Saki Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan, RSA Nusa Waluya I, dan RSA Nusa Waluya II. “RSA Nusa Waluya II bahkan satu-satunya RSA di dunia yang dibangun dari kontainer,” kata Risa dengan bangga.

Peralatan kesehatan RSA ini sudah masuk dalam kategori rumah sakit kelas C. RSA mampu melakukan operasi mayor (1.020 operasi) dan minor (2.472 operasi). Fasilitas yang terseia antaralain, ruang operasi, ruang X ray, laboratorium, dan klinik. “Meskipun sampai saat ini kesulitan mendapatkan ijin operasional, tapi kami akan terus melayani warga yang membutuhkan,”tegas Risa. Pihaknya juga membuka tangan untuk siapapun yang ingin berdonasi. Karena salah satu sumber pendanaan operasional, datang dari para dermawan yang menyumbang.

Rumah Sakit Wakaf ala Dompet Dhuafa

Anda punya tanah luas dan berniat mewakafkannya? Kini tanah wakaf tak selalu untuk rumah ibadah, melainkan juga bisa dimanfaatkan untuk pembangunan rumah sakit sosial. Adalah program rumah sakit berbasis wakaf yang diprakarsai lembaga filantropi dompet dhuafa bisa mewujudkan keinginan warga berwakaf di bidang kesehatan.

Dr. Muhamad Zakaria, direktur RS Rumah Sakit Terpadu Dompet Dhuafa mengatakan, “Kami memberdayakan kaum dhuafa. Jadi tidak hit and run dalam penanganan pasien dhuafa.” Ada dua pendekatan yang dilakukan, lanjut Zakaria, filantropis dan kewirausahaan sosial atau social entrepreneur. “Ada salah satu petani di Sukabumi bernama Maman Suherman. Beliau tidak bisa bekerja karena sakit, tidak punya BPJS, dan akses ke rumah sakit tidak punya. Hidupya yang sering berpindah berakibat tak punya KTP,”papar Zakaria. Akibatnya Maman tidak bisa memanfaatkan program layanan kesehatan pemerintah semisal BPJS. Melalui program RS terpadu dompet dhuafa, Maman kini menjelma jadi petani sayur sukses yang memasok produknya ke sejumlah rumah makan ternama di kawasan Puncak, Bogor.

RS Terpadu Dompe Dhuafa punya sejumlah rumah sakit. Salah satunya di Parung, Bogor yang melayani kaum dhuafa secara gratis tanpa menuntut sepeser pun uang, untuk segala layanan kesehatan. Untuk menjaring pasien dhuafa, “Kami punya survey kemiskinan dengan beragam indikator sehingga bisa memastikan penyaluran manfaat bisa pada orang yang tepat,” tegas Zakaria. Bukan rahasia umum jika ada sebagian warga yang sebenarnya mampu, tapi memanipulasi dirinya terlihat miskin, agar mendapat fasilitas pengobatan gratis.

Selaku badan amil zakat, dompet dhuafa pada periode sebelumnya mampu mengumpulkan zakat senilai Rp. 200 miliar. “Donatur zakat mempercayai karena ada sistem transparansi dan juga sistem audit yang dilakukan,”jelas Zakaria. Sementara itu apabila ada pihak yang ingin berwakaf, dompet dhuafa akan mensertifikasi obyek wakaf tersebut ke Badan Wakaf Indonesia. Jenis wakaf yang bisa disampaikan bisa berupa aset dan juga uang. Berbeda dengan zakat yang besarannya sudah ditentukan senilai 2,5% dari penghasilan, besaran wakaf tidak ditentukan.

Potensi wakaf di Indonesia sangat besar. Dari data yang ada terdapat 3,49 milyar persegi senilai Rp 349 triliun. Sementarar wakaf tunai sebanyak Rp. 185 triliun per tahun. Terkait rumah sakit yang bersifat social enterprise, ada 4 sumber pendanaan menurut Zakaria. “Yang pertama melalui zakat infaq sedekah, lalu pasien BPJS, pasien masyarakat umum, dan CSR perusahan,” terangnya.

Aset yang sudah jadi wakaf tidak bisa diperjualbelikan. Hanya bisa dimanfaatkan untuk dikelola. Sehingga dengan hal tersebut, pemberi wakaf atau sebutannya wakif bisa mempercayai lembaga pengelolanya. Skemanya adalah dari wakif menyerahkan aset kepada penerima wakaf (nazhir) dalam hal ini dompet dhuafa, lalu mendirikan PT untuk mengelola dan menghasilkan, sehingga mampu mengoperasikan aset. Pembagian saham antara nazhir dan wakif adalah 60% berbanding 40%. Apabila dalam operasional wakaf mampu menghasilkan, maka itu diperuntukan untuk biaya operasinal dan perjanjian pendapatan yang diterima wakif.

“Terdapat 5 rumah sakit yang sudah beroperasi, salah satunya di Parung Bogor, dan 4 rumah sakit yang sedang dalam proses,”tutup Zakaria dalam pemaparan diskusi.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]