× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Bayu Krisnamurthi : Produksi Pangan Terganggu Jika COVID-19 Menyerang Desa

By Redaksi
Bayu Krisnamurthi. Foto : ANTARA/Agus Salim

MajalahCSR.id – Situasi yang belum benar-benar pulih akibat masalah pandemi COVID-19 yang selesai, dikhawatirkan memicu masalah ketahanan pangan. Namun, masalah pangan ini dinilai sudah terjadi, bahkan sebelum wabah corona menerpa Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Bayu Krisnamurthi, Ketua Yayasan Bina Swadaya, dosen agribisnis Institut Pertanian Bogor, dan juga mantan Wakil Menteri Perdagangan RI.

“Masalah pangan, sudah ada sebelum COVID-19. Walaupun (soal pangan) tidak kelihatan bermasalah tapi sebenarnya ‘vulnerable’  (rentan),” ungkap Krisna dalam diskusi webinar yang diisiasi FIlantropi Indonesia bertajuk “ Peran Filantropi dalam Mencegah Darurat Pangan Selama Masa Pandemi COVID-19”, Selasa (16/6/2020).

Lalu, lanjut Bayu, COVID-19 datang, yang diikuti oleh (kebijakan) lockdown (pembatasan sosial berskala besar/PSBB). Menurutnya, karena tak pernah terjadi kondisi seperti sekarang dalam sejarah manusia yang masih hidup, tak satupun pihak yang punya roadmap terkait kebijakan ke depan karena ketidaktahuan.

Ilustrasi Pangan. Foto : Istimewa/JDNews

“Masalah yang sekarang terjadi di bidang pangan adalah karena respon kita terjadap (pandemi) virus,” cetusnya. Bayu menyebut lockdown yang menjadi sumber masalah terhadap pangan. Namun, Bayu juga menggarisbawahi bahwa kebijakan PSBB adalah sesuatu yang salah, bahkan itu harus dilakukan. Di sisi lain, kebijakan ini juga mengakibatkan pembatasan pada berbagai hal termasuk pergerakan pangan.

“Produksi pangan 2020 tidak terganggu oleh (wabah) COVID-19. Jumlah petani yang terkena amat sedikit. Produksi pangan terganggu jika COVID-19 menyerang desa. Tahun 2020 ada kemungkinan pangan terganggu karena iklim,” papar Bayu. Karena iklim pada tahun ini diperkirakan sangat hangat, ancaman lainnya datang juga dari hama seperti belalang.

Gangguan pangan terjadi dari perdagangan dan logistik. Data UNCTAD PBB menyebut, terjadi penurunan import yang sangat drastis dari 50 negara yang sebaran wabahnya sangat parah. Untuk komoditas daging terjadi penurunan hingga 82,8% pada Maret 2020 dibandingkan Maret 2019. Komoditas buah dan sayuran pun mengalami nasib sama dengan angka reduksi impor menyentuh 81,8%. Untuk minyak nabati dan hewani juga anjlok sampai 78,1%. Susu dan telur termasuk komoditas yang nilai impornya sempoyongan di mana pada Maret 2020 menyusut 63,4%.

Sementara itu, Indonesia dari sisi perdagangan pun turut terdampak pandemi. Data yang sama menyebut, dampak terhadap perdagangan Indonesia  mencapai USD 312 juta. Angka ini menjadikan Indonesia berada di peringkat akhir dari 15 negara yang ekonominya terdampak COVID-19. Posisi pertama diduduki Uni Eropa di mana perdagangannya terdampak hingga USD 15,597 miliar. Amerika Utara ada di posisi kedua yang nilai perdagangannya anjlok sampai USD 5,799 miliar. Jepang menyusul di peringkat ketiga dengan USD 3,819 miliar.

Dampak COVID-19 terhadap nilai perdagangan Indonesia masih lebih baik dibandingkan Singapura (USD 2,165 mliar), Malaysia (USD 1,077 miliar), dan Thailand (USD 733 juta) yang berada masing-masing di peringkat 6, 10, dan 11.

Dalam paparan lain, Bayu menekankan, perdagangan (logistik, dan rantai pasok) memegang peran penting bagi penentu ketersediaan pangan. Pemerataan produsen komoditas pangan termasuk di Indonesia harus dilakukan. Produksi beras yang dihasilkan oleh 5 propinsi terbesar menguasai  68% produksi nasional. Komoditas gula bahkan lebih besar, di mana 5 propinsi terbesar menguasai 81% produksi nasional. Setali tiga uang dengan sayur. Lima provinsi tersebut menguasai 53% produksi nasional. Sehingga, apabila salah satu propinsi atau kelimanya terimbas wabah, bisa mempengaruhi ketersediaan pangan nasional.

Bayu mengusulkan 5 kegiatan pencegah darurat pangan di era COVID-19. Pertama adalah bantuan langsung ke desa. Selama ini, singgung Krisna, bantuan terlalu difokuskan di kota besar, padahal bila desa terganggu, bisa mempengaruhi ketersediaan pangan. Yang kedua, ketahanan pangan keluarga. Artinya, mulai sekarang tiap keluarga bisa memulai kegiatan budidaya tanaman pangan di sekitar rumah. Ketiga, masyarakat desa perlu pendampingan untuk menghadapi COVID-19. Sosialisasi protokol COVID-19 perlu dilakukan langsung, pasalnya sekitar 86% masyarakat desa belum tersentuh teknologi internet.

Keempat, perlunya monitoring dan pendataan  dan pendampingan. Bayu menyebut sekurang-kurangnya harus ada 100 desa hijau yang aman dari COVID-19. Dirinya juga menyampaikan, untuk menghindari desa pangan dari diskriminasi intrnet, dan “internet-remoteness”.

Hal yang tak kalah penting adalah perlunya me-reset terkait supply chain untuk inklusivitas, produktivitas, dan keberlanjutan (sustainability). Jika sebelumnya hitungannya ton per hektar menjadi kilogram per liter air. Krisna mengingatkan, air akan menjadi sumberdaya yang sangat langka dibandingkan lahan. Terakhir kelima, adanya normalisasi perdagangan, logistik, dan rantai pasok.  

Selain Bayu Krisnamurthi,  dua narasumber lain hadir dalam diskusi tersebut, yaitu Sifing Lestari dari Dompet Dhuafa, dan Sulastama Raharja dari Kagama (Keluarga Alumni Gajah Mada) Care yang merupakan inisiator gerakan sosial kemasyarakatan yang disebut Canthelan.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]