× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Bayer Indonesia Luncurkan Program Nutrient Gap Initiative Hingga 2030

By Redaksi
Peluncuran Bayer Nutrient Gap Initiative. Dari Kiri ke Kanan : Maya Juwita - Executive Director Indonesian Business Coalition for Women Empowerment; Kinshuk Kunwar - Direktur Bayer Indonesia; dr. M. Fahrizal A. - Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinkes Provinsi DKI Jakarta; Ade Soekadis - Direktur Eksekutif Mercy Corps Indonesia; Raisa Andriana - Musisi. Foto : Istimewa

MajalahCSR.id – Sebagai wujud dari visi Bayer, “Health for All, Hunger for None”, Bayer meluncurkan program Nutrient Gap Initiative di Indonesia untuk memperluas akses  vitamin dan mineral bagi masyarakat rentan. Untuk mengawali inisiatif ini, Bayer akan menjalankan program edukasi selfcare (perawatan kesehatan mandiri) yang meliputi pentingnya nutrisi, pengetahuan tentang anemia dan imunitas tubuh, kebersihan diri dan lingkungan rumah, serta distribusi suplemen kesehatan. Adapun sasarannya adalah masyarakat rentan perkotaan di Penjaringan, Jakarta Utara dan Duri Kosambi, Jakarta Barat. Bayer menunjuk Mercy Corps Indonesia sebagai mitra untuk pelaksanaan program.

Peluncuran program dihadiri Kinshuk Kunwar, Direktur Bayer Indonesia, Eko Novi Ariyanti R.D, Asisten Deputi Partisipasi Lembaga Profesi dan Dunia Usaha – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dr. M. Fahrizal A., Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinkes Provinsi DKI Jakarta, Ade Soekadis, Direktur Eksekutif Mercy Corps Indonesia, dan Raisa Andriana, Musisi.

Program perdana akan berlangsung sepanjang April-September 2021 dalam bentuk pelatihan terkait perawatan kesehatan mandiri, mikronutrisi, anemia, kebersihan dan pencegahan Covid-19 kepada 100 bidan dan 500 kader posyandu,  serta memberikan manfaat bagi 12.500 orang. 

Kemitraan dengan Mercy Corps Indonesia melengkapi upaya Bayer untuk menyediakan akses suplemen mikronutrien bagi ibu hamil ekonomi rentan di Indonesia melalui intervensi, edukasi oleh ahli kesehatan kepada penerima manfaat, serta advokasi melalui aksi kolektif. Selain itu, Bayer menyesuaikan portofolio dan jaringan distribusinya agar vitamin dan mineralnya lebih mudah diakses dan terjangkau bagi masyarakat ekonomi rentan, guna semakin meningkatkan kemampuan perawatan kesehatan mandiri mereka.

Mikronutrisi, kekurangan vitamin dan mineral merupakan masalah kesehatan masyarakat ekonomi rentan, terutama perempuan dan anak-anak. Hampir 50% perempuan muda dan remaja perempuan di negara berkembang tidak mendapat asupan vitamin dan mineral yang memadai dan setidaknya setengah dari anak-anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia menderita kekurangan mikronutrisi, vitamin dan mineral. Kekurangan vitamin dan mineral secara bertahap dari waktu ke waktu dan semakin memburuk akan mengakibatkan dampak kesehatan yang signifikan seumur hidup sehingga pada akhirnya memperburuk siklus kemiskinan.

Kinshuk Kunwar, menyampaikan, program ini merupakan bagian dari  Nutrient Gap Initiative yang menyasar 1 juta perempuan dan bayi di Indonesia per tahunnya hingga 2030. Bayer meluncurkan inisiatif ini secara global untuk memberikan akses vitamin dan mineral penting bagi 50 juta orang kelompok ekonomi rentan di seluruh dunia.

“Kami percaya bahwa memberdayakan perempuan dengan kemampuan perawatan kesehatan mandiri akan memberikan pengaruh dan manfaat bagi diri mereka, anggota keluarganya, dan masyarakat. Selain itu, pada masa pandemi Covid-19, imunitas sangatlah penting,” jelas Kunwar. Melalui rangkaian program ini, Bayer menargetkan pemberdayaan hingga satu juta penerima manfaat di seluruh Indonesia per tahunnya.

Data BPS DKI Jakarta (2020) menyebut, dari jumlah populasi 10,5 juta jiwa, sekitar 3,4% atau 362.000 jiwa tergolong miskin; Jakarta Utara menjadi kota dengan jumlah penduduk miskin tertinggi, dan Jakarta Barat sebagai kota berkepadatan penduduk tertinggi. Penduduk di area dengan tingkat kemiskinan dan kepadatan penduduk yang tinggi sangat berisiko mengalami gangguan kesehatan.

Riset Kesehatan Dasar Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 20183 memperlihatkan bahwa tingkat kesadaran kesehatan masyarakat Indonesia masih rendah, hanya mencapai 20%. Artinya, sekitar mayoritas 80% tidak memiliki pemahaman kesehatan yang memadai.

Sementara itu, dr. Widyastuti dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, mengaku sangat mengapresiasi program Bayer ini. Peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat, menurutnya, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi berbagai pihak, termasuk kalangan usaha.

“Harapan kami, dukungan Bayer di ranah kesehatan melalui pembekalan kemampuan self-care bagi masyarakat ekonomi rentan perkotaan, khususnya perempuan di DKI Jakarta, berjalan melebihi ekspektasi, sehingga dapat dijadikan acuan untuk kesinambungan program di daerah-daerah lainnya dan membantu menurunkan kasus Covid-19 di DKI Jakarta,” ungkapnya.

Terkait peran dunia usaha dalam meningkatkan pengetahuan perempuan mengenai kesehatan, Asisten Deputi Partisipasi Lembaga Profesi dan Dunia Usaha – Kementerian PPPA, Eko Novi Ariyanti R.D. mengatakan, pihaknya sangat menghargai kontribusi dunia usaha seperti Bayer yang memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat, terutama perempuan.

“Dengan membekali perempuan khususnya ibu terkait perawatan kesehatan mandiri tentunya akan berdampak positif bagi kesehatan keluarganya,” sebut Eko.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]